JUBILEUM 150 TAHUN HKBP

JUBILEUM 150 TAHUN HKBP
Tampilkan postingan dengan label PASKAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PASKAH. Tampilkan semua postingan

12 April 2009

SELAMAT PASKAH

Jo hamatean di dia hamonanganmi ? Jo hamatean di dia soropmi ? (1 Kor 15 : 55)
AI NUNGA TARBONDUT HAMATEAN, NUNGA SOLUK HAMONANGAN

sian keluarga :
                      St. Henry Irawan Sianturi/Suriahati Br. Sembiring
                       Kevin Jonathan Sianturi
                        Gilbert Timothy Sianturi

11 April 2009

PASKAH 2009 (III)


PASKAH SUBUH (BUHA-BUHA IJUK)

 

Ada tradisi di orang Batak (gak hanya HKBP)…ke kuburan subuh-subuh di Minggu Paskah. Kalau ditanya, alasan nya singkat “untuk mengenangkan Kebangkitan Yesus. Kalo di program Huria sering dibuat “Mar-Buha-Buha Ijuk”.

Apa sih Buha-Buha Ijuk? Trus…sudah baik atau tepat-kah merayakan Paskah subuh-subuh di Kuburan?

Buha-Buha ijuk adalah salah satu nama jam dalam tradisi batak yang artinya pukul 4 pagi. Kalo pukul 1 pagi namanya “Haroro Ni Panangko”, kalo jam 2 pagi namanya “Martahuak Manuk I”, kalo jam 3 pagi namanya “Martahuak Manuk II”, pukul 5 pagi namanya “torang Ari” nah…kalo pukul 4 pagi namanya “Buha-Buha Ijuk”.

 

So…kalo demikian kegiatan yang dilaksanakan diatas ato dibawah jam 4 pagi berarti nggak Buha-Buha Ijuk…dong!

Okelah…kita kembali ke masalah Paskah Subuh.

Sebenarnya Paskah Subuh ini adalah tradisi Purba yang disebut dengan “Easter Vigil”.

Saya sendiripun  sewaktu kecil sampai menanjak dewasa beberapa kali mengikuti Paskah Subuh yang dilaksanakan di Kuburan. Beberapa kali di pekuburan Kristen dekat rumah di daerah Helvetia di Medan dan juga beberapa kali di Pekuburan Kristen di mana ompung bao (orang tua mama) di kuburkan disitu,  di Tebing Tinggi. Biasanya Sabtu sore kami semua pomparannya sudah tiba di rumah peninggalan ompung dari berbagai penjuru untuk merayakan Paskah bersama.

 

Tetapi semakin saya dewasa dan makin memahami Alkitab, saya fikir merayakan Paskah di Kuburan tidaklah lagi tepat. Di gereja kami sendiri HKBP Sipirok pada tahun 2007 pernah kami usulkan (dari Parhalado) agar tradisi ini dilaksanakan di Gereja saja, tapi masih ada yang menentang dengan alasan sudah tradisi bahkan ada komentar yang mengatakan : “ala na so adong do na mate muna di si”. Akhirnya kami ambil kebijaksanaan melaksanakan Buha-Buha Ijuk di Udean (Kuburan) pukul 4 pagi dan di Gereja pukul 5.30 pagi dan untuk itu Parhalado di bagi 2 tugasnya : sebagian manghobasi di Udean sebagian lagi di Gereja. Dan program ini berlangsung sampai sekarang demi menjaga kondusifitas dan kedamaian serta persatuan warga jemaat, apalagi jemaat kami kecil hanya 60-an KK dibandingkan GKPA Sipirok yang ratusan KK tapi tidak lagi mar-Buha-Buha Ijuk di Kuburan.

