JUBILEUM 150 TAHUN HKBP

JUBILEUM 150 TAHUN HKBP

23 Oktober 2008

GEREJA HKBP SIPIROK, 1861 ATAU 1864?


Dari berbagai sumber; buku-buku yang pernah terbit dan dituliskan oleh narasumber yang layak dipercaya, cerita-cerita, surat-surat maupun literature lain yang ada selama ini, banyak terjadi kesimpang siuran mengenai “kapan berdiri-nya Gereja HKBP Sipirok. Dalam Almanak HKBP di bagian “Angka Taon Siingoton” disebutkan bahwa pada Bulan Mei Tahun 1864, berdiri Gereja di Sipirok (jongjong Gareja di Sipirok).

Sebenarnya, apakah Gereja di Sipirok berdiri pada tahun 1864 ataukah pada tahun 1861 ?


Untuk itu saya mencoba untuk “mendalami-nya” walau dengan sumber maupun literature yang terbatas yang saya miliki, dikarenakan ada beberapa bagian di Gedung Gereja HKBP Sipirok dan sekitarnya yang senantiasa membuat saya tertantang untuk menelusuri-nya, dan juga akibat kesimpang-siuran yang terjadi selama ini, antara lain :


  • Tulisan model Corsiva dalam Bahasa batak di ambang pintu unit utama bangunan (yang berbentuk melengkung) :

ALE JAHUWA

HUHAHOLONGIDO HAJONJONGONNI BAGASMU Ps.26.8

GAREDJA JUBILEUM HKBP SIPIROK

100 TAON. 7 OKT, 1861-1961


  • Tulisan pada lempengan marmer di bagian dasar sisi depan Tugu yang berdiri pada bagian timur gereja (di halaman gereja) :

7 Oct 1861/1936

GODANG DO NA BINAEN

NI JAHOWA TOE HITA

ASA DJOP MA ROHANTA

PSALM 126.3


Dari kedua-nya seolah-olah bahwa Gedung Gereja HKBP Sipirok, memang didirikan pada tahun 1861, dikarenakan ada semacam peringatan 100 tahun (jubileum=ulang tahun, biasanya kelipatan 50) pada ambang pintu masuk dan tugu peringatan 75 tahun pada tahun 1936.


HASIL PENDALAMAN


Dari Buku Sejarah HKBP yang pernah terbit pada tahun 1961, salah satu penulis di dalamnya adalah Sutan Kali Bonar B.A : Permulaan dan Perkembangan HKBP, disusun dari Buku Ephorus Dr. J. Sihombing : “Sedjarah ni HKBP”, dituliskan di hal. 49 : “Pada Bulan Mei 1864 berdirilah geredja di Sipirok jang merupakan geredja pertama diseluruh Tanah Batak. Pada hari Pesta hari lahir Tuhan Jesus pada tahun itu dibaptiskanlah tiga orang Kristen jang pertama di Sipirok, jakni Thomas, Pilippus dan Johannes, masing-masing berumur 17, 15 dan 12 tahun.”

Dari Buku Barita Ni D. Theol L. Nommensen : Parsorion dohot na niula na, terbitan Penerbit Prima Anugerah Medan, (tidak disebutkan siapa penulisnya) dituliskan di hal. 55 : Ianggo di Sipirok dipauli Tuan Klammer do tongon di tingki i gareja na marpalaspalas jala suman-suman ni jambe di punsuna mardongan silang di atas ni gareja i. Tung longang do roha ni halak Angkola mamereng i, jadi jotjot dipabotohon Tuan Klammer atusan ni palaspalas, jambe dohot silang i tu halak angka na ro manungkun lapatan ni i. “Doshon tudutudu do palaspalas i, paboa di ginjang do sambulonta, disi paradiananta, anggo di tano on di parungkilon dope hita; jala sunggulon ni sumansuman ni jambe i do hita asa dungo hita, songon jambe na mandungoi jolma manogotna i, unang tasoadahon Tuhan hinaporseaanta i di ulaonta, hatanta manang di parangenta. Ia silang i, i do patandahon haporusanta jala haluaonta sian dosa dohot nasa na manggaori hita, ala marhite-hite Jesus na tarsilang i do dapot dalan haluaon hasintongan dohot hangoluan.”

Di tingki i pe tardidi 3 halak parjolo, patumonaan ni ulaon Mission di Sipirok, i ma si Tomas dohot si Pilipus, duansa marumur 17 taon dohot si Johannes na marumur 12 taon.


Kemudian timbul pertanyaan di dalam benak saya, apakah gereja yang dimaksud adalah yang terletak di Sipirok (kota) atau di Bungabondar (yang juga merupakan wilayah Kec. Sipirok-sekarang gedung gereja tersebut telah menjadi GKPA Bungabondar).

Tapi dari tulisan kedua-nya jelas menyebutkan bahwa pada tahun 1864 –lah berdiri gereja di Sipirok, bukan pada tahun 1861, seperti yang dituliskan oleh Balai Arkeologi Medan-Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2004 dalam “Berita Penelitian Arkeologi” mereka dengan Judul : Arkeologi Perbukitan di Bagian BaratLaut dan Selatan Padanglawas, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Disitu dituliskan bahwa gedung gereja itu didirikan pada tahun 1858 dan diresmikan pada tahun 1861 (tidak ada literature disitu yang menyebutkan dasar mereka menyatakan demikian).

Tapi yang menguatkan pikiran saya adalah bahwa Gedung Gereja yang dimaksud (yang didirikan pada tahun 1864) adalah yang terletak di Sipirok yaitu di Jl. Rumah Sakit – Desa Banjartoba, Kec. Sipirok, diatas bidang lahan seluas sekitar 7000 m².


Mengapa saya katakan demikian ?


Masih pada hal. 49 tulisan Sutan Kali Bonar B.A, selanjutnya dituliskan : “Kemudian Pendeta Klammer diganti oleh Pendeta Staudie dari Pangaloan. Tetapi Pendeta Staudie kena penjakit disentri jang membawa dia pada kematian. dan dikebumikan di Sipirok. Datanglah Pendeta Heienbrock jang mengadjar pemuda-pemuda membunjikan trompet dan musik tiup lainnja. Tetapi karena diserang penjakit, Pendeta Heienbrock kembali ke Eropah. Pendeta Hansteinlah dari Sipahutar menggantikannja di Sipirok. Tuhan memberkati pekerjaan Pendeta Hanstein dan bertambah banjaklah orang-orang parbegu jang masuk dalam Agama Kristen.”


Kemudian, apa hubungan-nya dengan Gereja HKBP Sipirok ?


Pada bagian tenggara bangunan Gereja terdapat beberapa makam yang cukup tua. Makam-makanm tersebut berbentuk persegi panjang berbahan batu/bata dan semen. Sebagian masih memiliki tanda berbentuk Salib besi yang ditempatkan pada bagian kepala, ada juga yang memiliki cungkup. Pada nisan makam-makam tersebut terdapat tulisan berhuruf latin dalam Bahasa Belanda dan Aksara Batak yang menyebutkan nama orang (tokoh) yang dikuburkan, usia pada saat meninggal, serta ayat-ayat Alkitab. Nah…yang menghubungkan pernyataan saya diatas bahwa memang yang dimaksud dengan Tahun 1864 berdiri Gereja di Sipirok, adalah Gedung Gereja yang terletak di Jl. Rumah sakit-Desa Banjartoba, Kec. Sipirok adalah 2 makam yang memuat pertulisan dalam bahasa batak :


Dison maradian

Magdalena

Hanstein

sorang 28.4.1891

kehe 29.12.1891

Christus do

hangoluanku djadi

marlabo au di

hamatean

Phil.1 v 21


Dan


Dison maradian

Maria Hanstein

Sorang 7.7.88

Kehe 31.1.89

Tapi pinudji ma Debata

Na tongtong mangalehen

Hamonangan di hami

Di bagasan Christus

2 Kor. 2, 14


Saya berkesimpulan bahwa kedua makam ini adalah makam dari anak-anak Pendeta Hanstein yang menggantikan Pendeta Heienbrock, masing-masing meninggal pada saat masih berumur 6 bulan (Maria Heinstein) dan 8 bulan (Magdalena Heinstein).

Kemudian juga ada satu makam, yang menurut saya adalah makam dari salah satu orang yang pertama dibaptis di Gereja Sipirok pada saat perayaan Natal tahun 1864, yaitu Thomas . Dituliskan pada makam tersebut,


Dison Maradian

Th. Mangaradja Naposo

Tardidi di ari 24.12.1864

Monding di ari 3.10.1906

Demoerna ± 56 Thn.


Kemudian satu makam tua lagi, dengan tulisan :


Dison maradian

  1. Cornelia NST.

Monding di ari 19.7.1928

Marumur ± 78 Tahun


Kalau yang ini saya tidak dapat menarik kesimpulan, apakah juga makam dari salah satu orang yang pertama di Baptis di Gereja Sipirok (dengan nama asli, bukan nama baptis).

Pada alinea berikutnya, tulisan Sutan Kali Bonar B.A, disebutkan bahwa : ”Pada tanggal 26 Agustus 1868 berdirilah geredja di Bungabondar. Datang pula seorang pendeta lagi membantu Pendeta Betz disana, jakni Pendeta Schiilz. Dalam waktu II tahun sudah ada 479 orang Kristen di Bungabondar dan daerah sekitarnja.”


KESIMPULAN


Dengan demikian jelaslah bahwa sejatinya Gereja HKBP Sipirok adalah Gereja yang didirikan pada bulan Mei tahun 1864 sehingga pada bulan Mei 2008 yang lalu telah berumur 144 tahun, sedangkan Gereja di Bungabondar didirikan pada tahun 1868. Dapat dipahami bahwa bangunan yang sekarang tidak lagi merupakan bangunan gereja asli-nya pada saat didirikan, mungkin sudah mengalami beberapa kali perehab-an, tetapi disana sini masih terlihat jelas gaya arsitektur aslinya yaitu campuran klasik-modern.

Namun juga dapat dipahami secara keseluruhan mengapa tulisan 7 Oktober 1861 ataupun tahun 1861, ada pada gedung gereja dan tugu peringatan yang berdiri di halaman gereja. Mungkin dikarenakan di Sipirok-lah pada tanggal tersebut 4 (empat) missionaries; Heine, Klammer, Betz, G. Van Asselt mengadakan rapat pertama untuk berbagi tugas/wilayah pekabaran injil yang juga dinyatakan HKBP sebagai hari kelahirannya, sehingga peringatan-peringatan untuk itu dibuat di HKBP Sipirok.

Demikian kami paparkan, kami lanjutkan nantinya dengan tulisan mengenai HKBP Sipirok dan situs Parausorat.

13 Oktober 2008

REFORMASI GEREJA


Menjelang Peringatan Hari Reformasi Gereja 31 Oktober 2008

1. Yang menyebabkan timbulnya pembaruan gereja ialah perbedaan antara teologi serta praktik gereja dengan ajaran Alkitab seperti yang ditemukan oleh Luther. Peristiwa yang membuat Reformasi itu mulai adalah penjualan surat-surat penghapusan siksa di Jerman oleh Tetzel. Menentang ucapan-ucapan Tetzel, Luther menyusun ke-95 dalilnya.

Apa yang telah ditemukan oleh seorang guru teologi jauh di daerah, merupakan bahan peledak yang nanti akan meruntuhkan susunan gereja. Tetapi pemimpin-pemimpin gereja di pusat tidak menyadari bahaya yang mengancam. Paus Leo X dan tokoh-tokoh gereja lainnya sibuk merencanakan pembangunan gereja raksasa, yaitu gereja Santo Petrus di Roma, yang harus melambangkan keagungan Gereja Barat. Untuk mengumpulkan dana bagi proyek itu, mereka memaklumkan penghapusan siksa bagi orang-orang yang akan memberi sumbangan. Di Jerman, surat-surat penghapusan siksa itu diperdagangkan oleh Tetzel. Dan perdagangan itulah yang menjadi pendorong dimulainya Reformasi.

Meskipun Tetzel seorang anggota Ordo Dominikan, namun ia tidak begitu mengindahkan rumusan-rumusan teologi yang halus. Ajaran resmi mengenai penghapusan siksa itu menentukan bahwa penghapusaan itu hanya berlaku, kalau orang sungguh-sungguh menyesali dosanya dan kalau dosa itu telah diampuni melalui sakramen pengakuan dosa. Namun, Tetzel berusaha meningkatkan penjualan barangnya dengan mengatakan bahwa surat-surat yang ditawarkannya itu menghapuskan dosa juga dan memperdamaikan orang dengan Allah. Demikianlah orang mendapat kesan bahwa pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah bisa diperoleh dengan uang, di luar penyesalan hati dan di luar sakramen-sakramen juga.

Luther, sebagai seorang imam juga harus menerima pengakuan dosa dari pihak anggota-anggota jemaat. Karena pengalamannya sendiri, maka ia sangat bersungguh-sungguh dalam hal ini. Kini ia didatangi oleh orang-orang yang menganggap sepi ajakan yang diberikannya sesudah pengakuan, agar mereka betul-betul menyesal dan menunjukkan penyesalan mereka dengan perbuatannya. Mereka memperlihatkan kepadanya surat penghapusan siksa sambil berkata: dosa kami sudah diampuni. Luther kaget. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menjadikan hal ini sebagai pokok pembicaraan antara sarjana-sarjana teologi. Begitulah ia menyusun 95 dalil mengenai penghapusan siksa, dalam bahasa Latin, bahasa kaum cendekiawan. Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia memperkenalkan dalil-dalil itu dengan menempelkannya di pintu gereja di Wittenberg (bacaan 1).

2. Dalil-dalil Luther menyangkut perkara yang sudah menghebohkan masyarakat Jerman, meskipun biasanya dengan alasan lain (harta Jerman yang mengalir ke luar negeri). Dari sebab itu, tulisan tersebut dibaca dengan asyik oleh orang banyak. Sebaliknya, pemimpin-pemimpin gereja di Roma menuding Luther sebagai seorang penyesat.

