JUBILEUM 150 TAHUN HKBP

JUBILEUM 150 TAHUN HKBP

29 Desember 2008

LOGO TAHUN DIAKONIA HKBP 2009

KETERANGAN LOGO TAHUN DIAKONIA HKBP 2009


1. Domba Putih Memikul Salib Kuning

Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah dengan penuh ketulusan dan keberanian memikul salib untuk menghapus dosa manusia (Yohanes 1:29). Pengorbanan itu akhirnya membuahkan kemuliaan.

2. Tujuh Bulir Padi Kuning

Padi yang menguning adalah lambang kesejahteraan yang penuh kemuliaan. Setiap orang percaya terpanggil untuk mensejahterakan masyarakat dan seluruh ciptaan (Yeremia 29:7)

3. Cawan Merah Perjamuan Kudus

Darah Yesus di kayu salib telah menebus dosa manusia. PengorbananNya menggerakkan setiap orang untuk berbelas kasih kepada sesama. Perjamuan kasih adalah wujud diakonia bagi sesama (Kisah Para Rasul 2:41-47; 4:32-37)

4. Bumi Daratan Hijau dengan Laut Biru

Gereja=Gereja se-Dunia secara bersama mewujudkan Alternative Globalization Addressing People and Earth (AGAPE). Orang percaya bertanggungjawab untuk menyelamatkan bumi dengan memelihara lingkungan, menegakkkan kedamaian dan keadilan di tengah-tengah dunia.

-disain logo; puji handoko aritonang


(gambar logo dan keterangan dikutip dari Buku Panduan Tahun Diakonia HKBP 2009 yang diterbitkan oleh Kantor Pusat HKBP - Pearaja, tarutung)

17 Desember 2008

Rapat Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP (I)


Sesuai dengan agenda kegiatan Kantor Pusat HKBP dan sesuai dengan undangan yang dilayangkan Ephorus HKBP, Pdt. DR. Bonar Napitupu No : 646/D03/XI/2008 tanggal 18 November 2008 kepada para anggota Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP, maka pada tanggal 16-18 Desember 2008 dilaksanakan Rapat Majelis Pekerja Sinode HKBP di Auditorium HKBP Seminarium Sipaholon. Inilah Rapat MPS HKBP yang pertama setelah terlaksananya Sinode Godang HKBP Ke-59 yang berhasil memilih Pimpinan Pusat dan Para Phraeses baru HKBP Periode 2008-2012.


Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan pada Rapat MPS ini sesuai dengan Undangan Ephorus tersebut adalah :

  1. Informasi Pimpinan
  2. Perkenalan
  3. Memahami Tugas MPS sesuai AP
  4. Menetapkan Anggaran dan Program Kerja 2009
  5. Memilih Ketua Badan Usaha


Apa sih Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP itu ?


Menurut AP HKBP 2002 Pasal 18 bahwa Pengertian MPS adalah : rapat yang berugas memikirkan cara melaksanakan Keputusan Sinode Agung. Anggotanya adalah : Para Pimpinan HKBP (5 orang), Semua Phraeses, Ketua STT HKBP, Ketua Balitbang HKBP, Ketua Badan Audit HKBP, Ketua Badan Penyelenggara Pendidikan HKBP, Ketua Rapat Pendeta, Seorang utusan dari Guru Jemaat, Bibelvrow dan Diakones, 2 orang utusan dari masing-masing Distrik (biasanya ideal-nya seorang Pendeta + seorang Sintua).

Periode anggota MPS adalah 4 tahun.


Menurut AP HKBP 2002, pada BAB VII RAPAT DI HKBP, pasal 26 bagian 4 yaitu Rapot di Tingkat Pusat, pada angka 4.2 Rapat Majelis Pekerja Sinode tugas-nya adalah :


  1. Menetapkan Rencana Tahunan dan Anggaran Pendapatan Belanja tahunan HKBP
  2. Memilih Kepala Badan Audit HKBP dan Kepala Badan Usaha HKBP
  3. Menerima dan membicarakan Laporan Badan Audit HKBP
  4. Menerima pertanggungjawaban Badan Usaha HKBP melalui Pimpinan HKBP
  5. Menetapkan peraturan-peraturan yang belum diatur dalam Aturan Peraturan HKBP demi memantapkan pelaksanaan pelayanan-pelayanan di HKBP


pada angka 4.2 d waktunya adalah setahun sekali dan pada angka 4.2 b Pimpinan-nya adalah Ephorus.


Siapakah yang menyusun Rencana Tahunan dan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja HKBP ?


Menurut AP HKBP 2002 BAB IV HKBP UMUM pada pasal 11 tentang Ephorus di angka 1.11, pada pasal 12 tentang Sekretaris Jenderal di angka 1.5, pada pasal 13 tentang Kadep Koinonia di angka 1.2 e, pada pasal 14 tentang Kadep Marturia di angka 1.1 e, pada pasal 15 tentang Kadep Diakonia di angka 1.2 e,…ke-5 (lima) pimpinan HKBP inilah yang menyusun Rencana Tahunan dan Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja yang akan di sampaikan kepada Majelis Pekerja Sinode untuk ditetapkan.


Apakah itu Badan Audit HKBP ?