Sebenarnya kadang-kadang saya sendiri pun jengkel, yang paling menolak ide Kebaktian Subuh di Gereja justru tidak pernah hadir sama sekali di Kebaktian Paskah di Kuburan. Padahal…apalagi situasi cuaca saat ini yang cenderung hujan terus menerus, harus kami hobasi juga Paskah di Kuburan. Biarpun basah kuyup, asal jangan parhalado yang jadi “si surang”. He…he…he…Biasalah…kalo di Gereja-gereja yang sudah berumur masih ada “pengaruh” orang-orang lama yang sering mereka sebut dirinya “si suan bulu”.

 

Bukankah sudah jelas tertulis di Lukas 24 :5-6 :

24:5 Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?

24:6 Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea

 

Oleh karena itu…mengapa kita harus merayakan Paskah di Kuburan ? Khan lebih baik dan lebih Teologis kalo kita adakan di Gereja mulai pukul 4 pagi disii dengan Kebaktian Paskah dan kegiatan lainnya. Sudah 2 tahun ini kegiatan Paskah subuh yang kami laksanakan di Gereja sesudah dari Kuburan selalu ramai (biasanya yang mengikuti di gereja kebanyakan jemaat yang rata-rata orang perantau ke Sipirok atau orang sini bilang “halak na ro”…he…he…he….) karena sesudah kebaktian diisi dengan kegiatan mencari telur paskah dan permainan yang khusus untuk anak Sekolah Minggu. Walaupun sebenarnya sesuai dengan jam Batak, kalo mulai pukul 5.30 itu bukan lagi Buha-Buha Ijuk namanya dan tidak lagi subuh tetapi sudaj mulai menjelang matahari terbit. Hanya saja di luar gereja masih lumayan gelap.

 

SELAMAT MERAYAKAN PASKAH

PASKAH 2009 (II)



ASAL HARI PASKAH

Paskah, suatu perayaan untuk mengenang kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Gereja di seluruh dunia merayakan kemenangan Kristus atas maut, dengan doa dan pujian kemenangan. Jika Natal menandai kelahiran Kristus sebagai anak Allah yang turun ke bumi, Paskah merayakan kebangkitanNya. Kata Paskah yang diterjemahkan dari bahasa Inggris “Easter”  berasal dari festival bangsa Tetonic, yang merayakan datangnya musim semi tiap tahun

dan disebut "Eastur"; "Paques" dalam bahasa Perancis; "Pasqua", dalam bahasa Italia; "Pascua" dalam bahasa Spanyol; "Pascha" dalam bahasa Yunani dan "Paaske" dalam bahasa Norwegia. Kata “Easter” sama sekali bukan berasal dari dewa Oestar (Jerman) atau Ishtar (Babylon) yang merupakan simbol dewi kesuburan.

 

Semua kata di atas berasal dari bahasa Ibrani, "Pesah", sebuah pesta bangsa Yahudi yang dirayakan pada malam bulan purnama muncul pertama kali di musim semi. Pesta yang dalam bahasa Inggris disebut "Passover" ini menandai pembebasan bangsa Israel dari Mesir yang memperbudak mereka. Malaikat kematian dikirim Allah untuk membunuh anak pertama dari bangsa Mesir yang tak mau melepas bangsa Israel keluar dari Mesir. Malaikat tersebut melewati (Pass over) rumah-rumah orang Yahudi tanpa  membunuh anak-anak mereka. Diabad pertama sejarah gereja Katolik, hari Paskah biasanya jatuh seminggu sesudah hari raya Sabbath Passover orang Yahudi.

Pada masa kini, Paskah dirayakan antara tanggal 22 Maret dan 25 April, yang selalu jatuh pada hari Minggu. Pada abad keenam belas, Gereja Katolik menggunakan penanggalan Gregorian dan gereja Kristen Orthodox menggunakan penanggalan Julian. Akibatnya hari raya Paskah kedua gereja ini selalu jatuh pada hari minggu yang berlainan.