Dalam dalil-dalilnya itu, Luther menentang perkataan-perkataan Tetzel. Bahkan, ia menegaskan pula bahwa penyesalan sejati bukanlah sesuatu hal yang dapat diselesaikan orang dengan memenuhi syarat- syarat yang ditentukan oleh iman setelah pengakuan dosa, misalnya dengan mengucapkan Doa Bapa Kami sekian kali. Penyesalan itu berlangsung selama hidup! Itulah makna dalil yang pertama, yang berbunyi: "Apabila Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus berkata: Bertobatlah, dan seterusnya, yang dimaksudkanNya ialah bahwa seluruh kehidupan orang percaya haruslah merupakan pertobatan (= penyesalan)." Siapa yang betul-betul mengasihi Allah, tidak akan berusaha secara egoistis menebus hukuman atas dosanya, apalagi dengan uang; yang penting baginya ialah agar Allah mengampuni kesalahannya. Luther belum menyangkal adanya api penyucian, sama seperti ia belum menyangkal kekuasaan sri paus dan banyak hal lain yang di kemudian hari ditolaknya. Maksudnya, hanyalah untuk melawan pendapat seakan-akan surat-surat penghapusan siksa itu dapat memberi keselamatan, seperti yang didengung-dengungkan oleh para penjajanya untuk menipu rakyat biasa. Namun, sebenarnya Luther telah merombak seluruh ajaran Gereja Abad Pertengahan, bila ia mengatakan, "Bukan sakramen, melainkan imanlah yang menyelamatkan."

Dalil-dalil diterjemahkan oleh mahasiswa-mahasiswanya ke dalam bahasa Jerman, dan dalam waktu empat minggu saja sudah tersiar ke seluruh Jerman. Umat Kristen, yang sudah lama tidak senang lagi mengenai keadaan gereja, kini mendengar suara yang menyatakan keberatannya dan yang sekaligus menunjukkan jalan lain. Sebaliknya, pemimpin-pemimpin gereja tidak begitu senang. Dalam waktu yang singkat saja hasil penjualan surat-surat penghapusan siksa telah menjadi sangat berkurang. Luther dituduh di hadapan paus sebagai seorang penyesat, dan Leo X menuntut supaya ia menarik kembali ajaran yang salah itu. Luther menjelaskan maksud dalil-dalilnya kepada paus dalam sepucuk surat yang penuh penghormatan. Tetapi paus memberi perintah kepadanya untuk menghadap hakim-hakimnya di Roma dalam waktu 60 hari. Itu berarti bahwa Luther akan dibunuh.

Akan tetapi, keadaan politik di Jerman menolong Luther. Sebenarnya negeri Jerman adalah kekaisaran, namun kekuasaan kaisar sangat terbatas. Jerman terbagi atas ratusan daerah yang praktis yang merupakan negara-negara merdeka. Salah satu yang terbesar di antara daerah-daerah itu ialah Kerajaan Sachsen, di mana Luther tinggal. Kalau rajanya, Raja Friedrich yang Bijaksana, berbuat sesuatu yang menentang gereja, kaisar atau paus tidak bisa berbuat apa-apa. Friedrich tidak mau menyerahkan Luther, namun paus tidak berani melawan Friedrich, sebab memerlukan dukungan Friedrich dalam pemilihan seorang kaisar baru (Charles V, 1519-1555).

Lalu Luther diperiksa di Jerman sendiri, tetapi di luar wilayah Saksen, oleh Kardinal Cajetanus (1518). Sudah barang tentu ia mengira bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh. Di tengah jalan, orang- orang meneriakkan kepadanya, "Balik, balik!" Tetapi Luther menjawab, "Di sana pun berkuasa Kristus. Semoga Kristus hidup, Martinus binasa, bersama dengan setiap orang berdosa!" Ia menghadap sang kardinal dengan berlutut dan ia mencoba membujuk Luther baik-baik, tetapi dengan segera toh terjadi perdebatan. Pegawai-pegawai istana paus menertawakan Luther yang begitu bodoh membenarkan dirinya berdasarkan Kitab Suci. Akibatnya, sang kardinal menjadi marah, dan Luther terpaksa diselundupkan ke luar kota, supaya ia lolos dari bahaya maut. Baru dua tahun kemudian Luther dihukum secara resmi.

3. Sementara itu, gerakan Reformasi semakin meluas. Luther sendiri makin sadar bahwa pengertiannya yang baru itu akan berpengaruh terhadap seluruh ajaran dan tata gereja: makin banyak unsur dari teologi dan praktik Gereja Roma yang ia tolak.

Banyak kota dan daerah di Jerman yang memihak kepada Luther dan namanya mulai terkenal di luar negeri juga. Kalangan humanis bergelora semangatnya karena pembaruan-pembaruan yang dianjurkannya. Salah seorang humanis yang selama hidupnya bersahabat dengan Luther ialah rekannya di Universitas Wittenberg, Melanchthon (1497-1560), yang pada tahun 1518 menjadi guru besar bahasa Yunani di sana. Pengajaran sekolah umum di negeri Jerman disusunnya secara baru, menurut asas-asas Reformasi. Dialah yang menulis buku dogmatika protestan yang pertama, yang berjudul: Loci Communes ("Pokok-pokok Teologi", 1521). Ia juga merupakan pembantu Luther dalam hal penerjemahan Alkitab.

Pandangan-pandangan baru Luther tidak berkembang dengan cepat, sebab ia berwatak konservatif, dan tidak suka melepaskan apa yang pernah dianutnya. Namun justru dialah yang terpanggil untuk memelopori pembaruan gereja! Baru pada tahun 1519, ia menginsafi bahwa paus bisa keliru juga, bahwa konseli-konseli gereja pun bisa sesat. Dengan demikian, seluruh tradisi gereja, yaitu anggapan-anggapan dan kebiasaan-kebiasaan yang telah muncul dan dipelihara berabad-abad lamanya, kehilangan kekuasaannya di samping Alkitab. Tradisi itu hanya masih berlaku di bawah kekuasaan Alkitab: apa yang berlawanan dengan ajaran Alkitab harus dihapuskan.

4. Pada tahun 1520 Luther menerbitkan tiga tulisan yang di dalamnya, ia menguraikan pandangannya yang baru. Yang paling terkenal ialah "Kebebasan Seorang Kristen", yang merupakan buku etika protestan yang pertama.

Dalam ketiga karangan itu, Luther merobohkan seluruh sistem Abad Petengahan. Yang pertama ialah" Kepada para pemimpin Kristen Jerman, mengenai perbaikan masyarakat Kristen. Di sini Luther menyatakan bahwa paus dan kaum rohaniwan tidak boleh berkuasa atas "kaum awam". Setiap orang Kristen adalah seorang imam dan ikut bertanggung jawab dalam gereja. Dunia juga tidak "bertingkat dua". Berkhotbah atau bercocok tanam sama tingkatnya, sebab sama-sama bertujuan melayani Allah. Jadi, tidak dengan sepatutnya kaum "rohaniwan", khususnya paus, menuntut kekuasaan atas negara dan masyarakat. Bangsa Jerman, dengan diwakili oleh pemimpin-pemimpinnya, boleh dan harus memperbaiki sendiri keadaan gerejanya.

Karangan yang kedua berjudul: Pembuangan Babel untuk Gereja. Buku itu berisi uraian tentang sakramen-sakramen. Hanya baptisan dan Perjamuan Kudus yang bisa ditemukan dasarnya dalam Alkitab. Tentang pengakuan dosa, Luther masih ragu-ragu; keempat sakramen lainnya ditolaknya. Arti sakramen dan hubungan antara sakramen dengan Firman Tuhan dirumuskannya secara baru juga: sakramen bukanlah saluran anugerah ke dalam diri kita. Sakramen, menurut Luther adalah tanda dari apa yang dinyatakan oleh Firman itu, Firman dalam rupa tanda, dan jawaban kita atas penerimaan sakramen itu hanyalah iman.

Pada karangan pertama, Luther berbicara kepada para penguasa. Pada karangan kedua, ia berdiskusi dengan teolog-teolog. Pada karangan ketiga, Kebebasan Seorang Kristen, ia menulis bagi rakyat Kristen. Buku itu menguraikan soal perbuatan-perbuatan baik. Luther mulai dengan merumuskan dua dalil yang tampaknya saling bertentangan:

"Seorang Kristen bebas dari segala ikatan dan bukanlah hamba kepada siapa pun";

"Seorang Kristen terikat pada segala sesuatu dan hamba dari semua orang".

Demikian yang dimaksud Luther: Seorang Kristen bebas dari hukum atau taurat mana pun, dan tidak terikat pada peraturan yang dikeluarkan oleh siapa pun, biar sri paus sekalipun, sebab ia telah memiliki kebenaran Kristus dan tidak membutuhkan lagi perbuatan-perbuatan amal. Tetapi di dalam diri orang Kristen itu masih ada kemauan yang buruk, tubuhnya yang penuh hawa nafsu (Luther pernah menjadi rahib!) dan tubuh itu harus dikekang dengan banyak "perbuatan-perbuatan": dengan askese juga. Namun, perbuatan-perbuatan itu tidak mengandung amal - bukankah kita telah mendapat seluruh amal yang kita butuhkan di dalam Kristus? (bacaan 2).

5. Gereja Roma dan Negara Jerman mengutuk dan mengucilkan Luther. Akan tetapi, Raja Friedrich yang Bijaksana tetap melindungi dia.

Pada tahun 1520, keluarlah bulla (surat resmi) dari paus, yang telah lama ditunggu-tunggu. Jikalau Luther tak mau menarik kembali ajarannya yang sesat itu, ia akan dijatuhi hukuman gereja. Luther membalas bulla itu dengan karangan yang berjudul: "Melawan bulla yang terkutuk dari si Anti-Krist". Lalu bulla itu dibakarnya di muka pintu gerbang kota Wittenberg di hadapan para guru besar dan mahasiswa. Kemudian, keluarlah bulla-kutuk paus.

Menurut anggapan abad pertengahan, negara tidak bisa tidak menghukum seorang penyesat yang telah dikutuk oleh gereja. Tetapi karena banyak kepala daerah (bnd. pasal 2) menyetujui ajarannya, maka Luther dipanggil ke "sidang kekaisaran" yang pada bulan April 1521 diadakan di kota Worms untuk mempertanggungjawabkan perbuatan- perbuatan dan karangan-karangannya. Sahabat-sahabat Luther takut kalau-kalau ia akan ditangkap dan oleh sebab itu memohon kepadanya supaya jangan pergi juga. Tetapi Luther berkata, "Biarpun di Worms ada setan sebanyak genteng di atas rumah, aku pergi juga! "

Pembelaannya di hadapan kaisar dan raja-raja pada tanggal 18 April 1521 menjadi termasyhur. Wakil paus menuntut kepadanya supaya ia memungkiri segala pandangannya yang sesat itu, tetapi Luther menunjuk pada Alkitab, "Bahwa saya bisa sesat sebagai manusia, tentang itu saya yakin. Akan tetapi, hendaknya saya diperbolehkan menuntut supaya dari Firman Allah dibuktikan kepada saya bahwa saya sesat." Namun, bukti itu tidak akan diberikan, karena ajarannya sudah lebih dahulu ditolak oleh gereja. Lalu kata Luther, "Saya tidak percaya kepada paus atau kepada konseli-konseli saja, karena sudahlah jelas seperti siang bahwa mereka berkali-kali sesat dan seringkali bertentangan dengan dirinya sendiri. Suara hati saya sudah terikat oleh perkataan Kitab Suci dan saya tertangkap dalam Firman Allah: menarik kembali, saya tidak dapat dan saya tidak mau sama sekali. Semoga Allah menolong saya. Amin!"

Beberapa minggu kemudian, dalam Edik Worms, Luther bersama pengikut- pengikutnya dikucilkan dari masyarakat dengan "kutuk kekaisaran". Segala karangan Luther juga harus dibakar. Ia sendiri boleh ditangkap atau dibunuh oleh siapa saja yang menemukan dia. Karena kaisar telah memberi jaminan keamanan, maka Luther boleh pulang dulu ke kotanya. Ketika keretanya melintasi suatu hutan, sekonyong-konyong ia disergap oleh sepasukan orang berkuda yang bersenjata. Orang menyangka Luther telah dibunuh seteru-seterunya, tetapi sebenarnya ia dilarikan atas perintah Friedrich yang Bijaksana, yang hendak meluputkan sahabatnya itu dari bahaya maut. Luther dibawa ke puri Wartburg, supaya ia aman dan tersembunyi untuk sementara waktu.

Sepuluh bulan lamanya, Luther tinggal di Wartburg dengan berpakaian ksatria dan memakai nama samaran, yaitu "Pangeran Georg". Di tempat yang sunyi itu, hatinya digoda oleh banyak kebimbangan. Benarkah ia mengikuti jalan Tuhan dengan gerakannya itu? Kata orang, pernah Luther melemparkan sebotol tinta kepada Iblis yang tampak olehnya dalam biliknya dan yang mengganggu dia. Yang pasti ialah bahwa ia melawan Iblis dengan tinta yang keluar dari penanya: Luther bekerja keras di Wartburg, dan dalam beberapa bulan saja Perjanjian Baru sudah siap diterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman, dengan memakai juga naskah Yunani terbitan Erasmus. Di samping itu, ia mengarang sebuah kitab rencana khotbah untuk pendeta-pendeta Protestan yang sangat membutuhkan pimpinan dalam hal berkhotbah.

6. Sesudah satu tahun, Luther kembali lagi ke Wittenberg dan meneruskan pekerjaan Reformasi. Sekarang ia mulai memperbarui tata kebaktian.

Luther berwatak konservatif (pasal 3), sehingga ia mau mempertahankan sebanyak mungkin tata kebaktian yang lama. Asasnya ialah bahwa yang perlu diubah hanyalah apa yang nyata bertentangan dengan Alkitab. Jadi, kebaktian Protestan, khususnya yang memakai aturan Lutheran, tetap berjalan seperti Misa Katholik: sesudah salam-berkat, jemaat mengaku dosanya dan pengampunan diberitakan, lalu Alkitab dibacakan, khotbah diadakan, kemudian ada perayaan sakramen.

Akan tetapi, dalam beberapa hal harus ada perubahan. Pertama: bahasa. Misa biasanya dilayankan dengan memakai bahasa Latin. Sulit bagi rakyat untuk memahami bahasa itu. Padahal, kebaktian itu justru dimaksudkan untuk menyampaikan Firman kepada mereka! Jadi, bahasa Latin diganti dengan bahasa Jerman (dan di negeri-negeri lainnya yang menerima Reformasi, dengan bahasanya sendiri). Kedua: pengertian mengenai makna ibadah berubah secara asasi. Dalam teologi Katholik, Misa adalah pengulangan korban Kristus secara tak berdarah. Melalui penerimaan sakramen itu, berlangsung penyaluran anugerah yang menjadikan manusia sanggup berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, yang menjadi pusat ibadah ialah perayaan sakramen Misa. Kebaktian tanpa khotbah tetap merupakan ibadah yang lengkap, tetapi kebaktian tanpa Ekaristi tidaklah lengkap. Malah, kebaktian dimana satu dua orang imam sendiri merayakan Ekaristi dengan tidak dihadiri jemaat, merupakan ibadah juga. Kedua wawasan tentang makna sakramen Misa itu tadi ditolak oleh Luther. Baginya, makna ibadah bukan pengorbanan Kristus dalam Misa, bukan juga penyaluran anugerah, melainkan pemberitaan rahmat Tuhan kepada setiap orang yang mau mendengar. Pemberitaan itu terjadi dalam pemberitaan Firman, dan dalam perayaan sakramen, yang menandai dan memperlihatkan apa yang dinyatakan dalam pemberitaan Firman itu. Maka, khotbah diberi tempat yang lebih wajar dalam kebaktian. Khotbah harus ada; itu dilakukan beberapa kali seminggu; perayaan Perjamuan Kudus "hanya" ada pada setiap Minggu pagi, sesudah khotbah. Sama halnya seperti sebuah buku yang teksnya bisa dipahami walau tidak ada gambar; tetapi gambar itu ditambahkan supaya teksnya lebih jelas lagi. Luther berpegang pada kehadiran nyata tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi (Perjamuan); hanya tubuh dan darah itu tidak hadir sebagai ganti roti dan anggur (trans-substansiasi), tetapi bersama dengannya (con-substansiasi, con/cum = bersama dengan).