Menurut AP HKBP pasal 19 pengertian Badan Audit HKBP adalah :

Organ yang mengaudit dan mengevaluasi penggunaan keuangan, kekayaan, dan pelaksanaan program kerja semua unit pelayanan di HKBP

Tugas-nya adalah :


  1. Memeriksa dan mengadakan audit pengelolaan keuangan dan kekayaan di semua organ pelayanan di HKBP
  2. Memeriksa dan mengevaluasi pelaksanaan program kerja semua organ pelayanan di HKBP
  3. Memperisapkan dan membuat laporan berkala pemeriksaan dan evaluasi penggunaan uang, kekayaan, dan proses pelaksanaan program kerja untuk disampaikan kepada pimpinan organ pelayanan bersangkutan
  4. Menyampaikan rekapitulasi hasil audit keuangan HKBP ke setiap jemaat melalui Pimpinan HKBP paling sedikit-nya setahun sekali
  5. Mengawasi dan mengendalikan kekayaan dan keuangan HKBP
  6. Bertanggungjawab kepada Majelis Pekerja Sinode


Kepala Badan Audit HKBP dipilih oleh MPS HKBP dari warga Gereja, dan ditetapkan oleh Pimpinan HKBP dengan surat keputusan. Anggotanya tiga hingga empat orang yang diangkatoleh Pimpinan HKBP dari warga HKBP, dan ditetapkan dengan surat keputusan.


Syarat menjadi Pimpinan dan Anggota Badan Audit HKBP

  • Warga HKBP yang rajn mengikuti kebaktian, setia, dan bersedia mempersembahkan dirinya untuk perkerjaan gereja
  • Warga HKBP yang memiliki kemampuan di bidang pengelolaan dan pengembangan dunia usaha
  • Sehat rohani dan jasmani
  • Belum pernah dikenai sanksi Peraturan Penggembalaan dan Siasat gereja HKBP
  • Berusia paling sedikit-nya 40 tahun, dan setinggi-tingginya 61 tahun.


Ketua Badan Audit HKBP yang lama adalah : St. Drs.Dj.Sihotang, anggotanya adalah :

  1. St. Djalantar Sihombing, SH
  2. Drs. Surung Naibaho
  3. Drs. Pieter Napitupulu


Apakah itu Badan Usaha HKBP ?


Menurut AP HKBP 2002 pasal 20, pengertian Badan Usaha HKBP adalah : Organ yang mengusahakan sumber-sumber dana yang diperlukan HKBP dalam melaksanakan pelayanannya.

Tugas Badan Usaha HKBP adalah :


  1. Memberdayakan asset-asset HKBP supaya dapat menjadi sumber dana bagi HKBP
  2. Mendirikan badan-badan usaha HKBP, atau badan usaha kerja sama dengan warga gereja, atau badan-badan luar negeri, yang dapat menjadi sumber dana bagi HKBP
  3. Mencari dan menghimpun dana dari warga jemaat yang mampu dan mau menyumbang badan-badan usaha HKBP
  4. Mengelola dana yang berasal dari badan-badan usaha HKBP sesuai dengan Aturan Peraturan HKBP
  5. Bertanggungjawab kepada MPS melalui Pimpinan HKBP


Ketua Badan Usaha HKBP dipilih oleh MPS dari tengah-tengah warga HKBP, dan ditetapkan oleh Pimpinan HKBP dengan surat keputusan. Anggotanya 15 hingga 20 orang, yang diangkat oleh Pimpinan HKBP dari antara warga HKBP.


Syarat menjadi Pimpinan dan Anggota Badan Usaha HKBP

· Warga HKBP yang rajn mengikuti kebaktian, setia, dan bersedia mempersembahkan dirinya untuk perkerjaan gereja

· Warga HKBP yang memiliki kemampuan di bidang pengelolaan dan pengembangan dunia usaha

· Sehat rohani dan jasmani

· Belum pernah dikenai sanksi Peraturan Penggembalaan dan Siasat gereja HKBP

· Berusia paling sedikit-nya 35 tahun, dan setinggi-tingginya 61 tahun.


Ketua Badan Usaha HKBP yang lama adalah : Daemoli Siahaan, SH

Anggotanya :

  • Banjar Marpaung
  • Jack Napitupulu
  • Tambos Naiborhu, SH, MSc
  • Sujono Manurung
  • Ir. Arman Panjaitan
  • Maja Hutapea
  • Ir. Panangian Simanungkalit, MSc
  • Rustam Sidabutar, SH, MSc
  • St. Drs. TP. Hutapea
  • St. Raden Pardede
  • Dr. Adler Manurung
  • Ir. Alidin Simanjuntak MBA
  • Ir. Hotasi Nababan, MSc
  • Ny. Luseria Sitorus br. Siagian, BSc
  • Jasman Panjaitan, SH

08 Desember 2008

NATAL : Suatu Renungan


Mengenangkan, Merayakan dan Menghadirkan Kembali Tindakan kasih Allah Dalam Diri Yesus kristus



Masa-masa Adven telah banyak dan mulai dipergunakan orang-orang Kristen untuk merayakan Natal. Perayaan-perayaan Natal yang dibuat oleh instansi pemerintah maupun swasta, sekolah-sekolah, kumpulan-kumpulan marga, bahkan yang berasal dari gereja sendiri.
Mari sejenak kita merenung, sebenar-nya untuk apa kita merayakan Natal? Manfaat apa yang kita ambil? Apa korelasi-nya dengan hidup kita sehari-hari? Apa yang perlu kita sikapi?