Salah satu tradisi hari Paskah yang masih selalu dirayakan ialah menghias telur, terutama untuk anak-anak. Dizaman dulu, telur merupakan simbol kesuburan atau rejeki. Kaum Kristen kemudian menggunakan telur sebagai simbol Tritunggal dan kebangkitan Yesus. Menyembunyikan dan kemudian menemukan telur yang biasanya dikenal dengan “egg hunting” mengajar anak kecil bahwa kita disembunyikan dari kasih Tuhan dan kemudian ditemukan oleh Yesus yang mengampuni dan mencintai kita.

 

Selamat berburu telur tanggal 12 April nanti....

Selamat Hari Paskah 2009

PASKAH 2009 (I)


PERJAMUAN KUDUS DI HARI PASKAH ?

Entah sejak kapan menjadi tradisi, dalam Lingkaran Paskah, Perjamuan Kudus diselenggarakan pada saat Jumat Agung. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah bahwa Perjamuan Kudus diadakan untuk memperingati Perjamuan Terakhir yang Yesus adakan bersama kedua belas murid (Mt 26:26-29; Mk 14:22-25; Lk 22:15-20; 1 Kor 11:23-25). Pada malam itu Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk terus-menerus mengadakan Perjamuan Kudus untuk mengingat-Nya.

Jika ini alasannya, maka mengapa harus diadakan pada hari Jumat? Bukankah dalam peristiwa passion, pada hari Jumat itu Yesus sudah disalibkan? Yesus mengadakan perjamuan terakhir justru pada hari Kamis atau malah mungkin sehari sebelumnya. Itu sebabnya hingga kini Gereja Katolik dan bahkan mayoritas Gereja Protestan di Amerika Serikat juga menyelenggarakan Perjamuan Kudus pada hari Kamis. 

Dikatakan juga, karena selain hari itu, mereka juga menyelenggarakan Perjamuan Kudus, bahkan yang terpenting dari semua Perjamuan Kudus sepanjang tahun, pada Malam Paskah (Easter Vigil) atau Paskah Subuh. [Perlu dijelaskan di sini bahwa dalam sistem liturgi, Malam Paskah dan Paskah Subuh masih dihitung sebagai satu hari yang sama, karena satu hari dimulai bukan pada pukul 00:01, namun pada pukul 18.00 hari sebelumnya.] Justru itu, agar klimaks Perjamuan Kudus pada Hari Paskah tidak terganggu, maka Perjamuan Kudus pada hari Kamis sering diadakan hanya sebagai Perjamuan Kasih (agape feast).

Pada Hari Paskah itu pulalah, sejak Gereja mula-mula, diadakan Baptisan Kudus, agar mereka yang dibaptis pada hari itu sekaligus menikmati Perjamuan Kudus pertama mereka. Jadi liturgi pada Hari Paskah itu secara umum terdiri atas empat unsur utama: Pelayanan Terang, [Disebut Pelayanan Terang karena pada hari pertama itu, umat mengenang kembali karya penciptaan Allah pada hari pertama, sekaligus bahwa melalui kebangkitan Kristus kegelapan dosa dikalahkan oleh terang kasih Allah.] Pelayanan Sabda, Pelayanan Air (Baptisan Kudus) dan Pelayanan Roti-Anggur (Perjamuan Kudus). [Hoyt L. Hickman (et. all.), The New Handbook of Christian Year; Based on the Revised Common Lectionary, Nashville, Abingdon Press, 1986, h. 192.]

Mengapa perlu ditegaskan bahwa Perjamuan Kudus diadakan pada Hari Paskah? Alasan utamanya adalah karena Hari Paska itu adalah hari Minggu! Kata "Minggu" dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Portugis (ketika dulu kita dijajah negara itu), "Dominggo" yang berarti "Tuhan". Jadi hari Minggu adalah Hari Tuhan, hari di mana Kristus bangkit. Itu sebabnya saudara-saudara muslim memilih untuk memakai kata Ahad untuk menggantikan kata Minggu.