Perubahan ketiga yang membuat Misa Katholik menjadi kebaktian Protestan ialah kegiatan jemaat di dalamnya. Pada zaman Ambrosius, kebaktian diselingi nyanyian jemaat (Kid. Jemaat 245 berasal dari Ambrosius). Tetapi dalam Abad Pertengahan, jemaat semakin tidak aktif. Sekarang Luther sendiri dan ahli-ahli musik serta penyair lain menyusun lagu-lagu dalam bahasa Jerman untuk jemaat yang tidak biasa menyanyi itu, sehingga bisa dipakai sebagai nyanyian dalam kebaktian gereja dan di rumah.

Bacaan-bacaan:

1. Beberapa di antara ke-95 dalil Luther

37. Setiap orang Kristen telah mengambil bagian dalam segala harta Kristus dan gereja; hal itu dianugerahkan kepadanya oleh Allah, biarpun tidak ada surat penghapusan siksa dari gereja.

43. Patutlah kepada orang-orang Kristen diajarkan: "Kalau seorang memberikan sesuatu kepada orang miskin, atau meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkannya, ia berbuat lebih baik, ketimbang kalau ia membeli surat penghapusan siksa."

44. Karena oleh perbuatan kasih, kasih bertambah dan manusia bertambah baik; tetapi oleh penghapusan siksa ia tidak bertambah baik, hanya saja lebih bebas dari hukuman.

65. Harta Injil ialah jala-jala, yang dengannya dahulu kala orang ditangkap dari kekayaan (Matius 4:9; Lukas 18:18-27).

66. Harta penghapusan siksa ialah jala-jala, yang dengannya sekarang ditangkaplah kekayaan orang.

2. Dari Kebebasan Seorang Kristen

Seorang Kristen bebas dari semuanya dan atas seluruhnya, sehingga dia tidak membutuhkan sesuatu perbuatan untuk menjadikan dia benar dan menyelamatkannya, karena hanya iman saja yang menganugerahkan semuanya berlimpah-limpah.

Walaupun seseorang cukup dibenarkan oleh iman, namun ia masih hidup di dunia yang fana ini. Dalam hidup ini, ia harus menguasai tubuhnya (= segala nafsunya yang menentang kehendak Allah) dan bergaul dengan sesamanya. Dia menemukan tantangan kehendak di dalam tubuhnya yang berdaya upaya melayani dunia dan yang mencari segala kepuasan. Hal ini tak dapat dibiarkan oleh roh iman. Karena melalui iman, jiwa kita disucikan dan digerakkan untuk mengasihi Allah, maka jiwa itu menghendaki segala sesuatu. Teristimewa tubuhnya sendiri, menjadi suci-murni, sehingga segala sesuatu akan turut serta dengannya dalam mengasihi dan memuji Allah. Oleh karena itu, manusia tidak lagi malas, karena kebutuhan tubuhnya mendorongnya dan memaksanya mengerjakan banyak perbuatan yang baik supaya tubuh itu dapat ditaklukkan. Dengan jalan ini, tiap-tiap orang sangat mudah mempelajari bagi dirinya sendiri, pembatasan dan kebijaksanaan dari penyiksaan badannya, karena ia akan berpuasa, berjaga-jaga dan bekerja sebanyak yang diperlukan untuk menahan keinginan hawa-nafsu tubuhnya.

Akhirnya, kita akan membicarakan juga hal-hal perbuatan kepada sesama manusia. Seseorang tidak hidup untuk dirinya sendiri saja dalam tubuh yang fana ini, dan bekerja untuk dirinya saja, tetapi ia hidup untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Untuk tujuan inilah, ia menaklukkan tubuhnya, supaya dapat lebih ikhlas dan lebih bebas melayani orang lain. Dari iman mengalirlah kasih dan kegembiraan dalam Tuhan, dan dari kasih pikiran yang gembira, tulus dan bebas, yang melayani sesama manusia dengan rela hati dan tidak memikirkan penghargaan atau olok-olok, pujian atau celaan, untung atau rugi.

3. Luther mengenai "rohaniwan " dan "awam ". (Dari: Kepada para pemimpin bangsa Jerman, pasal 1).

Menamakan para paus, uskup, imam, biarawan, dan biarawati "golongan rohaniwan", sedangkan para pangeran, tuan, tukang, dan petani "golongan duniawi", merupakan akal yang direka-reka oleh orang-orang lihai. Karena semua orang Kristen, tanpa kecuali, benar-benar dan sungguh-sungguh termasuk golongan rohaniwan, dan tidak ada perbedaan di antara mereka, kecuali pekerjaan mereka yang berlainan. (...) Tidak ada di antaranya perbedaan dalam hal kedudukan Kristen. Semuanya bersifat rohani kedudukannya, dan semuanya sungguh-sungguh imam, uskup, dan paus. Mereka yang sekarang dinamakan kaum rohaniwan , tidak lebih luas atau lebih besar pangkatnya daripada orang Kristen lainnya, kecuali dalam hal bahwa mereka mempunyai tugas menerangkan Firman Allah dan melayankan sakramen-sakramen. Tukang sepatu, pandai besi, petani, masing-masing mempunyai kesibukan tangan dan pekerjaannya; sementara itu, mereka semuanya dapat dipilih pula untuk bertindak sebagai imam dan uskup.

Dr. Th. Van Den End

11 Oktober 2008

APAKAH ADA GAMBAR TUHAN ?


Beberapa tahun yang lalu pernah terjadi aksi protes negara-negara Islam menentang karikatur Nabi Muhammad di sebuah surat kabar. Itulah berita yang menghebohkan pada saat itu, karena agama Islam tidak memperbolehkan adanya gambar atau lukisan Nabi Muhammad. Beda dengan umat Kristen, mereka bahkan memajang banyak sekali gambar-gambar Tuhan Yesus dalam rumah ibadahnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan apakah itu benar gambar asli-Nya Tuhan Yesus ? Siapa yang bisa menguji ataupun memastikan akan kebenarannya ? Darimana mereka dapatkan contoh gambar ini ? Apakah Yesus pernah dilukis ? Jangan-jangan itu hanya sekedar gambar khayalan saja seperti juga gambar Superman maupun Batman begitu.

Bahkan dalam Alkitab sendiri diwahyukan bahwa wajah Tuhan Yesus sebenarnya buruk rupanya tidak seganteng seperti yang di perankan dalam film “The Passion of the Christ” (Yesaya 52:14) dan bagi orang di jaman-Nya seharusnya Ia tidak boleh memelihara rambut panjang, sebab apabila Ia berambut panjang itu merupakan satu kehinaan bagi lelaki pada saat itu (1 Korintus 11:14).

Gambar wajah Tuhan Yesus seperti yang kita kenal sekarang ini kemungkinan besar berasal dari tiga macam sumber, walaupun demikian tidak ada satupun yang dilukis oleh manusia. Karena gambar-gambar tersebut semuanya terciptakan secara ajaib atau supra natural. Dalam bahasa Yunani disebut "Achieropoietos" = yang tidak dilukis dengan tangan. Dan dalam bahasa Latin disebut „non humana manu factum sed de caelo lapsum“ = “tidak dibuat oleh tangan manusia, tapi berdasarkan kepercayaan yang datang dari sorga”.

Gambar yang paling tua dan yang pertama dikenal adalah “Gambar Edessa” atau lebih dikenal juga dengan nama “Mandylion” yang berarti handuk kecil. Ketika raja Abgarus dari Edessa sakit ia mendapatkan kiriman berupa kain kecil, dimana diatas kain tersebut ada gambarNya wajah Yesus. Kain tersebut konon dikirimkan oleh Tuhan Yesus langsung kepada dia melalui RasulNya dan ternyata setelah ia menerima kain tersebut, langsung sembuh. Gambar tersebut terjadi secara mukjizat setelah Tuhan Yesus membasuh wajah-Nya dengan kain tersebut. Hal inilah yang ditulis oleh Eusebius dari Caesarea.

Gambar lainnya terjadi ketika Tuhan Yesus sedang berjalan menanggung salib menuju ke bukit Golgatha, Ia berkali-kali jatuh tersungkur, karena tidak kuat menanggung kayu salib. Pada tahap perhentiannya yang ke enam, wajahnya Tuhan Yesus telah penuh dengan keringat maupun lumuran darah, karena luka dari mahkota duri yang dipasang diatas kepala-Nya.

Pada saat tersebut ada seorang wanita yang bernama „Pherenike“ menyeka wajah Tuhan Yesus dengan saputangannya. Ketika ia tiba dirumah ternyata diatas saputangan tersebut terlukiskan atau tepatnya ada copy dari wajah Tuhan Yesus yang terbuat dari darah yang di seka dari wajah-Nya. Akhirnya nama Pherenike ini dirubah ke dalam bahasa Latin menjadi Beronike = “Pembawa kemenangan” atau sekarang ini lebih dikenal dengan nama Veronica dan oleh Gereja Katolik diangkat sebagai orang kudus atau Santa. Mereka merayakan hari St. Veronika setiap tgl. 4 Februari.

Wajah inilah yang menjadi patokan dari semua gambar lukisan wajah-Nya Tuhan Yesus seperti yang kita kenal sekarang ini. Saputangan tersebut s/d detik ini disimpan di katedral St Peter di Roma, sebagai salah satu benda suci yang sangat berharga.

Disamping adanya saputangan tersebut, masih ada kain kafan yang disimpan di kota Turin, Italia, ini memiliki gambaran tubuh dan wajah laki-laki penuh luka yang diyakini sebagai Yesus. Banyak orang Kristen percaya, kain ini dahulu dipakai untuk membungkus jenazah Yesus.
Lihat di http://www.shroudstory.com/art.htm

Sedangkan berdasarkan cover story dari majalah Popular Mechanics, ternyata dengan bantuan komputer para ahli forensic dari England dan Israel telah berhasil memproyeksikan bagaimana wajah Tuhan Yesus yang sebenarnya dan ternyata beda jauh sekali dari gambar yang kita kenal sekarang. Walaupun demikian diragukan hasil karyanya sebab di dunia ini tidak ada jasad maupun tengkorak-Nya Tuhan Yesus, karena umat Kristen percaya bahwa Ia telah naik ke sorga lengkap dengan tubuh jasmani-Nya. Berita selengkapnya berikut gambar Yesus bisa dilihat
http://archives.cnn.com/2002/TECH/science/12/25/face.jesus/

Kenapa di kebanyakan gambar dari Tuhan Yesus ada lingkaran emas atau lingkaran bercahaya di atas kepala-Nya? Bundaran ini lebih dikenal dengan nama "halo" atau "nimbus". Halo ini tidak selalu bundar bentuknya bahkan bagi pelukis zaman dahulu kalau bentuknya segi empat berarti orang kudus ini masih hidup. Bentuk segi tiga diartikan sebagai Trinitas, sedangkan gambar dalam bentuk lingkaran berlaku bagi semuanya. Lingkarannya pun tidak perlu selalu bundar benar bisa dalam bentuk oval seperti telor ini disebut "mandorla".

Halo ini bisa disamakan juga dengan huruf “Omega” dalam bahasa Yunani yang bisa diartikan sebagai Allah “yang sudah ada” lihat Keluaran 3:14 dan Wahyu 1:8.

Apakah setiap pelukis menggunakan lambang "halo" ini? Tidak, bahkan pelukis kondang seperti Titian maupun Michelangelo tidak pernah melukis gambar Tuhan dengan memberikan lukisan halo diatas kepala-Nya.

Apakah lambang halo ini yang diharapkan oleh para pastor zaman dahulu sehingga kepalanya di cukur botak dengan lingkaran rambut di kepalanya? Kepala botak dengan lingkaran rambut seperti cincin di kepala ini lebih dikenal dengan nama "tonsure".

Tonsure ini dahulu merupakan wajib bagi semua pastor, kewajiban ini bahkan dicantumkan secara tertulis di konsili Toledo. Tetapi hal ini sebenarnya tidak dibenarkan oleh Alkitab sebab berdasarkan ayat di dalam Imamat 21:5 Seorang imam tak boleh menggunduli sebagian dari kepalanya dan tak boleh memangkas jenggotnya

Oleh karena itulah semua Rabi zaman dahulu selalu mempunyai jenggot, sehingga sudah wajarlah kalau di tiap lukisan Tuhan Yesus juga mempunyai jenggot.

Apakah ada gambar dari Tuhan Allah? Tidak ada, sebab belum pernah ada orang hidup yang pernah melihat wajah Tuhan Allah terkecuali (mungkin) Adam dan Hawa. Nabi Musa sekalipun tidak diperkenankan untuk melihat wajah Tuhan Allah. Kel 33:20 "Wajah-Ku tidak akan Kuperlihatkan kepadamu, sebab tak mungkin orang melihat Aku, dan tetap hidup."

Walaupun demikian bagi umat Kristen gambar Tuhan Yesus tidaklah penting, sebab bukan gambarnya yang penting melainkan ajaran-Nya disamping itu umat Kristen tidak diperkenankan memberhalakan entah itu gambar maupun patung !
By : Mang Ucup

10 Oktober 2008

BONUM FACTUM DEUM HABET DEBITOREM


Amsal 19:17
Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

Poda 19:17
Na pasali Jahowa do manang ise na mardenggan basa tu na pogos, jala Ibana mamaloshon denggan basana i tu ibana.

MEMBUAT TUHAN BERHUTANG ?