Merayakan Natal berarti kita mengenangkan kembali tindakan Allah dalam diri Yesus Kristus.

Yesus Kristus yang meskipun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba. band:Flp 2:6-7.

Kristus merelakan nilai dirinya yang begitu tinggi dan mengambil bagian yang begitu rendah dalam kehidupan manusia, yaitu hamba miskin, seorang awam yang mengandalkan Allah dalam hidupnya. Kiranya peristiwa ini bisa menjadi bahan permenungan untuk mensikapi kehidupan kita secara mendalam. Dalam jaman kita sekarang ini banyak manusia hanya menggembalakan dirinya sendiri, banyak menuntut supaya kepentingannya terpenuhi, tanpa peduli dengan kepentingan mereka yang ada di sekitarnya. Manusia cenderung mau merengkuh harkat diri yang tinggi, bahkan jauh melebihi kodratnya. Mereka men-Tuhankan dirinya dengan segala bentuk aplikasinya, entah benda, waktu, uang, jabatan dan kuasa. Bahkan tidak jarang manusia mengatasnamakan perintah Tuhan melakukan suatu tindakan yang merusak relasi antar manusia atau pun dengan Tuhan sendiri. Maka kiranya hari Natal, hari kelahiran Yesus Kristus, bisa menggugah jiwa kita untuk membangun kembali dunia ini menjadi suatu dunia yang indah, aman dan nyaman untuk dihuni umat manusia.

Merayakan natal juga berarti merayakan tindakan Allah yang mau menyapa, berdialog dengan
manusia dalam kemanusiaannya.

Maka Sang Firman mengambil rupa manusia. Dalam rupa manusia inilah Dia berperan sungguh-sungguh sebagai manusia. Ia lahir dari seorang perempuan, besar dalam suatu keluarga dan masyarakat. Sebagai manusia, hatiNya selalu tergerak saat melihat orang lain menderita. Ia mempunyai rasa belas kasih, iba, mencintai, sedih sebagaimana dimiliki manusia.
Maka bisa dikatakan Yesus sungguh-sungguh profesional dalam menjalankan perutusannya ini.
Pertanyaan reflektif yang bisa kita kemukakan disini adalah, apakah kita sungguh-sungguh sudah menjadi pribadi-pribadi yang menyadari tugas perutusan kita. Apakah kita lebih mementingkan mencari jatah kuasa atas yang lain atau memperhatikan kebutuhan sesama dengan seksama? Apakah kita telah membantu orang-orang di sekitar kita menjadi pribadi-pribadi yang sungguh manusiawi. Atau kita malah menghambat atau bahkan 'membunuh' perkembangan mereka. Kalau kita lanjutkan, akan muncul sederetan pertanyaan.
Kunci pokoknya adalah kalau kita merayakan tindakan Allah yang mau menyapa manusia dalam
kemanusiaannya, apakah kita juga bergembira dan merayakan kemanusiaan kita karena mampu menyapa dan berdialog dengan sesama manusia sebagai manusia?

Merayakan natal juga berarti menghadirkan kembali cinta Allah pada manusia.

Dalam diri Yesus, Allah yang mencintai manusia mau merengkuh kembali manusia dalam pelukan kasihNya. Allah tidak ingin membiarkan umatNya terpisah-pisah dan tercerai berai. Maka perayaan natal selalu mengajak kita untuk menghadirkan cinta Allah dalam suatu gerakan kasih yang timbal balik di antara banyak pribadi demi terwujudnya kesatuan umat manusia sebagai citra Allah.
Semoga di dalam merayakan Natal, kita diinspirasikan oleh makna pengosongan diri Yesus.
Kiranya cinta kasih Yesus mampu diwujudkan di dalam dan melalui diri kita masing-masing, bagi kepentingan orang banyak.

07 Desember 2008

Cerita Natal : "KEKAYAAN, KESUKSESAN DAN KASIH SAYANG"


Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.


Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".


Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.


Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".


Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.


Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”


Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”


Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita." Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang."


Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita."


Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini." Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”


Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."

ADVENT : MARPANGALAHO NA TURE MANAGAM ARI NI TUHAN I


ADVEN adalah kerinduan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Semakin lama kerinduan kita itu semakin membara sampai saat menjelang NATAL dimana Allah datang menjumpai hidup kita dalam wujud nyata sama seperti kita : dalam wujud manusia. Bagaimana kita memasuki masa ADVEN ?


Film Funeral March (2001) menceritakan siatuasi dari dua tempat berbeda, dari ruang penitipan jenazah dan dari ruang sebuah rumah. Duan adalah seorang pemilik ruang penitipan jenazah warisan orang tuanya. Ia menawarkan jasa menemani pribadi-pribadi yang sedang menjemput kematiannya sehingga mereka dapat meninggal dunia dengan bahagia. Setelah bertahun-tahun bekerja di situ, ia membuat sebuah simpul kecil dalam hidupnya,“Kalau waktu hidupmu hanya menyisakan hari-hari terakhir, sisihkan waktu-waktu paling berharga itu untuk memberi kehidupan bagi orang-orang yang engkau kasihi.”


