
Masa-masa Adven telah banyak dan mulai dipergunakan orang-orang Kristen untuk merayakan Natal. Perayaan-perayaan Natal yang dibuat oleh instansi pemerintah maupun swasta, sekolah-sekolah, kumpulan-kumpulan marga, bahkan yang berasal dari gereja sendiri.
Mari sejenak kita merenung, sebenar-nya untuk apa kita merayakan Natal? Manfaat apa yang kita ambil? Apa korelasi-nya dengan hidup kita sehari-hari? Apa yang perlu kita sikapi?
Yesus Kristus yang meskipun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba. band:Flp 2:6-7.
Kristus merelakan nilai dirinya yang begitu tinggi dan mengambil bagian yang begitu rendah dalam kehidupan manusia, yaitu hamba miskin, seorang awam yang mengandalkan Allah dalam hidupnya. Kiranya peristiwa ini bisa menjadi bahan permenungan untuk mensikapi kehidupan kita secara mendalam. Dalam jaman kita sekarang ini banyak manusia hanya menggembalakan dirinya sendiri, banyak menuntut supaya kepentingannya terpenuhi, tanpa peduli dengan kepentingan mereka yang ada di sekitarnya. Manusia cenderung mau merengkuh harkat diri yang tinggi, bahkan jauh melebihi kodratnya. Mereka men-Tuhankan dirinya dengan segala bentuk aplikasinya, entah benda, waktu, uang, jabatan dan kuasa. Bahkan tidak jarang manusia mengatasnamakan perintah Tuhan melakukan suatu tindakan yang merusak relasi antar manusia atau pun dengan Tuhan sendiri. Maka kiranya hari Natal, hari kelahiran Yesus Kristus, bisa menggugah jiwa kita untuk membangun kembali dunia ini menjadi suatu dunia yang indah, aman dan nyaman untuk dihuni umat manusia.
Merayakan natal juga berarti merayakan tindakan Allah yang mau menyapa, berdialog dengan
manusia dalam kemanusiaannya.
Maka Sang Firman mengambil rupa manusia. Dalam rupa manusia inilah Dia berperan sungguh-sungguh sebagai manusia. Ia lahir dari seorang perempuan, besar dalam suatu keluarga dan masyarakat. Sebagai manusia, hatiNya selalu tergerak saat melihat orang lain menderita. Ia mempunyai rasa belas kasih, iba, mencintai, sedih sebagaimana dimiliki manusia.
Maka bisa dikatakan Yesus sungguh-sungguh profesional dalam menjalankan perutusannya ini.
Pertanyaan reflektif yang bisa kita kemukakan disini adalah, apakah kita sungguh-sungguh sudah menjadi pribadi-pribadi yang menyadari tugas perutusan kita. Apakah kita lebih mementingkan mencari jatah kuasa atas yang lain atau memperhatikan kebutuhan sesama dengan seksama? Apakah kita telah membantu orang-orang di sekitar kita menjadi pribadi-pribadi yang sungguh manusiawi. Atau kita malah menghambat atau bahkan 'membunuh' perkembangan mereka. Kalau kita lanjutkan, akan muncul sederetan pertanyaan.
Kunci pokoknya adalah kalau kita merayakan tindakan Allah yang mau menyapa manusia dalam
kemanusiaannya, apakah kita juga bergembira dan merayakan kemanusiaan kita karena mampu menyapa dan berdialog dengan sesama manusia sebagai manusia?
Merayakan natal juga berarti menghadirkan kembali cinta Allah pada manusia.
Dalam diri Yesus, Allah yang mencintai manusia mau merengkuh kembali manusia dalam pelukan kasihNya. Allah tidak ingin membiarkan umatNya terpisah-pisah dan tercerai berai. Maka perayaan natal selalu mengajak kita untuk menghadirkan cinta Allah dalam suatu gerakan kasih yang timbal balik di antara banyak pribadi demi terwujudnya kesatuan umat manusia sebagai citra Allah.
Semoga di dalam merayakan Natal, kita diinspirasikan oleh makna pengosongan diri Yesus.
Kiranya cinta kasih Yesus mampu diwujudkan di dalam dan melalui diri kita masing-masing, bagi kepentingan orang banyak.