Seorang tokoh yang sangat berperan penting dalam sejarah gereja pada abad ke-2 dan awal abad ke-3, Quintus Septimius Florens Tertullianus (sering disebut Tertullianus) memiliki sebuah kalimat/ucapan yang sangat terkenal : "Bonum factum Deum habet debitorem" yang berarti: "sikap suka memberi berarti : Tuhan berhutang kepadamu."
Kalimat ini sejalan dengan ucapan : "Ubi caritas et amor Deus ibi est" (dimana ada kebajikan dan kasih, di situ ada Allah).
Sebagai orang yang hidup dengan kasih Tuhan, orang Kristen juga harus memiliki sikap belas kasih, suka memberi ataupun perhatian terhadap sesama terlebih terhadap yang lemah.
Yesus sendiri mengatakan : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."(Mat. 25:40). Juga ucapan-Nya ketika mengajar dan menyembuhkan banyak orang : " Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."(Luk. 6:36)
Yesus mengajar kita agar memiliki kepekaan terhadap orang lain, terlebih terhadap yang kurang mampu. Dan itu adalah karunia yang diberikan Tuhan dalam hidup kita, apabila kita hidup dalam kasih Tuhan.
Segala yang kita miliki, tentunya berasal dari Allah. Tapi Allah juga menginginkan kita berbagi berkat yang kita terima dengan orang lain dengan sepenuh hati, tidak setengah-setengah.
Dengan demikianlah kita telah "memiutangi Tuhan", sebab Dia akan membalas segala perbuatan baik kita.
Bagaimanakah sikap kita yang telah dipilih Tuhan untuk mewartakan Khabar Baik, Khabar keselamatan dari-Nya?
Ada suatu selentingan cerita yang bersifat ironis : Suatu ketika seorang pelayan Tuhan (anggo di HKBP didokhon istilahna : Parhalado, sintua ma naung jonokna), berkhotbah di Kebaktian Minggu. Thema khotbah tersebut adalah kasih dan saling menolong terhadap sesama. Dengan ber api-api amang sintua itu berkata : "Kalau di tampar pipi kanan-mu, berikan pipi kiri-mu. Kalau engkau memiliki baju 2 buah, berikan 1 kepada yang tidak berpunya." Kebetulan, turut dalam Kebaktian Minggu tersebut anak-nya yang paling kecil yang masih berumur 12 tahun.
Pada suatu ketika, saat sintua itu pergi untuk suatu urusan bersama dengan istri-nya, datanglah seorang pengemis kerumah-nya dan yang ada di rumah tersebut hanyalah anaknya yang paling kecil itu. Dengan pakaian yang lusuh dan wajah gemetaran, pengemis itu berkata kepada anak tersebut untuk dikasihani. Anak sintua itu-pun teringat akan khotbah yang disampaikan ayah-nya. Lalu pengemis itu disuruhnya masuk dan diberi makan, kemudian diberikanlah sebuah baju dan celana yang masih bagus kepunyaan ayah-nya (karena cocok dengan pengemis itu), dan seekor ayam kepunyaan mereka agar dapat dijual pengemis tersebut dan menghasilkan uang.
Ketika sintua itu pulang ke rumah pada sore hari, dan hendak memakai baju dan celana kesayangan-nya sehabis mandi, dia tidak dapat menemukan kedua-nya. Juga ketika hendak memasukkan ayam-ayam peliharaan mereka ke kandang, dia tidak menemukan ayam jago yang paling disenangi-nya. Sintua itu pun betanya kepada anaknya yang paling kecil tersebut, dan anak itu menceritakan apa yang terjadi. Amang sintua kita ini pun gusar dan wajah-nya memerah. Anaknya berkata bahwa dia melakukan demikian karena teringat dengan khotbah dan pengajaran yang disampaikan ayah-nya pada saat Kebaktian Minggu. Sebab pakaian ayahnya banyak dan demikian juga dengan ayam-ayam peliharaan mereka.
Lalu, dengan marahnya sintua itu berkata : "Benar...itu memang yang kukatakan dalam khotbah minggu kemarin, tapi itu bukan untuk kita...khotbah itu untuk mereka...khan mereka yang mendengarnya...Dasar anak dungu...sok tahu...!! (?????????)

Oleh karenanya, marilah kita senantiasa hidup dalam kasih, dan memiliki sikap perduli terhadap orang lain terutama yang lemah. Karena dengan demikian, kita menumpuk harta di Surga, kita membuat Tuhan berhutang kepada kita dan marilah kita dengan penuh pengharapan menantikan balasan Tuhan yang begitu indah dalam hidup kita. Amin

Gerakan NAM (New Age Movement)


Pencerahan atau Sinkritisme?

Tak banyak orang Kristen yang tahu apa itu New Age Movement (NAM). Apalagi manifestasinya. Tak heran, jika tanpa sadar banyak orang terhisab ajaran ini.

New Age Movement (NAM) adalah sebuah gerakan yang sifatnya sangat cair. Seperti air, ia dengan sangat mudah meresap dalam berbagai segi kehidupan orang modern. Di zaman post-modern (posmo) ini, NAM justru makin mendapat tempat di hati orang. Mengapa? Karena NAM mampu mengisi kekosongan batin manusia era posmo. Tak dapat dipungkiri, kehidupan di era posmo ini memang penuh dengan tekanan. Akibatnya, orang pun rentan terkena stres dan krisis. Dan, NAM menawarkan sebuah pencerahan hidup.

MEMIKAT INSAN

Menelisik dari sejarahnya, NAM sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai gerakan, ia memang baru muncul pada tahun 1960. Namun sebetulnya, paham dan falsafah NAM sudah ada sejak 500 SM. Saat itu berkembang filsafat Timur yang beranggapan bahwa jiwa/pikiran semesta adalah dasar dari segala sesuatu. NAM adalah kebangkitan kembali agama dan tradisi Timur yang kemudian memengaruhi kebudayaan modern (Humanisme dan Gerakan Zaman Baru, Ir. Herlianto, M.Th, Yayasan Kalam Hidup, 1990).

NAM tidak mengenal Tuhan seperti halnya Tuhan yang umat Kristen kenal. Yang disebut Tuhan tak lain adalah suatu kekuatan, kesadaran atau energi kosmis yang tak berpribadi (makro kosmos). Manusia adalah bagian kecil (mikro kosmos) dari energi kosmis. Karena itu manusia punya sifat ilahi, tak terbatas dan kekal. Ia tidak pernah mati. Melainkan mengalami reinkarnasi sebagai bukti penerusan roh yang kekal itu. Hubungan manusia dengan ”tuhan” dilakukan dengan meditasi; menyatukan diri dengan sumber asalnya.

NAM juga tidak mengenal dosa karena manusia pada dasarnya baik. Kejahatan terjadi karena adanya ketidakseimbangan roh di dalam dirinya. Begitu juga dengan penyakit. Maka kejahatan dan penyakit itu bisa diatasi sendiri oleh manusia dengan memulihkan keseimbangan energi di dalam tubuh supaya sesuai dengan keseimbangan kosmis.Penyakit tak butuh obat. Keja-hatan tak butuh Tuhan untuk memulihkan. Jadi, inti dari ajaran NAM adalah anthroposentris alias manusia adalah pusat dari segalanya.

MERASUK KEHIDUPAN MODERN

Pada perkembangannya NAM menye-bar ke seluruh penjuru dunia lalu ber-adaptasi dengan religi dan kepercayaan setempat. Akhirnya, NAM menjadi kumpulan berbagai religi dan kepercayaan. NAM menjadi sangat luas dan manifestasinya sangat beragam. Karena itu, tidak ada payung organisasi yang menaungi NAM. Secara garis besar, ada dua corak NAM: religius/okultik dan humanistik. Namun, keduanya punya persamaan dasar yaitu yakin akan keilahian manusia dan mendambakan masyarakat dan tertib dunia yang sempurna (Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Penerbit BPK).

Gerakan NAM lintas agama. Mereka tidak mengusung
sebaliknya, mereka justru “mempersatukan” berbagai agama di dunia. Mereka lebih suka melabeli gerakannya dengan ”spiritual”. Gerakan spiritual itu yang kini tengah melanda kaum profesional di kota besar. Antara lain menyebar melalui berbagai training pengembangan diri.

Dalam training itu, peserta diajak untuk menyadari kemampuannya yang tak terbatas hingga mampu mencapai kehidupan yang damai, sukacita, cinta dan kelimpahan di bumi ini. Salah satu ciri yang utama dalam NAM adalah terjadinya transformasi pribadi yang membebaskan jiwa manusia dari keterbelakangan dan pengaruh di luar dirinya.

Mempertimbangkan sisi positif-nya, tak heran jika banyak perusahaan yang mengirim karyawannya pada pelatihan semacam ini (Ir. Herlianto, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru, 1990). Training-training semacam itu, umumnya memang membawa pencerahan bagi pesertanya. Sekarang ini yang sedang ramai diperbincangkan adalah prinsip sukses ala The Secret.

Selain melalui training, manifestasi NAM yang juga makin populer adalah terapi penyembuhan yang holistik. Tanpa melibatkan dokter. Melainkan menggunakan cara alami, yaitu self healing alias menyembuhkan diri sendiri. Antara lain melalui reiki, prana, pijat refleksi, akupuntur, dll. Prinsipnya, penyakit itu timbul karena adanya ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Maka, itu bisa diatasi dengan mengaktifkan energi positif.

Kemajuan teknologi membuat NAM makin cepat menyebar. Cara yang paling efektif adalah melalui media hiburan: musik dan film. Perkembangan musik dan film memang sangat cepat. Apalagi didukung oleh stasiun TV khusus musik yang bersifat global. “Dalam tayangan itu, manusia dikelabui seakan tidak ada lagi yang bersifat statis. Musik yang benar adalah yang memuaskan kedagingan. Itu ada dalam unsur MTV. Semua dikemas dengan sistem komputerisasi yang memuaskan mata yang secara tidak sadar membuat manusia terjebak,” terang Tumbur Tobing, SE, MA, Dewan Eksekutif Reformed Center for Religion & Society.

Tumbur juga menyebut pentas Idol yang melibatkan pemirsa di selu-ruh dunia juga salah bentuk manifestasi NAM. “Salah satu ciri NAM adalah menciptakan ilah lain. Segala sesuatu-nya ada idola. Idola itu kan berhala dan itu sesuatu yang dilarang. Dalam kitab Keluaran disebutkan, Jangan ada Allah lain. Kita bisa melihat acara Idol itu menyerap penonton di seluruh dunia,” tambah Tumbur.

SINKRETISASI DENGAN KEKRISTENAN

Tak hanya itu, kini makin banyak manifestasi NAM yang merasuki kehidupan orang posmo. Dan, karena sifatnya yang sangat cair dan tersamar maka banyak orang Kristen yang tanpa sadar terhisab dalam ajaran ini. Bahkan, filosofi NAM kemudian diadopsi oleh kekristenan. Atau dengan kata lain, terjadi sinkretisasi NAM dengan kekristenan.

Inner energy pada diri manusia: kundalini, chi, ki, percikan ilahi, human power, mind power sering kali diintepretasikan dengan Roh Kudus. Tak heran jika banyak training-training berlabelkan Kristen tetapi sekaligus bernafaskan NAM. Seperti yang ditegaskan oleh Tumbur Tobing, SE, MA. ”Mereka tidak pernah mengatakan beraliran NAM, namun isinya ya seperti itu. Yang menjengkelkan, ternyata mereka itu Kristen semua,” kata motivator yang enggan menyebutkan nama training yang dimaksud.

Secara sederhana, mungkin mudah saja mengintepretasikan inner energy itu sebagai Roh Kudus. Namun, menurut Herlianto, intepretasi itu jelas salah kaprah. Roh manusia jelas bukan Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh yang dikaruniakan kepada mereka yang percaya. Bukan kita yang mengolah Roh itu, tetapi Roh Kudus yang mengatur kita.

Alkitab pun dengan tegas membedakan antara Roh Kudus dan roh manusia. Ada perbedaan tegas antara pencipta dan ciptaan. Dalam NAM, keduanya dilebur dan menjadi inti manusia. Lebih jauh, Herlianto juga mengingatkan, agar kita berhati-hati dalam mengolah kekuatan pribadi/potensi manusia seperti yang marak didengungkan oleh training-training pengembangan diri. Karena itu bisa membuat kita menjadi tidak peka terhadap kehadiran Roh Kudus. Bahkan, lambat laun Tuhan akan tergeser dari kehidupan kita.

Kita juga sering kali menonjolkan karunia dan kuasa roh pemberian Allah. Itu kita anggap sebagai potensi pribadi yang bisa diolah sesuka kita. Iman yang menuntut seperti ini, disebut Herlianto, dapat menyerupai kekuatan magi/tenaga dalam yang ada di dalam NAM.

CARA MEMBEDAKAN

Mengutip Jan Aritonang, NAM dengan segala sarana dan metode penyebarannya adalah satu contoh representatif dari produk ”konsumtif” dalam kemasan dan aroma ”spiritual”. Lalu dipasarkan dan membanjiri dunia dengan memanfaatkan arus globalisasi. Mencerca dan mengecam tentu tidak akan memecahkan masalah. Sebaliknya, kita harus mewaspadai kehadirannya dan sekaligus membekali diri.

Wajar jika NAM mampu memikat orang Kristen. Karena NAM memang tidak secara radikal membawa kita berpaling pada Yesus. Namun, lambat laun ajaran NAM akan mengalihkan kita dari Kristus kepada ”kristus” yang lain. Maka, kita harus punya bekal cukup untuk menghadapi gempuran NAM yang semakin dahsyat ini.

Lalu, bagaimana kita bisa mendeteksi sebuah ajaran sudah ”terkontaminasi” dengan NAM? Selain mengetahui ciri-ciri NAM dengan jelas, kita juga bisa membangun ”benteng” di dalam diri kita. Tumbur memberikan kiatnya. Pertama, kita harus lahir baru dan mengalami pembaharuan budi supaya mengerti betul kehendak Tuhan. Kedua, kita harus bertumbuh dalam firman. Karena firman inilah yang akan memberi kita pencerahan pikiran. Kita akan mengalami transformasi Kristen (Kol. 3:23). Ketiga, punya gaya hidup yang berbeda dengan dunia, yaitu dengan menaklukan pikiran pada Kristus (2 Kor. 10:3-5).

Permasalahannya, lanjut Tumbur, banyak orang Kristen tidak mengerti firman. Ketika orang semakin bertumbuh, kehidupannya akan semakin berat sehingga tak sempat lagi berintim dengan Tuhan dan firman-Nya. Padahal, kata Herlianto, firman Tuhan adalah penangkal yang paling ampuh.