Yee adalah gadis rupawan yang sedang bergumul dengan penyakit yang pelan-pelan menggerogoti hari-hari kehidupannya. Ia sedemikian takut dengan hari-hari hidupnya sehingga ia membenci kehidupan di sekitarnya. Orang-orang seperti berharap ia segera menjemput kematiannya. Ia merasa kehidupannya hanya menyisakan beban. Di rumah ia sedemikian sinis terhadap ibu tirinya karena ia menganggap ibu tirinya telah merebut cinta terakhirnya, ayahnya. Tak mengherankan salah satu permintaan terakhirnya adalah agar ibu tirinya tidak diperkenankan hadir dalam ibadat kematiannya. Duan, sahabat barunya, justru menawarkan usulan sebaliknya. Ia meminta kliennya untuk memotret wajah tersenyum ibunya dan menempelkan di semua ruang rumahnya terutama di kamar pribadinya.


Dua pribadi ini kemudian saling berkunjung ke tempat kehidupan mereka tinggal. Duan sangat terkesan dengan kehadiran pribadi-pribadi terdekat di rumah Yee yang mendukung agar hidupnya tidak berhenti karena penyakit yang dideritanya. Demikian pula Yee sangat terkesan dengan Duan yang membuat peristiwa kematian orang-orang yang ditemaninya menjadi kisah kehidupan. Ia sendiri mengalami sentuhan tangannya yang menghidupkan. Duan berlari-lari menggendong tubuh Yee yang tiba-tiba kesehatannya menurun drastis ke rumah sakit agar kehidupan sahabat barunya itu dapat diselamatkan. Bagi Yee itulah pemberian terbaik dari seorang sahabat: menggendong kehidupan orang terkasih yang sedang mengalami kejatuhan dalam hidupnya. Gendongan kehidupan itu justru hadir dari Duan yang juga sedang menjemput hari-hari terakhir hidupnya. Kata-kata Duan itu bergema saat Yee menemani Duan mengatupkan mata kehidupannya, “Kalau waktu hidupmu hanya menyisakan hari-hari terakhir, sisihkan waktu-waktu paling berharga itu untuk memberi kehidupan bagi orang-orang yang engkau kasihi.”


Film yang bertutur menjemput kehidupan itu dapat membantu kita memasuki masa Adven. Kita dapat memandang masa Adven dari sisi kita dan dari sisi Allah. Adven dari sisi kita adalah menjemput Allah yang hadir dalam hidup kita. Dari sisi Allah Adven adalah menjemput manusia yang hadir kehadirat-Nya. Dimana Anda hendak berjumpa Allah yang menjemput hidup kita?


Puisi narratif Nyanyian Angsa (Swan Song) karya sastrawan Indonesia terkemuka W.S. Rendra bertutur bagaimana Allah menjumpai hidup kita. Maria Zaitun adalah potret diri kita. Ia rindu berjumpa Allah dalam keadaan tubuh dan jiwa yang lelah, rusak, keriput. Hari-hari terakhir hidupnya seolah hanya menyisakan penyakit justru saat ia harus berjumpa dengan Allah. Yesus hadir sebagai pribadi elok yang tak menghindari perjumpaan dengan Maria Zaitun, malahan menyongsongnya. Perjumpaan sedemikian pribadi dan digambarkan Rendara dalam relasi sepasang kekasih yang memadu cinta. Rendra mengkritik hidup beragama yang diwakili karakter malaikat Firdaus berwajah bengis dengan pedangnya yang siap mengusir kalau Maria Zaitun mencoba mendekati gerbang Firdaus. Pastur mengusir Maria Zaitun dari pintu gereja dan menyebutnya sebagai macan betina karena dituduh menghujat nama Allah. Hidup beragama yang suka membuat vonis terhadap hidup manusia yang hendak berjumpa dengan Allah adalah korup!


Kita pun sering memasuki masa Adven dalam keadaaan seperti Maria Zaitun. Lelah. Rusak. Keriput. Tuhan berkenan menjumpai kita sebagaimana adanya. Ia tidak mensyaratkan apa pun untuk dapat berjumpa dengannya. Kita diundang hadir dengan diri kita sebagaimana adanya. Tuhan tidak berjumpa untuk memvonis hidup kita. Sebagaimana dituturkan penyair Rendra, Tuhan hadir kepada kita dalam sosok seorang kekasih, pengantin. Ia menyentuh kerinduan terdalam hidup kita. Maria Zaitun rindu Tuhan bersama dia dalam hidupnya yang tinggal menghitung hari-hari terakhir itu. Apa kerinduan Anda sekarang ini yang Anda ingin Tuhan menyentuhnya? Tuhan dalam masa Adven hadir sebagai Pribadi yang mengetuk pintu hati kita. Tuhan hanya bisa masuk dalam pintu hati kita kalau kita tidak menguncinya dari dalam.


Dalam komunitas kristiani, kerinduan manusia untuk berjumpa dengan Allah itu digambarkan dengan simbol lilin yang setiap minggu bertambah nyalanya setiap minggu. Kerinduan kita pada Allah diharapkan semakin menyala semakin kita mendekati Natal. Perjumpaan dengan Allah yang hadir itu seringkali dilalui dengan peziarahan menempuh jalan gelap. Peziarahan itu juga sering digambarkan dengan kerinduan pasangan suami-istri menanti kelahiran bayi mereka. Natal adalah saat istimewa Allah hadir dalam hidup kita. Semoga kita berjumpa dengan Allah yang menjemput kita. Selamat ADVEN!