Alkitab dalam banyak catatan yang berserakan menegaskan tradisi Hari Minggu ini sebagai hari merayakan kebangkitan Kristus. Beberapa contoh dapat dipaparkan di sini, di mana penulis Alkitab secara khusus mencantumkannya.

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya (Mat 28:1-2). Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur (Mrk. 16:2).

Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, (Luk 24:1-2)

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. (Yoh. 20:1)

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. (Kis. 20:7)

Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing--sesuai dengan apa yang kamu peroleh--menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. (1 Kor. 16:2)

Karena itulah dalam tradisi liturgis ekumenis, Perjamuan Kudus diselenggarakan selalu pada hari Minggu, khususnya tentu pada Hari Minggu Paskah. Secara teologis, itu berarti, setiap hari Minggu kita merayakan Paskah Kecil. Tradisi lain menyebutkan bahwa justru Perjamuan Kudus pada Hari Paskah itu menjadi Feast of feasts, "Perjamuan terbesar di antara semua perjamuan." Ironisnya, selama ini kita justru menyelenggarakan Perjamuan Kudus pada beberapa hari Minggu sepanjang tahun dan malah mengabaikan Perjamuan Kudus terpenting setiap tahunnya, yaitu pada Hari Paskah.

Tradisi ekumenis yang merayakan Perjamuan Kudus bukan pada hari Jumat melainkan Minggu memperoleh dasar alkitabiahnya yang paling kuat dari Kisah Perjalanan Emaus. Pada hari kebangkitan itu pulalah Yesus melakukan pemecahan roti,

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem .... Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. (Lk. 24:13, 30-31)

Apakah pengubahan tradisi dari hari Minggu Paska menjadi hari Jumat Agung dilakukan oleh para reformator? Ternyata tidak. Justru Calvin dan para pengikutnya sendiri menetapkan dalam Tata Gereja Jenewa 1561 demikian,

... Perjamuan itu harus dirayakan empat kali setahun, yaitu pada hari Minggu yang paling dekat dengan Hari Natal, Hari Paska, Hari Pentakosta, dan hari Minggu pertama bulan September pada musim gugur. ["Peraturan Gereja Jenewa, 1561, butir 73", dlm. Th. van den End (ed.), Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2000, h. 352.]

Amat jelas bahwa keempat Perjamuan Kudus yang ditetapkan jatuh pada hari Minggu sebagai hari Tuhan, hari di mana Kristus bangkit. Khusus mengenai Perjamuan Kudus kedua, diadakan pada Hari Paskah, bukan Jumat Agung.

Kalau demikian, dari mana tradisi penggeseran hari ini muncul. Sebagian orang berpendapat bahwa gereja Belanda yang datang ke Indonesialah yang melakukannya. Pandangan ini keliru, karena dalam Tata Gereja Belanda 1619, hal yang sama dimunculkan. 

Perjamuan Tuhan harus diadakan sedapat mungkin dua bulan sekali. Bila keadaan gereja memungkinkan, akan mendatangkan kebaikan jika Perjamuan diadakan pada Hari Paska, Hari Pentakosta dan Hari Natal. ["Tata Gereja Belanda, 1619, butir 63", dlm. ibid., h. 392.]

Maka, jelaslah, bahwa tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan tradisi penyelenggarakan Perjamuan Kudus pada Hari Jumat Agung. Rasanya kita perlu mengembalikannya menjadi Perayaan Iman Terbesar, yaitu pada Hari Paskah. Sesuai dengan namanya, eucharist yang berarti pengucapan syukur, kita tidak semata-mata mengingat Kristus yang menderita dan mati pada Jumat Agung, namun justru mengucap syukur atas Kristus yang bangkit dari maut pada Paskah Kemenangan itu.

ditulis oleh : Pdt Agus Wiyanto, dkk (dikembangkan oleh Gloria Cyber Ministries)