Kritik para humanis dan NAM kepada kehidupan orang Kristen bisa jadi ada benarnya. Karena dalam kehidupannya umat Kristen sering berpikir terlalu dogmatik, legalistik, otoriter, dan tidak toleran. Akibatnya, harkat dan martabat manusia sering tidak dihargainya. Namun, tak berarti lalu kita terhisab ajarannya yang kemudian menjauhkan kita dari Kristus. Sebaliknya, kita harus terus tumbuh dan berbuah sehingga menghasilkan kehidupan yang manusiawi dan sekaligus kristiani.

oleh : Krisetiawati Puspitasari

GERAKAN KHARISMATIK - Suatu Tinjauan


Bagaimana Sejarah Munculnya Gerakan Karismatik?

Dr. Martin Luther sebagai tokoh reformator Protestan dari Jerman memulai tindakan memprotes penyelewenganpenyelewengan gereja Katolik Roma dengan menempelkan 95 dalil di depan gereja Wittenberg. Saat itu api dan semangat Luther telah membakar beberapa reformator seperti Calvin, Zwingli, dll untuk meneruskan semangatnya.
Dalam hal ini, penerus Luther yang paling ketat mengajarkan theologi Reformasi adalah John Calvin, yang nantinya menjadi cikal bakal theologi Reformed. Pdt. Dr. Stephen Tong menyebut Luther sebagai pendobrak ajaran yang salah dan Calvin sebagai pembangun ajaran yang benar. Sejarah theologi dan gereja-gereja Reformed/Presbyterian telah berjalan tahun demi tahun meskipun di bawah tekanan yang berat khususnya dari kepausan Roma Katolik, di mana ada
suatu saat, jemaat Protestan di Perancis dibunuh habis oleh raja Perancis yang Katolik.

Sejarah ini terus berjalan, hingga pada suatu saat ada suatu gerakan yang timbul melawan atau tidak puas dengan theologi dan gereja-gereja Reformed/Protestan. Pertama-tama di awal abad 20 (1 Januari 1901), timbullah apa yang disebut dengan Gerakan Pentakosta (Old Pentecostal) yang dimulai dengan seorang wanita yang bernama Agnes Ozman yang mengaku menerima “baptisan” Roh Kudus di Jalan Azusa (Azusa Street). Gerakan ini disebut First Wave Movement (Gerakan Gelombang Pertama). Meskipun sudah menampakkan tanda-tanda ketidakbertanggungjawaban, tetapi gerakan ini masih memegang Alkitab (meski ada yang sudah disalahtafsirkan), lagu-lagu rohaninya cukup bermutu, dll. Gerakan ini disusul dengan Second Wave Movement (New Pentecostal) dan Third Wave Movement yang akhirnya menjadi Gerakan Karismatik yang sekarang ini. Gerakan ini mulai mengheboh ketika terjadi suatu ibadat
“kepenuhan” “roh kudus” di Toronto yaitu apa yang dikenal dengan gejala Toronto Blessing yang terjadi kira-kira akhir abad 20. Gejala ini ditandai dengan suatu tanda di mana ketika di dalam sebuah gereja di Toronto Vineyard Church pada waktu Firman Tuhan diberitakan dan khotbah disampaikan, tiba-tiba beberapa jemaat tertawa terbahak-bahak, menangis meraung-raung, memukul-mukul meja, mengaum seperti singa, dll. Lalu, si “pendeta” yang berkhotbah lalu mengklaim bahwa ini adalah pekerjaan “roh kudus”, maka populerlah suatu istilah “baru” yaitu: “tertawa dalam roh”, “tertawa kudus” (“holy” laughter), dll. Gejala ini mulai mengheboh dan menyusup ke dalam berbagai denominasi gereja induk seperti Gereja Anglikan, Presbyterian, Baptis dan bahkan Katolik Roma (muncul Gerakan Pembaharuan Karismatik Katolik). Dari gejala ini, gereja-gereja di seluruh dunia ikut-ikutan semua, bahkan ada gereja-gereja yang memakai nama “Blessing” di belakang nama gerejanya, yang paling heboh, Ir. Herlianto, M.Th. dalam bukunya Toronto Blessing, Lawatan Roh Allah Masa Kini? pernah menyebutkan adanya sebuah nama: Satay Kranggan Blessing. Istilah “Blessing” begitu ramai dipergunakan oleh orang-orang “Kristen” dan “gereja-gereja” di seluruh dunia. Yang paling menghebohkan sebuah gereja Karismatik “terbesar” di Surabaya (yang memiliki “Graha” di Nginden) pernah mengadakan tour spesial ke Toronto untuk menyaksikan Toronto Blessing untuk dibawa ke gerejanya. Gejala ini sempat heboh, bahkan buku-buku yang membahas mengenai gejala ini (ada yang pro dan kontra) begitu laris di pasaran Kristen. Pdt. Dr. Bambang H. Widjaja (Gereja Kristen Perjanjian Baru–GKPB) pernah menyetujui gerakan Toronto Blessing sebagai karya “roh kudus” dalam sebuah kesaksiannya di Majalah Rohani Populer BAHANA. Gejala ini bertahan paling lama 5 tahun, semenjak awal abad 21, gejala ini sudah tidak terdengar lagi suaranya. Tiba-tiba gejala ini surut total dan buku-bukunya sudah mulai kosong dan tidak dicetak lagi karena gejala ini sudah REDA! Sebagai kelanjutannya, Pdt. Dr. Bambang H. Widjaja ini dalam Majalah Rohani BAHANA mengaku kesalahannya dahulu yang menerima gejala Toronto Blessing sebagai lawatan “roh kudus.”

Setelah gejala ini reda, timbul suatu trend baru dari gerakan Karismatik yaitu bukan pergi ke Toronto, tetapi pergi ke Korea. Seorang “hamba Tuhan” yang memiliki gereja bernama Yoido Full Gospel Church yang pernah menulis Dimensi Ke empat, dll menjadi “hamba Tuhan” booming setelah redanya gejala Toronto Blessing. Melalui gerejanya di Seoul, Korea Selatan, banyak “hamba Tuhan” dan gereja di seluruh dunia meniru dan menganggap gereja Yoido Full Gospel adalah gereja yang sukses karena jumlah jemaatnya terbesar di Korea. Tetapi setelah diadakan survei gereja di seluruh Korea Selatan, ternyata gereja terbesar bukanlah gereja Yoido itu, tetapi Gereja Presbyterian. Bukankah ini sebuah penipuan yang dilakukan oleh gereja-gereja Karismatik yang menganggap diri dari “roh kudus”?! Pendiri Yoido Full Gospel Church tersebut dalam bukunya Dimensi Keempat mengajarkan bahwa ketika kita ingin mempunyai mobil VW kodok, bayangkan warna, jenis, harga dan semua tentang mobil VW kodok, lalu klaimlah, maka Anda akan mendapatkannya.
Ajaran Positive Thinking ini begitu merajalela di dalam gereja-gereja Kristen khususnya di gereja-gereja Karismatik. Lalutidak sampai di situ saja, ajaran-ajaran Positive Thinking juga dicetuskan oleh Dr. Norman Vincent Peale (mantan gereja Methodist), “Rev. Dr.” Robert H. Schuller dan anaknya, Dr. Robert A. Schuller (Crystal Cathedral), “Rev.” John Avanzini, “Rev. Dr.” Morris Cerullo, dll dengan ajaran “Name it and claim it” (“Sebut dan Tuntutlah!”). Setelah itu, ajaran “Word Faith Movement” juga muncul dari pendiri, “Rev.” Benny Hinn, dll. Ajaran ini mengatakan bahwa apa yang kita katakan, kita harus mengimaninya bahwa itu pasti terjadi. Kemudian, muncul tokoh-tokoh terkenal yang juga TV evangelists (“penginjilpenginjil TV) mulai dari Jim Bakker, Jimmy Swagart, dll. Anda tahu siapa kedua tokoh ini? Jim (James) Bakker adalah seorang “pendeta” yang berhasil dengan liciknya menipu orang-orang “Kristen. Di salah satu kebaktian yang disiarkan di TV, Jim Bakker berkata bahwa orang yang duduk di baris keempat dan kolom ke empat (dan seterusnya) sedang sakit kanker, lalu Jim Bakker berkata bahwa Tuhan akan menyembuhkannya. Semua orang kaget dan menyangka inilah pekerjaan “roh kudus” pertama dari karunia-karunia Roh Kudus yaitu kata-kata bijaksana (1 Kor. 12:1-11). Oleh karena itu, gejala ini di kalangan gereja-gereja Karismatik disebut Third Wave Movement (Gerakan Gelombang Ketiga). Tetapi seorang wartawan mulai curiga dengan hal ini, tiba-tiba ia menyelidikinya dan ternyata diketemukan bahwa Jim Bakker memakai sebuah wireless-earphone ketika berkhotbah. Di mana lazimnya, sebelum kebaktian dimulai, ada penyambut tamu yang menanyakan kabar dari para jemaat yang datang, nah, si penyambut tamu ini melaporkan ke Jim Bakker melalui wireless-earphone bahwa si ini, itu sakit ini dan itu. Lalu, Jim Bakker mengatakan bahwa “roh kudus”-lah yang memberitahu demikian. Hidupnya pun benar-benar tidak beres, main pelacur yang tidak lain adalah dengan sekretaris gerejanya sendiri, Jessica Khan. Inilah gaya penipuan yang telah merugikan berjuta-juta orang “Kristen” yang dengan mudahnya ditipu oleh pekerjaan-pekerjaan setan! Inikah pekerjaan “roh kudus”?!

Orang kedua yang sama gilanya adalah Jimmy Swagart. Jimmy Swagart dalam setiap khotbahnya di TV di USA selaluberkata, “God told me” (=Tuhan berkata kepada saya) bahwa gereja-gereja akan suam-suam kuku, dan hanya gerejanya saja yang “bertumbuh.” Di TV, Jimmy Swagart menghina Jim Bakker, tetapi pada saat yang sama, dia sedang berbuat hal yang sama dengan Jim Bakker. Pagi, dia berkhotbah tentang “roh kudus”, dan malam harinya dia pergi ke pelacuran.
Lantai rumahnya dari marmer, kran rumahnya dilapisi emas, dan rumah anjingnya ada AC. Jimmy Swagart memecat asistennya karena tidak mau taat kepadanya. Lalu, si asisten ini merasa benci dan dendam, dan akhirnya bertekad untuk menelusuri kehidupan Jimmy Swagart. Dan akhirnya, si asisten ini menemukan Jimmy Swagart sedang ke pelacuran. Si asisten ini merekam semua adegan ini dan mengempiskan ban mobilnya agar si asisten ini bisa merekam dengan lebih lama semua adegan ini tanpa diketahui oleh Jimmy Swagart. Lalu, hasil rekaman ini dibawa ke sinode Assembly of God (Gereja Sidang Jemaat Allah) di Colorado, USA dan Jimmy Swagart dipanggil sinode, ditontonkan sebuah hasil rekaman video ini dan ditanyai apakah dia berbuat seperti itu. Pertama kali, sebelum ditontonkan hasil rekaman ini, ia tidak mau mengaku, tetapi setelah ditontonkan hasil rekamannya, ia akhirnya mengaku. Ia diharuskan mengaku di TV di hadapan 8.000 orang atau lebih, lalu berita ini tersiar dan kembali, Kekristenan dihina.

Orang ketiga yang tidak bertanggungjawab adalah Oral Roberts. Di TV, dia berteriak-teriak minta uang U$ 8,3 juta. Ia mengaku jika dia tidak dipenuhi keinginan, maka ia akan dipanggil oleh Tuhan. Kemudian, orang-orang “Kristen” pemuja Oral Roberts di USA ramai-ramai mengumpulkan uang karena takut dia meninggal. Tiba-tiba pada hari H, munculnya sebuah check yang berisi U$ 6 juta dan ketika wartawan menelusurinya, apakah orang yang memberikan check ini orang Kristen atau bukan, ternyata bukan. Orang ini berkata, “Ya, kalau orang sudah gila tidak ditolong, kan kasihan. Toh uang saya cukup banyak, nanti kalau orang itu bunuh diri kan kasihan.” Kembali, Kekristenan dihina habis-habisan. Anda mengira ini pekerjaan “roh kudus”?! Anda kira pekerjaan “roh kudus” pasti wah, heboh dan gemerlap ala “club” rohani?!

Setelah gejala Toronto Blessing, pendiri Yoido Full Gospel Church, dan para TV evangelists ini usai, sekarang timbul gejala-gejala baru mulai dari Pensacola Blessing, “mukjizat” gigi emas, “penginjilan” terhadap orang mati, Minyak Urapan, Festival “Kuasa Allah”, Bethany-isme, Mujizat Crusade. Kekristenan telah dirusak oleh ajaran-ajaran yang begitu simpang siur tetapi tetap saja tidak sadar bahkan mereka cenderung menikmatinya (enjoy) karena mereka menganggap yang dari “roh kudus” tidak usah pakai pikiran. Sambil berkata demikian, orang seperti ini sebenarnya secara tidak sadar sedang menggunakan pikirannya untuk mengatakannya. Ironis sekali! Setelah kita menelusuri sejarah-sejarah gerakan ini, mari kita kembali untuk menyelidiki benarkah gerakan ini dari Tuhan dan sesuai Alkitab, atau sebenarnya ini merupakan penipuan yang setan sedang kerjakan untuk memperdayakan anak-anak Tuhan di zaman ini? Jujur saya akui tidak semua gereja-gereja Karismatik/Pentakosta menerima ajaran-ajaran yang sama, karena beberapa dari mereka sudah sadar bahwa ajaran-ajaran mereka salah, dan bahkan ada seorang hamba Tuhan dari Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) menyerang ajaran-ajaran sesat seperti “mukjizat” gigi emas, tertawa “kudus” ala Toronto Blessing, dll.

Apa Kelebihan-kelebihan dari Gerakan Karismatik?

Sebuah gerakan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Nah, pada saat ini kita akan mempelajari sedikit kelebihan gerakan Karismatik.

Pertama, gerakan ini memotivasi orang untuk memberitakan Injil. Memang benar, sepanjang sejarah theologi, khususnya theologi Reformed, semangat penginjilan sudah menjadi luntur semenjak Calvin mengatakan bahwa penginjil tidak diperlukan lagi. Tetapi tidak berarti akibatnya munculnya gerakan Karismatik, muncullah theologi Reformed Injili.
Karena sepanjang sejarah, Rev. Jonathan Edwards, A.M. dan George Whitefield bertheologi Reformed sekaligus bersemangat Injili (mengabarkan Injil). Jadi munculnya theologi Reformed Injili bukan karena adanya gerakan Karismatik, tetapi itu sudah semestinya yang diajarkan oleh Alkitab dan diikuti oleh gereja-gereja. Meskipun gerakan ini memiliki semangat penginjilan, tetapi orang-orang dalam gerakan ini kurang menguasai isi Injil Kristus yang sejati, dikarenakan mereka sendiri tidak perlu theologi yang sehat.