11 November 2008

GAMBAR KEGIATAN PESTA DANA RESSORT HKBP SIPIROK
































































































































































































































HKBP SIPIROK _ RESSORT SIPIROK
Uluan Huria-Pendeta Ressort Sipirok : Pdt. Leritio Ariati Br. Panjaitan, STh
Pelaksana Guru Huria/ : CPdt. P. Pasaribu, STh
Pendeta Praktek (LPPI)
Sekretaris Bendahara Huria : St. Bakhtiar Damanik, SPd
Ka. Kategorial Koinonia : St. Henry Irawan Sianturi, SKM
Ka. Kategorial Marturia : St. Bakhtiar Damanik
Ka. Kategorial Diakonia : St. Pagar Tambunan
Ka. Parhalado Parartaon : St. Pagar Tambunan
Anggota Parhalado Parartaon : St. Faisal harahap
Calon Sintua (Learning) : Cln St. P. Siagian
Guru Sekolah Minggu : Francis Simatupang (Bpk Monica)
Ka. Punguan Ama : St. B.J. Simanjuntak
Ka. Punguan Ina : Ny. A.G Hutabarat-br. Sihombing (Mak Bram)
Ka. NHKBP : Bram Hutabarat
Ka Koor Gabungan : Ny. Sitanggang br. Simanjuntak (Mak Nelly)

PESTA DANA RESSORT HKBP SIPIROK


Pada Kebaktian Minggu Ke-25 Dung Trinitatis, tanggal 9 November 2008, HKBP Ressort Sipirok-Distrik I Tapsel-Sumbar melaksanakan Pesta Dana Ressort yang ke-4 (terakhir) untuk tahun 2008. Kebaktian dipimpin oleh Pendeta HKBP Ressort Sipirok, Pdt. Leritio Ariati Panjaitan, STh dan Paragenda adalah St. Henry Irawan Sianturi, SKM. Kebaktian Minggu dan Pesta Dana Ressort diikuti oleh utusan-utusan dari seluruh cabang (pagaran) HKBP Ress. Sipirok a.l : HKBP Sipirok (sabungan), HKBP Arse, HKBP Sipogu, HKBP Lancat, HKBP Somba Debata, HKBP Padang Mandailing, HKBP Muaratolang, HKBP Bulu Mario, HKBP Pargodungan, HKBP Gunung Tua, HKBP Binanga, HKBP Batang Pane dan HKBP Lobu Hatonga. Kebaktian diisi dengan koor-koor oleh masing-masing Huria. Pendeta Ressort dalam Khotbah-nya yang diangkat dari Joh.4:21-24, mengatakan bahwa Roh Kudus memampukan setiap orang percaya untuk berbuat yang terbaik dan mau untuk intropeksi diri di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan karena kelebihan seseorang.
Setelah kebaktian dilanjutkan dengan Pesta Dana Ressort yang meliputi kegiatan Lelang dan makan bersama. Tuhan memberkati.

08 November 2008

IBADAH MEMBERANGKATKAN CALEG WILAYAH TAPANULI DI PEARAJA ; BAGAIMANA SIKAP POLITIK ORANG KRISTEN ?












Hari rabu, tanggal 5 November yang lalu diadakan Ibadah memberangkatkan para calon legislatif warga gereja di HKBP Pearaja yang terletak di lokasi Kantor Pusat HKBP. Kata-kata bimbingan dan pesan pastoral disampaikan oleh Ephorus HKBP, Pdt. DR. Bonar Napitupulu : “Raihlah Kursi Legislatif Sesuai Dengan Doktrin Gereja dan Firman Tuhan”. Ibadah yang berjalan kurang lebih satu setengah jam ini khusus diperuntukkan bagi calon legislatif di wilayah Tapanuli (Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan dan Kota Sibolga) dan dari seluruh daerah pemilihan tingkat I, II dan Pusat.

Kita semua tahu bahwa gonjang-ganjing menjelang Pemilu 2009 sudah terasakan mulai dari sekarang. Tidak ketinggalan orang-orang Kristen berpartisipasi membentuk partai dan maju sebagai calon anggota legislatif untuk dipilih.

Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi dengan suasana politik kita 2009. Di sini saya tidak mau meramal, tetapi mau mempertanyakan bagaimana sikap politik orang Kristen. Apakah mau ramai-ramai mendukung partai kristen? Apakah tetap memilih partai-partai nasionalis? Apakah tidak peduli dalam arti menjadi anggota golput? Asal tahu saja ketika Anda mengatakan "Saya tidak mau berpolitik!" sebenarnya Anda sudah berpolitik. Pertanyaan selanjutnya, sikap politik seperti apakah yang dianut oleh orang Kristen dalam menatap tahun 2009?

Kita seringkali mengandalkan Roma 13 untuk membuat posisi berpolitik. Sayangnya kita juga sering lupa membenturkan Roma 13 dengan Wahyu 13. Pemerintah merupakan hamba Allah, tetapi juga dapat menjadi monster yang menakutkan.

Sebenarnya ada banyak contoh di Alkitab bagaimana menentukan sikap berpolitik. Bapak/Ibu, saudara-saudari semua pasti sudah mengenal Yeremia, nabi besar Perjanjian Lama setelah Yesaya? Kalau kita menelusuri Kitab Yeremia dan berhenti di pasal 7 kita akan melihat tentang firman yang "datang" kepada Yeremia dari TUHAN (ay. 1).