Kedua, ada sukacita dalam pelayanan. Banyak para pelayan gereja-gereja Protestan mainline sudah kehilangan sukacita dalam melayani Tuhan, karena ada “beban” jika mereka harus melayani Tuhan. Gerakan Karismatik sedikit memberikan kontribusi positif yaitu adanya sukacita dalam melayani Tuhan. Mereka rajin dan giat melayani Tuhan. Hal ini yang patut ditiru oleh gereja-gereja Protestan mainline yang hanya pintar bertheologi, tetapi lupa untuk ambil bagian dalam pelayanan. Meskipun gerakan ini memotivasi orang untuk melayani Tuhan, tetapi orang-orang dalam gerakan ini terkadang menyepelekan pentingnya theologi yang sehat dalam pelayanan itu sendiri.

Ketiga, memotivasi orang untuk berdoa. Gereja-gereja Protestan mainline (seperti GKI, GPIB, GKJW, dll) sudah melupakan pentingnya berdoa. Doa menjadi suatu rutinitas dan keterpaksaan semu, sehingga ibadah/kebaktian doa sudah hilang dari peredaran mayoritas gereja-gereja seperti yang saya sebutkan. Dalam hal ini, gerakan Karismatik sedikit memberi kontribusi positif yaitu pentingnya jam doa dalam gereja. Tetapi yang perlu disadari apa pentingnya jam doa ini dan motivasi dalam berdoa, kurang dimengerti secara holistik oleh gerakan Karismatik, sehingga mereka mengadakan doa bahkan doa semalam suntuk tanpa mengetahui motivasi, tujuan dan cara yang benar yang seperti Tuhan inginkan. Saya tidak menyalahkan jika gereja-gereja mengadakan ibadah/persekutuan doa bahkan doa semalam suntuk, karena itu baik, tetapi motivasi, cara dan tujuan dari doa tersebut harus jelas.

Keempat, khotbah yang cukup panjang/lama. Gereja-gereja non-Karismatik (Protestan mainline dan Katolik Roma) memiliki jam khotbah lebih pendek dari gereja-gereja Karismatik. Ambil contoh, gereja Katolik mempergunakan jam khotbah hanya kira-kira 10-15 menit dan selebihnya dipergunakan hanya untuk liturgi ibadah. Hal ini dilatarbelakangi oleh pemikiran dari seorang theolog Katolik Roma Thomas Aquinas yang mengatakan pentingnya liturgi dalam gereja, sehingga khotbah dan penyampaian Firman Tuhan disingkirkan bahkan hampir diabaikan. {Hal ini akan saya uraikan pada edisi berikutnya}. Gereja-gereja Protestan mainline (seperti GKI) mempergunakan jam khotbah hanya kira-kira 30 menit dari kira-kira 1 jam ibadah, lebih lama sedikit dari gereja-gereja Katolik Roma, tetapi masih sebentar. Dan gerejagereja Injili (seperti GKA, GKT, dll) hanya mempergunakan waktu 30-45 menit dari 90 menit ibadah, lebih mendingan dari gereja-gereja seperti GKI, dll, tetapi masih kurang. Dalam hal ini, gereja-gereja Karismatik mempergunakan jam khotbah hampir 1 jam penuh, meskipun perlu disadari beberapa khotbah mereka hampir tidak ada isinya karena terlalu banyak lelucon, kesaksian, cerita-cerita, dll. Gerakan Reformed Injili dari hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong mendobrak gereja-gereja seperti ini dan mulai menempatkan pemberitaan Firman Tuhan melalui khotbah ekspositori (membahas dan menafsirkan ayat per ayat dalam satu perikop Alkitab). Gereja-gereja yang memegang teguh theologi Reformed Injili menjalankan pemberitaan Firman di mana khotbah gereja-gereja tersebut menggunakan cukup lama, biasanya 1 jam.

Kelima, menggugah kembali pentingnya pengalaman rohani. Gereja-gereja Protestan mainline terlalu menekankan
pentingnya theologi dan akademis, sampai lupa pentingnya juga pengalaman rohani dengan Tuhan. Dalam hal ini, gerakan Karismatik menggugah kembali pentingnya pengalaman rohani, tetapi masalahnya pengalaman rohani tidak selalu datang dari Tuhan. Nah, oleh karena itu, kembali, Gerakan Reformed Injili menyeimbangkan kedua hal ini, pentingnya theologi yang sehat dan bertanggungjawab yaitu theologi Reformed dan pengalaman rohani sejati yang sesuai Alkitab. Setiap pengalaman rohani yang bukan datang dari Allah dan tidak sesuai dengan Alkitab wajib dibuang, sedangkan yang sesuai dengan Alkitab, menandakan adanya hubungan yang intim/relationship dengan Allah. Tidaklah salah jika ada orang yang bersaksi di gereja, menyaksikan cinta kasih Tuhan, tetapi yang perlu diperhatikan kesaksian itu apakah asli atau palsu dan apakah yang disaksikan benar-benar sesuai Alkitab atau asal comot ayat Alkitab tanpa
melihat konteks lalu bersaksi sembarangan dengan pakai ayat Alkitab tersebut.


Apa Kekurangan-kekurangan dari Gerakan Karismatik?

Pertama, “theologi” kemakmuran (=hedonisme). Mayoritas (TIDAK SEMUA) gerakan/gereja Karismatik mengagungkanapa yang disebut sebagai “theologi” kemakmuran atau yang disebut sebagai “injil” sukses. Ajaran ini mengatakan bahwa setiap orang “Kristen” harus sukses, kaya, berhasil, berkelimpahan, sehat, dll. Buku-buku yang bertemakan sukses dari pendiri Yoido Full Gospel Church tersebut yang berjudul, “Mengapa Saya Harus Menderita?”, “Dimensi Keempat”, dll begitu laris di pasaran Kekristenan. Bahkan ada satu gereja Karismatik “terbesar” di Surabaya menggunakan nama depan “Successful.” Siapa sich di dunia ini yang tidak mau sukses? Bahkan banyak “hamba Tuhan” pun salah mengerti konsep sukses yang Tuhan inginkan. Bukankah dunia ini selalu mengajarkan sukses, berpikir dan menjadi kaya, dll? Menurut mereka, sukses itu ditandai dengan banyaknya uang, kita semakin dihormati, atau mungkin kita menjadi motivator unggul seperti yang sedang digembar-gemborkan oleh Tung Desem Waringin (semboyan utama: “Dahsyat!”), Johan Yan (slogan utamanya: Poor is Sin atau Miskin adalah Dosa), Andrie Wongso (slogan utamanya: “Success is My Right” atau Sukses adalah Hak Saya) yang mengadakan seminar bersama A. A. Gym. Itukah sukses yang Tuhan inginkan? TIDAK!
Kalau begitu, apakah orang Kristen tidak boleh sukses? TIDAK juga! Tuhan menginginkan orang Kristen sukses dengan cara Tuhan yaitu rela menjadi hamba, taat mutlak pada perintah-Nya, tidak mau-maunya sendiri, mengerjakan apa yang Alkitab ajarkan yaitu jujur, setia, taat, suci, dan tidak tamak/cinta uang (1Tim. 6:10). Dengan kata lain, Tuhan menginginkan kita sukses dengan motivasi, cara, dan tujuan yang memuliakan Tuhan (Rm. 11:36).

Jika kesuksesan, kemakmuran, dan ada “roh kudus” ditandai dengan hal-hal fenomenal (seperti, jemaat gereja yang semakin banyak), maka Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa sebutlah juga Mekkah sebagai tempat yang ada “roh kudus” karena setiap tahun orang yang datang ke Mekkah, itu hampir 12 juta lebih banyak dari orang-orang dalam sekali penginjilan oleh Billy Graham. Kuantitas tak menjamin sebuah gereja benar-benar ada Roh Kudus. Karena sejujurnya, gereja-gereja setan di USA lebih banyak pengikutnya, beranikah Anda mengatakan itu juga dari “roh kudus”?



Kedua, mutlaknya berbahasa roh. Mayoritas (tidak semua) dari gerakan ini memutlakkan bahasa roh sebagai satusatunya tanda kepenuhan “roh kudus.” Bahkan di salah satu gereja Karismatik terbesar di Surabaya membuka SOM (Sekolah Orientasi Melayani) yang mempelajari bahasa roh. Sungguh lucu, apakah Alkitab pernah mengajarkan bahasa roh perlu dipelajari? Bukankah itu salah satu dari karunia Roh Kudus yang paling tidak penting (1 Kor. 12:1-11)? Bahkan, Pdt. Thomy J. Matakupan dalam katekisasi yang pernah saya ikuti, pernah mengatakan bahwa di sebuah SOM (Sekolah Orientasi Melayani) di gereja Karismatik “terbesar” di Surabaya, ada “pendeta” yang menyebutkan bahwa hanya orang-orang yang bisa berbahasa roh yang diangkat Tuhan Yesus ke Surga (atau diselamatkan). Di seluruh Alkitab, tidak ada satu ayat pun yang mengajar hal seperti ini. Inilah namanya sesuatu yang relatif dimutlakkan. Masih adakah bahasa roh sampai sekarang? Masih ada, tetapi penggunaannya sudah diselewengkan oleh banyak “pemimpin-pemimpin gereja” yang tidak bertanggungjawab! Bahasa roh bukan sebagai syarat untuk diselamatkan (Second Blessing/Berkat Kedua), tetapi itu hanya karunia dan hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang Allah inginkan. Karunia ini pun adalah termasuk karunia yang tidak penting karena urutannya paling akhir, karena karunia ini mudah dipalsukan oleh setan.
Kalaupun karunia bahasa roh ada, ini harus dipergunakan hanya dalam pengabaran Injil bukan sebagai embel-embel/ syarat tambahan untuk masuk Surga. Keselamatan hanya ada di dalam nama Tuhan Yesus dan hanya melalui anugerah-Nya yang memberikan iman kepada anak-anak-Nya serta kita melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Tidak ada cara lain manusia bisa diselamatkan, hanya oleh karena anugerah dan iman saja, bukan karena perbuatan baik atau pun kemampuan berbahasa roh (juga bisa digolongkan sebagai perbuatan baik manusia). Untuk hal ini, silahkan baca 1 Korintus 14:1-40 (baca seluruh ayat, jangan dipotong-potong).



Ketiga, “rebah dalam roh.” Mayoritas gerakan ini mempercayai bahwa jika “roh kudus” bekerja atas orang-orang tertentu maka orang-orang tersebut harus rebah/jatuh ke belakang (Jawa: nggeblak). Hal ini terjadi pada banyak ibadah/kebaktian kesembuhan “ilahi” atau dengan istilah-istilah seperti: Festival “Kuasa Allah” atau KKR Kesembuhan “Ilahi” atau sejenisnya. Biasanya orang-orang yang maju ke depan (altar call) didoakan oleh “pendeta” lalu tiba-tiba pasti disertai
adegan nggeblak ini. Kalau pun orang-orang ini ada yang tidak nggeblak, sang “pendeta” mendorong-dorong atau kalau perlu meniup (entah sudah sikat gigi atau belum) supaya orang ini bisa jatuh/nggeblak (entah apakah itu dari “roh kudus” atau tidak tahan bau si “pendeta” yang belum sikat gigi atau baru makan jengkol). Kemudian, anehnya, ada orang-orang/panitia-panitia yang menjaga agar orang-orang yang jatuh ini kepalanya tidak sampai ke tanah. Pdt. Thomy J. Matakupan (GRII Andhika) kembali mengatakan bahwa Alkitab tak pernah mengajarkan dua adegan ini! Benarkah Alkitab mengajar bahwa orang dipenuhi Roh Kudus pasti jatuh ke belakang? Alkitab TIDAK pernah mengajarkan hal tersebut satu kali pun. Lalu, bagaimana dengan Paulus? Mari kita analisa. Di dalam Kisah Para Rasul 9:4, dr. Lukas mencatat, “Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"” Kata “rebah” di dalam terjemahan Indonesia kurang tepat. Mayoritas Alkitab terjemahan Bahasa Inggris menerjemahkannya sebagai jatuh ke tanah (fall to the earth). Apakah ini berarti jatuh ke belakang? Saya lebih menafsirkan itu sebagai jatuh tersungkur. Mengapa? Karena Paulus adalah seorang Yahudi yang tahu bahwa jika ada sinar terang yang menyilaukan itu pasti Tuhan, sehingga reaksi pertama yang ia lakukan pasti tersungkur. Di dalam Perjanjian Lama, tidak ada satu nabi, imam, dan raja yang berdiri di hadapan Tuhan (atau dipenuhi Roh Allah) lalu tiba-tiba jatuh ke belakang. Daud ketika dipenuhi Roh Kudus, ia tidak jatuh ke belakang, begitu juga dengan para nabi, imam, dan raja lain.

Keempat, Word of Faith Movement (Gerakan Kata-Kata “Iman”). Mayoritas dari gerakan ini mempercayai bahwa apa pun yang kita katakan, kita harus mengimaninya bahwa itu pasti terjadi. Itukah iman? Itu bukan iman, tetapi self-confidence (kepercayaan diri) yang menggunakan nama iman dan Tuhan dengan sembarangan padahal itu dari diri sendiri.
Bedakan dua istilah antara iman dan kepercayaan diri/Positive Thinking! Iman adalah penyerahan total diri manusia kepada Allah dan menempatkan-Nya sebagai Tuhan (LORD; Yunani: Kurios) di dalam hidupnya (Yunani: pistos berarti bergantung pada Kristus). Sedangkan kepercayaan diri atau berpikir positif ala duniawi adalah berpusat pada manusia (dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia à tesisnya berbeda total dari Roma 11:36: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”) Prinsip penting iman sejati (bukan kepercayaan diri) dapat kita pelajari melalui doa Tuhan Yesus di Taman Getsemani. Ketika Ia mau disalib, Ia dengan sedih hati berseru kepada Bapa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku,” (Mat. 26:39), tetapi Ia tidak berhenti di situ, Ia melanjutkan perkataannya, “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Itulah iman, yaitu penyerahan total pada kehendak-Nya yang berdaulat.