Yeremia konon disuruh TUHAN nongkrong di depan gerbang Bait Suci guna berkampanye perlunya perbaikan langkah-langkah dan perbuatan (ay. 30). Bukan cuma berani, perkataan Yeremia ini juga benar-benar
sangat serius, misalnya "janganlah percaya pada perkataan dusta yang berbunyi ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN" (ay. 4).
Bayangkanlah kalau Anda pada hari Minggu berdiri di depan pintu HKBP dan berteriak-teriak kepada para pengunjung "Ini bukan gereja, bukan gereja, bukan gereja! Ini dusta! Pulang saja kalian!" Bagaimana kalau Anda mencobanya juga di depan Istana Merdeka?

Kita sudah tahu bahwa pendirian Bait Suci di Yerusalem merupakan simbol rumah TUHAN yang ada di surga. Bait Suci juga simbol kekuatan Israel. Terbukti sudah ratusan tahun sebelumnya musuh-musuh yang
mengepung Israel berhasil dipukul mundur. Kalau TUHAN di pihak kita, siapakah lawan kita? Tidak ada! Demikian penggalan lagu sekolah minggu "Aku Pahlawan Kecil". Kalau tempo doeloe begitu, mestinya sekarang juga sama. Demikianlah "teologi" orang Israel tempo dulu yang kita sebut dengan "teologi kemenangan". Ternyata Yeremia tidak setuju dengan "teologi" itu. Bait Suci sudah dijadikan jimat.

TUHAN melihat bahwa ibadah mereka hanyalah kedok guna menutupi kejahatan. Mereka tidak melaksanakan keadilan. Semestinya kalau berteologi haruslah mendorong pelaksanaan keadilan (ay. 5), tidak menindas dan menumbalkan orang yang tidak bersalah (ay. 6), tidak berselingkuh dengan ilah lain (juga ay. 6), menjalankan Taurat secara murni dan konsekuen (ay. 9) . Teologi kemenangan telah membuat orang lupa diri dan munafik. Itulah sebabnya TUHAN lewat Yeremia mendakwa umat telah menjadikan Bait Suci tempat sarang penyamun (ay. 11). Warga Yerusalem tampak seperti kuburan. Tampakan luar begitu religius, namun tidak bermoral dalam arti perbuatan moral. Teologi kemenangan hanya bicara soal moral tanpa peduli tindakan moral. Suatu teologi yang hanya "Kumenang, kumenang bersama Kristus Tuhan". Yeremia mengganggu stabilitas politik Raja Yoyakim. Kalau kita melihat kiprah Yeremia sepertinya ia benar-benar anti-Bait Suci. Sebenarnya Yeremia anti-self-worship. Pemasalahan fundamental yang bersifat horisontal seperti keadilan, pengendalian dan pembatasan kekuasaan, penghargaan terhadap kehidupan sebagai anugerah TUHAN, serta perhatian kepada mereka yang lemah dan tidak berdaya tidak diperhitungkan. Kita tahu sendiri kisah Yeremia selanjutnya.

Pemberitaan model khotbah dalam rangka self-worship tidak akan mempunyai daya sengat. Memang saya akui pemberitaan yang tidak gegap gempita dan tidak berapi-api biasanya kurang diminati oleh warga jemaat. Ada jemaat yang berkata, "Pendeta anu khotbah-nya sangat kritis lho!" Apanya yang kritis? Wong biasanya isu-isu yang "dikritik" adalah harmless. Misalnya, merokok itu dosa seperti yang sering dikatakan oleh para pendeta. Penyelewengan pernikahan, evolusionisme, dan entah apa lagi yang sama sekali tidak berisiko secara politis. Pemberitaan yang mengarah kepada Dia Yang Suci akan menunjuk kepada dosa-dosa struktural. Ini seringkali tidak disadari oleh gereja agar memperhatikan sisi horisontal pelayanan termasuk mendorong warganya berpolitik dengan lebih sungguh-sungguh.

Selanjutnya mari kita baca Markus 12:13-17 (bdk. Mat. 22:15-22). Kemudian saya mencoba berimajinasi bahwa makna jawaban Yesus tidaklah seperti yang Anda duga. Dalam perikop ini ada beberapa unsur yang ditampilkan, yaitu (1) orang Farisi dan pendukung Herodes yang Yesus sebut orang munafik, (2) Yesus sebagai orang jujur, mengajar dengan jujur, dan dengan segala kejujuran, dan (3) koin Dinar yang ada gambar dan tulisan Kaisar (Roma). Sebenarnya Yesus tidak setuju jika membayar pajak diartikan untuk menunjukkan pengakuan terhadap kekuasaan kaisar. Dengan bahasa masa kini, barangkali Yesus akan bertanya,"Gambar siapa tuh?". Jawab,"Gambar SBY!" Kalau begitu, berikan saja kepada SBY, kata Yesus. Sebenarnya Yesus mau menyindir para pejabat pemerintah yang mencari makan dari kekuasaan Presiden dengan menindas bangsa sendiri, tetapi tidak berani melawan monster-monster penguasa yang menyeramkan itu.

Saya tidak tahu apa di balik keberanian saudara-saudara kita ini mencalonkan diri menjadi calon anggota legislatif. Mungkin mereka berkeinginan apabila terpilih untuk menata negara ini lebih baik lagi. Andaikata ia benar-benar terpilih menjadi anggota Dewan, apakah ia mewujudkan tekatnya itu guna memperbaiki kinerja pemerintah dan membawa kemajuan bagi negara dan secara khusus bagi daerahnya masing-masing? Ah, jangan-jangan nanti mereka justru lupa dengan janji-janji kampanye!

Lalu bagaimana dong sebagai orang Kristen?

Orang Kristen yang gigih memperjuangkan kepentingan orang kecil dan tak berdaya, melayani tanpa pamrih, dan selalu berani menyuarakan kebenaran pasti akan disukai rakyat.

05 November 2008

ADMINISTRASI GEREJA : MANA YANG LEBIH PENTING, INDIVIDU ATAU (ORGANISASI) GEREJA?









Sekarang ini banyak organisasi Gereja yang lahir, bertumbuh dan berkembang di Indonesia. HKBP sebagai organisasi Gereja yang boleh dianggap yang tertua di Indonesia, pada awal-nya bukanlah suatu organisasi yang secara langsung telah tertata dengan baik tertutama segi administrasi-nya tetapi semakin lama menuju kepada system terutama administrasi Gereja yang jelas dan terstruktur. Apakah administrasi (organisasi) Gereja harus dijalankan dengan professional seperti administrasi perusahaan yang mencari keuntungan? Bagaimana prinsip administrasi Gereja agar berjalan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki ?

Sekalipun berbeda dengan administrasi perusahaan, namun prinsip dasar penyelenggaraan administrasi Gereja sebenarnya tidak jauh berbeda. Administrasi adalah proses penyelenggaraan kegiatan untuk mewujudkan rencana/keputusan yang telah dibuat agar menjadi kenyataan, dengan cara mengatur kerja dan mengarahkan orang-orang yang melaksanakannya. Namun, di samping persamaannya, ada juga perbedaan mendasar antara administrasi perusahaan dan administrasi Gereja yang perlu disadari. Usaha administrasi Gereja tidak diarahkan untuk tujuan mencari keuntungan materi, tetapi untuk tujuan yang rohani. Penyelenggaraannya dilakukan tidak dengan prinsip duniawi tapi dengan prinsip kasih; namun demikian tidak berarti administrasi Gereja dilaksanakan dengan cara seadanya yang tidak profesional.

Pengertian yang salah tentang administrasi Gereja dapat mengakibatkan hasil pelayanan yang asal-asalan. Pelayanan yang benar harus menuntut standard yang profesional, karena apa yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, dan untuk suatu hasil yang bersifat kekal. Jika untuk usaha duniawi yang fana saja manusia mau melakukannya dengan baik, lebih- lebih lagi untuk hal yang rohani, untuk Tuhan. Kita harus melakukannya dengan lebih baik lagi.

A. KOMPONEN ADMINISTRASI

Komponen-komponen umum yang termasuk dalam administrasi yang efektif adalah:

1. Planning/Rencana/Program Kerja
Bagian penting dalam penyelenggaraan administrasi adalah harus ada program kerja yang dibuat sesuai dengan keputusan rapat tentang apa yang akan menjadi tujuan untuk dikerjakan (untuk jangka waktu tertentu).

2. Organisasi
Perlu ada pengaturan otoritas dan tugas sehingga pekerjaan bisa dilaksanakan dengan tepat oleh orang yang tepat dengan cara yang bertanggungjawab.

3. Pendelegasian
Pembagian tugas harus dilakukan mengingat bahwa setiap orang mempunyai keahlian/ketrampilan yang berbeda dengan orang lain.

4. Personel/Staf
Harus ada cukup orang untuk melakukan tugas-tugas yang sudah direncanakan, oleh karena itu perlu ada pertanggungjawaban dari masing-masing orang yang terlibat didalamnya

5. Koordinasi
Tugas-tugas yang tidak dikoordinasi dengan baik akan menyebabkan pekerjaan yang tumpang tindih sehingga menghasilkan kerja yang tidak efektif dan efisien.

6. Pelaporan
Pertanggungjawaban dari setiap bagian perlu dilakukan agar dapat diketahui hasil yang dicapai dan kegagalan-kegagalan yang terjadi sehingga dapat diusahakan perbaikan-perbaikan yang perlu diadakan di masa yang akan datang.

7. Budget
Memprediksi jumlah keuangan yang dibutuhkan, dan yang mampu didapatkan, dan yang mampu dipertanggungjawabkan adalah sangat penting untuk menentukan seberapa jauh program kerja dapat dilaksanakan supaya tidak macet di tengah jalan.

B. PRINSIP-PRINSIP ADMINISTRASI GEREJA

Sekalipun administrasi penting untuk menjadi sarana kesuksesan penyelenggaraan pelayanan di Gereja, namun perlu diingat bahwa administrasi bukanlah segala-galanya. Gereja yang menjadikan administrasi sebagai tujuan utama akan menjadikan pelayanan tersebut perlahan-lahan kehilangan kegairahan dan akhirnya akan mati. Oleh karena itu kita harus ingat bahwa kerapian sistem administrasi tidak sama dengan kedewasaan rohani. Banyak Gereja yang administrasinya rapi tapi tidak ada semangat; kehidupan rohani di dalamnya mati. Tapi sebaliknya ada Gereja yang administrasinya kacau tapi semangatnya menyala-nyala. Hal seperti ini akan membuang banyak tenaga karena tidak efisien, sehingga lama-lama pelaksananya akan mati kecapaian sebelum tugas selesai dijalankan. Pelayan di Gereja yang bijaksana harus bisa memberi keseimbangan antara keduanya.