Kelima, orang-orang “Kristen” yang sakit pasti disembuhkan oleh Tuhan. Kembali, Word Faith Movement muncul. Kalau ini bentuknya mirip Word Faith Movement, tetapi lebih menekankan aspek self-confidence dari si sakit lalu si sakit harus memiliki “iman kepada Tuhan” (yang sebenarnya iman kepada diri sendiri) bahwa dia pasti sembuh. Mereka menggunakan istilah, “Name it and claim it!” (Sebut dan Tuntutlah!). Mereka beralasan kita adalah anak-anak Raja, di
mana Raja pasti menuruti apa yang kita mau, karena kita adalah anak-anak-Nya. Benarkah ajaran demikian? Bukankah Kristus sendiri yang adalah Anak Allah dibiarkan oleh Bapa-Nya menanggung dosa manusia bahkan sampai disalib di kayu salib? Kalau seandainya ajaran ini benar, tentunya Kristus juga tidak boleh dibiarkan oleh Bapa-Nya untuk mati di kayu salib demi dosa-dosa kita karena Kristus adalah Anak Allah (bdk. Mat. 26:39), dan bagaimana “nasib” kita yang dosanya tambah lama tambah besar dan tak tertebus?! Orang yang memiliki kepercayaan bahwa kalau mereka sakit pasti disembuhkan oleh Tuhan, suatu saat ketika mereka benar-benar sakit dan Tuhan tidak menyembuhkannya, maka orang-orang seperti ini paling dahulu menghujat Allah dan meninggalkan gereja. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan beliau pernah bertemu dengan seorang “Kristen” yang mengatakan bahwa dia sedang kecewa kepada Allah.
Beliau bingung mengapa ada orang “Kristen” seperti ini. Apakah ini salahnya sendiri atau sebaliknya, salahnya gereja yang mengajarkan Alkitab secara sembrono dan mengatakan bahwa orang Kristen pasti sukses, sehat, kaya, berkelimpahan, dll? Benarkah orang sakit pasti disembuhkan oleh Tuhan? Sebenarnya yang berdaulat itu Tuhan atau manusia? Kalau ajaran ini benar, maka idealnya, manusia lah yang mengatur alam semesta dan “Tuhan” menjadi pembantunya saja. Tetapi kenyataannya, manusia saja mengurusi keluarga saja tidak beres, apalagi mengurusi alam semesta tambah tidak beres. Jadi, siapa yang sebenarnya berdaulat? Tentulah, Allah. IA memang mampu menyembuhkan penyakit karena IA Mahakuasa, tetapi IA sendiri belum tentu mau melakukannya, karena mungkin tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Misalnya: kalau penyakit si X disembuhkan, si X tidak lagi melayani Tuhan, maka IA tidak menyembuhkan penyakitnya. Paulus, sang rasul Kristus pun menderita suatu penyakit yang TIDAK disembuhkan Tuhan (lih. 2Kor. 12:7-10). Ini membuktikan anak Tuhan TIDAK luput dari sakit, penderitaan, kesengsaraan, bencana, dll, tetapi bedanya, ketika menghadapi semua kesulitan, anak-anak Tuhan memandang kepada Tuhan dan beriman kepada-Nya sehingga mereka bisa bertahan sampai akhir dan mencapai kemenangan yang gilang-gemilang, karena mereka telah ditempa oleh Tuhan (bdk. 2Kor. 12:10 yang merupakan reaksi Paulus setelah penyakitnya tidak disembuhkan Tuhan).

Keenam, “roh kudus” melawan rasio. Bukankah mayoritas “hamba Tuhan” dari gerakan ini melawan theologi habis-habisan
dan menganggap theologi itu produk setan?! Mereka menganggap orang yang dipenuhi “roh kudus” tidak boleh pakai
akal/rasio. Sungguh aneh, bukan? Rasio itu diciptakan oleh Tuhan dan barangsiapa yang menghina rasio, ia juga
menghina Tuhan sebagai Penciptanya. Memang, orang Kristen tidak boleh mendewakan rasio, tetapi orang Kristen tetap
harus berpikir dan beriman ketika di gereja. Masalahnya, orang Kristen kalau ke gereja sudah tidak mau lagi
menggunakan pikirannya karena si “pendeta” berkata bahwa khotbah itu tidak boleh memberatkan jemaat. Benarkah Roh
Kudus bertentangan dengan rsaio? Bukankah Alkitab sendiri mengatakan bahwa Roh Kudus akan datang untuk
menginsyafkan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman serta apa yang Kristus telah ajarkan (baca: Yohanes
15-16)?

Ketujuh, pendeta/hamba Tuhan yang berbisnis. Di lingkungan mayoritas gereja Karismatik/Pentakosta, tidak usah heran,
banyak gembala sidang/pendeta/hamba Tuhan yang berbisnis. Mereka membagi hamba Tuhan menjadi dua, full-time
dan part-time. Hamba Tuhan full-time melayani Tuhan penuh waktu di gereja sebagai pengerja/pendeta, sedangkan
yang part-time melayani Tuhan penuh waktu sebagai pendeta sambil bekerja di luar entah itu sebagai usahawan
(businessman), dokter gigi, dokter umum, insinyur, dll. Jabatan dualisme yang mengajar bahwa pendeta boleh bekerja
jelas tidak diajarkan Alkitab. Lalu, bagaimana dengan Paulus, bukankah dia tukang kemah? Baca Kis. 18:3. Dokter
Lukas mencatat bahwa Paulus bersama Akwila dan Priskila adalah sama-sama tukang kemah. Tetapi perlu diingat
Paulus bekerja sebagai tukang kemah bukan sebagai profesi tambahan, tetapi untuk mencukupi keuangan. Sedangkan
yang terjadi pada banyak pendeta sekarang bukan mencukupi biaya hidup/keuangan, tetapi MENAMBAH
biaya/keuangan, akibatnya tidak heran banyak pendeta di gereja Karismatik/Pentakosta pasti kaya-raya, mempunyai
mobil mewah lebih dari 1. Salah seorang gembala senior gereja Karismatik terbesar di Surabaya memiliki rumah
bertingkat di daerah Dharmahusada di Surabaya, pintu pagar otomatis, mobil mewah, dll. Pdt. Dr. Stephen Tong
memaparkan bahwa ada pendeta Karismatik di Amerika Serikat memiliki rumah mewah, kran airnya terbuat dari emas,
bahkan rumah anjingnya ada AC-nya. Di dalam hal keuangan, banyak pendeta Karismatik/Pentakosta tidak beres. Anda
bisa membaca sendiri apa yang dipaparkan di atas tentang Oral Roberts yang menipu, sehingga setelah kasus itu,
Kekristenan dihina. Kembali, kalau begitu, bolehkah pendeta/hamba Tuhan bekerja? TIDAK. Mengapa? Karena pendeta
dan penginjil dipanggil murni melayani Tuhan secara penuh waktu, bukan untuk hidup dualisme seperti itu. Jika memang
pendeta dan penginjil boleh bekerja sekuler, berarti konsentrasi mereka terpecah, dan otomatis mereka tidak akan bisa
mempersiapkan khotbah mereka di hari Minggu dengan baik. Akibatnya, khotbah mereka banyak yang kacau, asal
comot ayat tanpa memerhatikan konteks yang ada. Pendeta/penginjil yang beres di dalam mempersiapkan khotbah tidak
sembarangan, karena di dalam khotbah yang bertanggungjawab, mereka harus menggali ayat-ayat Alkitab yang
membutuhkan studi yang tidak mungkin bisa hanya dalam waktu satu jam saja. Di lain pihak, pekerjaan sekuler mereka
juga tidak beres. Bukan menjadi rahasia umum, banyak pendeta yang bekerja sekuler, seperti menjadi dokter, profesi
dokternya tidak karuan. Saya mendengar sendiri dari seorang pasien seorang dokter di Surabaya yang juga bekas
pendeta gereja Karismatik terbesar di Surabaya bahwa diagnosa “pendeta” dokter ini salah, bahkan hampir
mengakibatkan keluarga si pasien meninggal. Inilah akibat sang pendeta yang bekerja sekuler (Jawa: nyambi).

Kedelapan, konsep pelipatgandaan persembahan/persepuluhan. Bukan menjadi rahasia umum, jika di dalam myaoritas
gereja Karismatik/Pentakosta, sering ditekankan bahwa yang memberi persembahan/persepuluhan pasti diberkati “Tuhan”
berlipat kali ganda. Mereka gemar mengutip 2Kor. 9:6 sebagai rangsangan jemaat memberi persembahan yang banyak,
“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai
banyak juga.” Apa kesalahan konsep ini? Ada dua:
Pertama, mereka mengiming-imingi jemaat agar memberi banyak persembahan. Dengan kata lain, Tuhan yang
diajarkan sang pendeta kepada jemaat itu seperti bank yang bisa memberikan bunga lebih setelah kita menyetorkan
uang. Saya mendengar cerita sendiri dari seorang rekan dari saudara sepupu saya yang bergereja di sebuah gereja
Karismatik terbesar di Surabaya. Dia bercerita bahwa rekannya itu miskin hanya memiliki satu truk sebagai
sarana/modal ia berusaha. Ketika ia mendengar bahwa yang memberi banyak pasti diberkati Tuhan berkelimpahan, maka ia menyerahkan satu-satunya truk kesayangannya kepada gereja tersebut. Alhasil, sekarang, dia merana karena
setelah truk kesayangannya diberikan kepada gereja tersebut, dia tambah miskin dan tidak bisa bekerja bahkan untuk
mengganti kacamatanya yang rusak. Ketika diminta kembali kepada gereja tersebut, gereja tersebut menolak. Akhirnya,
saudara sepupu saya ini bersama teman-teman lainnya menyumbang teman yang kena musibah ini. Inikah gereja?
Gereja bukan lagi tempat mencari dan memuliakan Tuhan, tetapi sebagai ajang memeloroti uang jemaat dengan dalih
persembahan yang pasti diberkati Tuhan berlipat ganda. Bertobatlah pendeta/gereja yang cari untung ini, sebelum
Tuhan menghukum Anda dengan keras!
Kedua, memberi persembahan bukan dengan motivasi ingin diberkati, tetapi harus dengan tulus/sukacita. Mereka gemar
mengutip ayat 6 di 2Kor. 12 di atas, tetapi (sengaja) tidak membaca ayat selanjutnya (model penafsiran banyak pendeta
Karismatik yang asal comot ayat). Di ayat 7, Paulus mengajar, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan
hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
Tuhan tidak menginginkan kita memberi persembahan yang banyak, tetapi TIDAK dengan sukacita/tulus hati. Tuhan
menginginkan kita memberi dengan sukacita/tulus/ikhlas. Tetapi tidak berarti karena Tuhan menginginkan kita memberi
dengan tulus, maka kita memberikan uang yang paling kecil nilainya. Konsep ini juga salah. Yang benar, kita memberi
persembahan dengan sukacita yang didasari oleh suatu sikap hati yang mau mempersembahkan yang terbaik bagi
Tuhan (bdk. Rm. 12:1-2). Setelah kita memberi persembahan, maka Ia berjanji, “Dan Allah sanggup melimpahkan segala
kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di
dalam pelbagai kebajikan.” (ay. 8) Tuhan pasti memberkati mereka yang memberi, tetapi selidikilah ayat 8, berkat apa
yang Tuhan beri? Pertama, kecukupan di dalam segala sesuatu (bukan kelimpahan). Kedua,
berkelebihan/berkelimpahan di dalam kebajikan. Paulus jelas mengajar bahwa yang terpenting kita berkelimpahan di
dalam kebajikan/pekerjaan baik, sedangkan kalau urusan hal-hal fisik, kita hanya perlu berkat yang secukupnya.
Ingatlah salah satu kalimat di dalam Doa Bapa Kami, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”
King James Version menerjemahkannya, “Give us this day our daily bread.” (=Berikanlah kami pada hari ini roti/makanan
kami sehari-hari.)

Kesembilan, persembahan/persepuluhan milik pendeta. Banyak gereja Karismatik mengajarkan bahwa
persembahan/persepuluhan itu milik pendeta. Mereka mengajar ini dengan dasar “Alkitab” yaitu suku Lewi mendapatkan
persembahan dari kesebelas suku lain, lalu suku Lewi diidentikkan dengan pendeta sekarang. Benarkah konsep ini?
Mari kita analisa kelemahan fatal ajaran ini di dalam perspektif Perjanjian Lama tentang jabatan Lewi.
Pertama, suku Lewi di dalam Perjanjian Lama tidak bekerja TIDAK seperti kebanyakan pendeta Karismatik yang masih
berbisnis. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II (1995) mencatat, “Orang Lewi berdasarkan sifat kedudukan dan tugasnya
mereka dalam masyarakat Israel, tidak mempunyai mata pencaharian atau harta warisan untuk menjamin hidup mereka:
...” (hlm. 252) Jadi, kaum Lewi adalah kaum yang TIDAK bekerja, karena mereka hanya berfokus melayani Tuhan di Bait
Allah, sehingga mereka berhak mendapat persembahan dari kesebelas suku Israel lainnya.
Kedua, suku Lewi meskipun tidak bekerja dan mendapatkan persembahan dari kesebelas suku lain, mereka tetap harus
mempersembahkan persepuluhan mereka. Dengan kata lain, mereka mempersembahkan persepuluhan lebih banyak
dari kesebelas suku lain. Saya akan mengutip ilustrasi dari Pdt. Dr. Stephen Tong tentang hal ini. Misalkan, kesebelas
suku Israel menyumbang 10% dari pendapatannya kepada suku Lewi, maka suku Lewi mendapatkan 110%, namun
suku Lewi juga diperintahkan memberikan 10% dari apa yang sudah didapatkannya, jadi totalnya suku Lewi
menyumbang 11% dari pendapatannya (lebih banyak 1% dari kesebelas suku lainnya). Ensiklopedi Alkitab Masa Kini
Jilid II mencatat kembali mengenai hal ini, “orang Lewi tidak boleh memegang seluruh persembahan itu, mereka juga
disuruh untuk ‘mempersembahkan persembahan khusus’ yang diambil dari persepuluhan yang diterima, yaitu
persepuluhan dari persepuluhan (Bil. 18:26).” (ibid., hlm. 252) Untuk lebih jelasnya, kita memerhatikan apa yang Tuhan
firmankan sendiri di dalam Bil. 18:26, “Lagi haruslah engkau berbicara kepada orang Lewi dan berkata kepada mereka:
Apabila kamu menerima dari pihak orang Israel persembahan persepuluhan yang Kuberikan kepadamu dari pihak
mereka sebagai milik pusakamu, maka haruslah kamu mempersembahkan sebagian dari padanya sebagai
persembahan khusus kepada TUHAN, yakni persembahan persepuluhanmu dari persembahan persepuluhan itu,”
Silahkan baca dan mengerti sendiri apa yang Allah firmankan ini, karena ayat ini sudah sangat jelas.

Selain itu, konsep ini jelas salah di dalam perspektif Perjanjian Baru, yaitu: para rasul Kristus sendiri tidak menerima
persembahan sepeser pun dari jemaat. Jemaat mula-mula dicatat oleh dr. Lukas bahwa mereka saling berbagi (Kis. 2:44-
45) dan tidak ada satu bagian Perjanjian Baru mencatat bahwa Paulus, Petrus, dll mengambil semua persembahan
untuk kepentingan mereka.
Dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru, kita mempelajari bahwa konsep persepuluhan adalah milik
pendeta tidak pernah diajarkan Alkitab dan barangsiapa yang mengajarkan hal tersebut pasti memiliki motivasi yang
tidak murni. Hendaklah orang seperti ini bertobat!