Menurut Robert K. Bower dalam buku-nya : "Administering Christian Education" yang berisi beberapa prinsip administrasi gereja yang perlu diingat agar berjalan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

1. Orang lebih penting daripada organisasi.
Prinsip ini bukan hanya mengikuti prinsip "demokrasi" yang diambil dari budaya barat, tetapi prinsip ini sebenarnya adalah prinsip yang diberikan oleh Alkitab sendiri [jauh sebelum budaya barat terbentuk]. Individu manusia lebih penting bagi Allah daripada organisasi (gereja). Kita percaya bahwa gereja Yesus Kristus saat ini dapat menjadi Gereja dalam pengertian yang sesungguhnya jika gereja mengangkat kepentingan individu- individu yang ada di dalamnya di atas organisasi gereja itu sendiri. Dengan kata lain, kita tidak boleh mengorbankan kepentingan individu hanya untuk mengutamakan efisisensi organisasi gereja.

2. Setiap orang dalam Tubuh Kristus memiliki fungsi atau tugas pelayanan untuk dijalankannya.
Dalam 1 Korintus 12, Rasul Paulus dengan jelas menyatakan bahwa seluruh anggota tubuh Kristus saling tergantung dan merupakan individu yang penting dengan fungsinya masing-masing. Tanggung jawab administrator dengan demikian adalah menemukan tempat- tempat yang tepat untuk setiap jemaat dapat melayani sehingga dapat meningkatkan keefektifan dan misi Allah.

3. Tujuan utama pemimpin di gereja adalah melayani dan bukan dilayani.
Kristus telah memberikan teladan bagi siapapun yang ingin belajar kepemimpinan di gereja. Yesus berfirman bahwa, "barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat. 20:27). Yesus tidak hanya mengajarkan prinsip ini tetapi juga memberikan teladan lewat kehidupanNya dan pelayananNya. Paulus mengungkapkan bahwa dirinya adalah pelayan Yesus Kristus (Rom. 1:1) dan sebagai pelayan umat gereja Korintus (2 Kor. 4:5). Pemimpin Kristen dengan demikian harus mengembangkan citra bukan sebagai diktator melainkan sebagai pelayan.

4. Pemimpin harus rela mengemban tanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan jalannya program.
Meskipun nampaknya sangat bertentangan, pemimpin harus mempunyai sikap sebagai seorang yang melayani tetapi pada saat yang sama ia juga sebagai seorang yang mau mengemban tanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan aktivitas para personil yang ditunjuknya. Demikian juga Kristus selain melayani, Ia juga memberikan perintah dan mengirim murid-murid-Nya untuk mengadakan penginjilan ke seluruh penjuru dunia. Mengatur dan memimpin menjadi hal yang penting dalam membimbing, mengarahkan dan menolong orang lain dalam pelayanannya bagi Kristus. Ini adalah tugas pemimpin dalam memimpin suatu program yang dikerjakan dengan cara yang mendidik, bukan dengan metode diktator maupun menguasai.

5. Mendefinisikan organisasi dengan jelas adalah penting.
Rasul Paulus mengungkapkan bahwa dalam gereja, ada pelayan- pelayan Tuhan yang ditunjuk untuk menjalankan tugas-tugas khusus di gereja. Uskup dan diakon, demikian pula dengan rasul, penginjil, dan nabi, dipersiapkan untuk pelayanan-pelayanan khusus. Semua tugas pelayanan yang mereka emban harus dijalankan dengan sopan dan teratur (1 Kor. 14:40). Alkitab memang tidak memberikan kepada kita pengaturan organisasi gereja yang lengkap. Namun demikian yang jelas kita harus mengikuti peraturan- peraturan umum yang menjadi bagian integral gereja seperti yang diberikan dalam kitab-kita Perjanjian Baru. Sedangkan yang lain yang menjadi pelengkap dapat diatur sesuai dengan kebutuhan yang ada.

6. Setiap posisi dalam pelayanan di gereja adalah penting.
Karena terpaksa, kita menyebut beberapa posisi dalam organisasi gereja sebagai "lebih tinggi" dan "lebih rendah". Hal ini bukan berarti mengatakan bahwa di mata Tuhan suatu pelayanan atau posisi tertentu lebih penting dari pada yang lain. Seperti yang diungkapkan Rasul Paulus:"...anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus" (1 Kor. 12:22,23). Selain itu gereja juga membuat perbedaan dalam pemberian tugas. Misalnya saja, Jetro, ayah mertua Musa mengungkapkan akan adanya perkara-perkara kecil dan perkara-perkara besar dimana perkara-perkara besar tersebut akan diadili oleh Musa sendiri (Kel. 18:22). Demikian juga para Rasul membedakan antara tugas-tugas penting dan tugas- tugas yang kurang penting (Kej. 6:1-4). Dengan demikian, jenis- jenis kerja adminsitrasi memang perlu dibedakan, tetapi yang lebih penting lagi adalah kesetiaan seseorang akan tugasnya.