Kesepuluh, anti-liturgi. Mayoritas (tidak semua) gereja Karismatik/Pentakosta tidak mau menggunakan liturgi di dalam kebaktian seperti gereja-gereja arus utama (Protestan dan Katolik) karena mereka beranggapan bahwa liturgi membatasi “Roh Kudus.” Mereka berpikir bahwa Roh Kudus itu bebas maka tidak boleh diikat oleh apa pun termasuk liturgi. Padahal konsep ini secara tidak sadar menyerang pemikiran mereka sendiri yaitu Roh Kudus baru bisa bekerja jika tidak ada liturgi, sebaliknya jika ada liturgi, Roh Kudus tidak bisa bekerja. Dengan kata lain, “Roh Kudus” menurut mereka baru bisa bekerja jika tidak ada liturgi sama sekali Bekerja atau tidak bekerjanya Roh Kudus mengapa harus ditentukan oleh manusia? Ini kelemahan fatal ajaran ini. Karena percaya bahwa liturgi itu tidak penting, maka mereka menciptakan suasana ibadah yang kacau dan terkesan liar, semaunya sendiri meloncat-loncat, menari-nari, dll dengan tempelan ayat-ayat Alkitab bahwa itu seperti Daud yang “dipenuhi roh kudus” lalu menari-nari. Padahal Alkitab di dalam Perjanjian Lama mencatat bahwa Daud menari-nari setelah menang perang, bukan karena dipenuhi Roh Kudus (baca: 2Sam. 5-6). Konteksnya waktu itu, Daud menang melawan orang Filistin (2Sam. 5:25), maka ia membawa Tabut Allah pulang ke Israel, di saat itu ia menari-nari (baca: 2Sam. 6:1-5). Jadi, tindakan menari-nari Daud adalah tindakan wajar sebagai reaksi orang yang menang perang dan bukan menjadi patokan bahwa orang yang dipenuhi Roh Kudus harus menari-nari.

Mereka juga mengajar bahwa di dalam memuji Tuhan, kita harus membebaskan roh kita. Di seluruh Alkitab, konsep ini tidak pernah diajarkan! Konsep ini lebih mirip konsep Gerakan Zaman Baru dan Pantheisme yang mengajarkan pengosongan diri dan bersatu dengan makro-kosmos ketimbang konsep Alkitab!

Mereka juga sering bertepuk tangan di dalam memuji Tuhan. Tepuk tangan memang tidak dilarang, karena itu merupakan salah satu ekspresi sukacita kita, tetapi masalahnya apa motivasi kita bertepuk tangan? Tulus? Atau ikutikutan saja? Yang lebih parah, kalau orang lain bertepuk tangan, maka kita juga ikut-ikutan bertepuk tangan, takutnya kalau tidak begitu, dianggap tidak ada “Roh Kudus.” Ini jelas salah. Tepuk tangan boleh, tetapi motivasinya harus jelas, sungguh-sungguh memuji Tuhan!

Selain ekspresi di dalam ibadah, mereka sering kali memakai lagu-lagu ciptaan mereka sendiri. Mereka menggudangkan
lagu himne dengan dalih itu kuno dan tidak modern. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah memberikan jawaban lucu terhadap
pertanyaan mengapa Reformed menggunakan lagu himne. Beliau mengatakan bahwa kalau lagu himne itu kuno dan
harus dibuang, mengapa manusia di zaman sekarang masih makan nasi, bukankah nasi itu barang kuno? Kalau
manusia di zaman modern menganggap diri modern, makanlah emas, minumlah oli (jangan minum air, coca cola, dll, itu
kuno), mandilah pakai pasta gigi/odol, sikat gigilah pakai sabun, dll. Pdt. Stephen Tong dan saya sendiri tidak
bermaksud bahwa semua lagu himne itu pasti baik, dan semua lagu kontemporer itu buruk. Tidak. Ada lagu-lagu himne
yang tidak baik, sebaliknya ada beberapa lagu kontemporer yang baik, seperti “Mulia” (Majesty), “Dengar, Dia Panggil
Nama Saya”, dll. Lagu-lagu tersebut baik. Semua macam lagu harus ditinjau kritis berdasarkan Alkitab. Tidak peduli, lagu
himne atau kontemporer, keduanya harus kembali kepada Alkitab (Sola Scriptura). Percuma saja, kita memegang teguh
pandangan Reformasi: Sola Scriptura, tetapi kita tidak mengimplikasikannya di dalam kita memilih lagu-lagu rohani!

Kesebelas, ketidaketisan di dalam menjaring jumlah jemaat. Poin terakhir yang kita akan selidiki berkenaan dengan ketidaketisan beberapa gereja Karismatik di dalam menjaring jumlah jemaat. Saya mengatakan “beberapa” karena memang tidak semua gereja Karismatik melakukan hal tersebut. Saya pribadi soalnya sudah mengalami dan mendengar langsung dari beberapa rekan, dari ayah saya, dan secara langsung saya jumpai sendiri, dua buah gereja Karismatik terkenal di Surabaya menjaring jumlah jemaat dengan tidak etis, yaitu mencuri domba gereja lain. Gereja pertama adalah gereja Karismatik yang membangun Graha di Nginden, Surabaya. Ayah saya sendiri mendengar seorang jemaat gereja tersebut (atau pengunjung gereja tersebut) membisiki seorang jemaat lain yang sedang beribadah di GKI untuk pergi ke gerejanya, karena gerejanya itu enak, dll. Gereja kedua adalah gereja di mana pendetanya masih muda dan suka menyelenggarakan Festival “Kuasa Allah” (FKA). Para pemuda gereja ini berkobar-kobar mengajak pemuda gereja lain untuk ikut baik dalam kebaktian pemuda mereka maupun FKA tersebut. Gereja kedua ini lebih tidak etis. Mereka menggunakan cara untuk menarik jemaat/pemuda gereja lain ke gereja mereka dengan cara mendatangi rumah setiap orang, persis seperti Saksi Yehuwa! Saya sendiri menjumpai hal tersebut, sehingga saya bisa menceritakan hal ini.
Kasus kedua, seorang teman saya satu kampus menceritakan bahwa dirinya (jemaat gereja Protestan/Injili) tiba-tiba didatangi oleh beberapa pemuda gereja ini untuk ikut kebaktian pemuda mereka. Teman saya ini kaget dan bertanyatanya dari mana mereka tahu rumah, no HP, dan no telepon rumahnya. Teman saya ini menolak undangan mereka dan reaksi mereka agak sedikit memaksa.


Perubahan/Perkembangan Gerakan Karismatik

Masih banyak ajaran Karismatik yang perlu dibereskan satu per satu melalui tema-tema yang berbeda pada edisi-edisi berikutnya. Sekarang, mari kita menyelidiki perkembangan dan sedikit perubahan gereja-gereja Karismatik abad ini.
Setiap kali saya membicarakan gerakan Karismatik, saya TIDAK menyebutkan kata “semua gerakan Karismatik”, karena saya tahu ada beberapa gereja-gereja Karismatik/Pentakosta yang menyadari kekeliruannya dan bertobat. Ada beberapa tokoh-tokoh/”pendeta-pendeta” Karismatik yang menyadari kekeliruannya dan bertobat:

Pertama, Jim Bakker. Jim Bakker yang sudah saya kemukakan di atas bahwa dia adalah pengkhotbah TV yang ternyata menipu jutaan jemaat melalui wireless-earphone yang dipasang itu akhirnya mengakui kesalahannya dan melalui pengakuannya yang dicantumkan di Majalah Rohani Populer BAHANA: I Was Wrong (Saya Dulu Salah) mengungkapkan semua kekeliruannya dulu bahkan saya sendiri pernah melihat buku yang ditulis Jim Bakker yang membahas racun dari “theologi” kemakmuran yang edisi terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Metanoia.

Kedua, “Rev.” Benny Hinn yang juga pencetus ajaran Word Faith Movement dan “theologi” kemakmuran juga mengakui kesalahannya setelah menyadari ketika ia sedang melayani Tuhan di sebuah daerah, ternyata ada seorang Kristen yang miskin tetapi setia dalam mengikut Tuhan. Di saat itulah, Benny Hinn sadar lalu mengoreksi kesalahannya yang dahulu mempopulerkan bahwa orang “Kristen” harus kaya dan sukses.

Ketiga, Rev. Dr. Paul (David) Yonggi Cho yang gerejanya banyak diagungkan oleh banyak pemimpin gereja Karismatik, ternyata sudah bertobat dan kembali mempelajari theologi baik-baik

Keempat, Pdt. Josep Sebastian Kawu. Mungkin nama ini tidak seberapa dikenal. Pdt. Josep Sebastian Kawu adalah mantan pendeta di Gereja Bethany Indonesia yang BERTOBAT, menempuh pendidikan theologi Reformed di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) dan sekarang menggembalakan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Graha Famili, Surabaya, satu-satunya gereja Bethel Indonesia (GBI) yang mendukung KKR dan seminar Pdt. Dr. Stephen Tong.

Kelima, seorang gembala sidang Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rehobot di Jakarta, Pdt. Erastus Sabdono, M.Th. juga mengkritik banyak kelemahan ajaran Karismatik dan mengajar Firman Tuhan dengan cukup ketat. Saya pribadi mendengarkan khotbah-khotbah beliau, di mana di dalam khotbah, beliau sering menggunakan bahasa Yunani untuk mengerti arti kata di dalam Alkitab yang ia tafsirkan. Jarang ada hamba Tuhan khususnya dari kalangan Karismatik yang studi theologi baik-baik.

Selain bergerak ke arah positif, gerakan Karismatik dewasa ini juga bergerak ke arah negatif. Dari beberapa sumber, saya mendengar bahwa “Rev.” Benny Hinn yang tidak lagi mengajarkan “theologi” kemakmuran, sekarang mulai mengajarkan bahwa Allah itu bukan Tritunggal, tetapi 9 tunggal, karena di setiap pribadi Allah yang berjumlah 3 memiliki tubuh, jiwa, dan roh (jadi 3 x 3 = 9). Selain itu, ada gereja Karismatik terbesar di Surabaya (Gereja Bethany) sedang membangun sebuah menara di Jakarta di area Bandar Baru Kemayoran yang menurut situs gereja ini (www.BethanyGraha.org) menghabiskan dana sekitar Rp 2,7 trilliun dengan ketinggian 558 meter dan luas 40.550 meter persegi (http://id.wikipedia.org/wiki/Menara_Jakarta). Dari sumber wikipedia ini, saya mendapatkan informasi tentang fasilitas yang ada di gedung ini, antara lain:

• tempat parkir seluas 144.000 meter persegi

• gedung podium setinggi 17 lantai.

• lift yang mencapai puncak menara

• restoran berputar

• mal besar

• kafe

• taman hiburan

• museum sejarah Indonesia

• hotel

• ruang serba guna/konferensi yang bisa menampung sepuluh ribu pengunjung

• ruang-ruang perkantoran seluas 8.000 meter persegi

• pusat pameran

• pusat pendidikan dan pelatihan

• pusat multimedia disertai pemancar siaran radio dan televisi

• pusat perdagangan dan bisnis

• pusat olah raga

Menanggapi dibangunnya Menara Jakarta, sumber wikipedia menyebutkan, “Theo Syafei, bekas Pangdam Udayana, mengatakan, “Lebih baik dana sebesar itu digunakan untuk pembangunan kawasan Timur Indonesia.” Karena itu, menara ini mulai dikenal pula dengan sebutan “Menara Kesenjangan.” Koran The Jakarta Post menyebutnya sebagai “tower of indifference” (menara ketidakpedulian).” Fakta lain juga mengatakan, “Presiden Komisaris pengembang proyek ini, PT
Prasada Japa Pamudja adalah Abraham Alex Tanuseputra yang menjabat sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Bethany Indonesia. Selain itu, kelompok Bethany ini seringkali menyebut proyek ini sebagai Menara Doa Jakarta atau Jakarta Revival Center.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Menara_Jakarta) Silahkan pikirkan sendiri, apakah layak “gereja” disebut “gereja” apabila memiliki sebuah menara yang diisi dengan pusat bisnis dan lagi ketua umum sinode sebuah gereja menjabat sebagai presiden komisaris sebuah perusahaan?

Setelah menyadari kengerian gejala Karismatik ini dan perubahan gerakan Karismatik ini ke arah sedikit lebih baik (dan juga buruk), sadarkah kita trend dan arus zaman yang menipu ternyata hanya tahan sebentar saja dan kebenaran sejati yang Alkitab ajarkan tak akan pernah bisa digeser oleh arus zaman. Injil sejati memang sulit dan “terkesan” tidak laku, tetapi itu yang paling bertanggungjawab dan teruji segala zaman. Bandingkan theologi Reformed dengan theologitheologi dari gereja-gereja lain, manakah yang paling berkualitas dan bertanggungjawab?! Tahukah Anda arloji buatan mana yang berkualitas? Casio buatan Jepang? TIDAK! Dari Indonesia atau Arab? MUSTAHIL. Dari negara-negara Katolik Roma? TIDAK! Dari negara-negara Budha, Hindu, Kong Hu Cu? TIDAK! Hanya negara-negara yang dipengaruhi
oleh Protestantisme (Reformed) yang bisa memproduksi arloji dan barang-barang bermutu misalnya Rolex, dll yang buatan Jerman (negara kelahiran Luther), Perancis (daerah yang dipengaruhi theologi John Calvin/Reformed), Belanda (Protestan). Kalau Toronto Blessing dari Tuhan, mengapa ajaran ini bisa reda dengan sendirinya (meskipun ada akibat kecil Toronto Blessing)? Mengapa ajaran Reformed Injili yang dulu sudah dimiliki para penginjil seperti Jonathan Edwards, Arthur W. Pink, George Whitefield, dll tetap ada/exist sampai sekarang dan diteruskan oleh hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong?! Injil Kristus yang murni tak mungkin bisa hilang dari peredaran meskipun manusia menghambatnya! Tetapi “injil” murahan pasti akan reda dan digeser oleh arus zaman yang sedang menggelora! Terserah Anda, maukah Anda dikecoh oleh berbagai fenomena-fenomena yang menipu dalam BEBERAPA gerakan Karismatik atau maukah Anda kembali kepada Alkitab dan belajar Firman-Nya dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab?!
Mari renungkanlah...AMIN

oleh : Denny Teguh Sutandio