JUBILEUM 150 TAHUN HKBP

JUBILEUM 150 TAHUN HKBP
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

06 Mei 2009

Jangan salah tulis ayat

JANGAN SALAH TULIS AYAT

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.        (Mazmur 119 : 105)

 

Si Tiur dikirimin undangan dari temannya satu kuliah dulu di Medan yang hendak menikah. Dia adalah teman baik si calon pengantin wanita yang mengirimkan undangan tersebut. Dengan penuh sukacita, si Tiur pun hendak menunjukkan kegembiraan dan kebahagiannya atas pernikahan itu, tapi…dia ini orangnya rada pelit dan super hemat. Nanti klo aku kirimin amplop berisi uang takut gak nyampe…klo aku kirimin kado, takut kadonya berantakan terbanting ato terjatuh waktu pengirimannya, demikian batinnya (tapi memang sebenarnya dasar pelit, he…he…)

Akhirnya si Tiur memutuskan mengirim telegram, yang isinya sebuah ayat Alkitab. Dia mengambil ayat 1 Yohanes 4 : 18, yang isinya berbunyi : “DI DALAM KASIH TIDAK ADA KETAKUTAN”.

 

Namun sungguh tidak beruntungnya si Tiur. Operator lupa menuliskan angka 1 di depan kata Yohannes. Tibalah saat untuk resepsi pernikahan. Pembawa acara membacakan ucapan-ucapan selamat yang disampaikan, baik berupa bunga papan, surat, maupun telegram.

 

Setiap undangan yang hadir dalam resepsi pernikahan itu sangat terkejut saat pembawa acara membacakan ayat Yohannes 4 : 18 yang berbunyi : “SEBAB ENGKAU SUDAH MEMPUNYAI LIMA SUAMI DAN YANG ADA SEKARANG PADAMU, BUKANLAH SUAMIMU. DALAM HAL INI ENGKAU BERKATA BENAR”

29 April 2009

Babi-tta do on amang....

BABI-TTA DO ON AMANG….      

 

Mahap ma disi tondingku, songon na mangan tabotabo dohot na talmis, jala las roha ni bibir ni pamanganku mamujimuji. (Psalmen 63 : 6)

 

 

Khabar mengenai virus “Flu Babi” yang lagi mewabah di Benua Amerika dan menjadi pembicaraan hangat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia…saya jadi teringat kejadian duapuluh lima tahun yang lampau di kampung (sekitar tahun 80-an),  tempat Ompung (kakek/nenek) saya tinggal di suatu desa sebelum kota Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

 

Dulu sewaktu saya masih bersekolah, mulai kelas 5 SD sampai SMP, sering berlibur  ke tempat ompung, apalagi kalau liburan naik kelas yang rata-rata hampir satu bulan lamanya. Dari Medan, kalau tidak bersama dengan orang tua, saya dititipin ke Bus “MAKMUR”, “RISMA” atau “BINTANG UTARA” sampai ke Sibolga, setelah itu nanti supir atau kenek-nya (kondektur) yang menaikkan/menitipkan saya ke Bus yang menuju Barus di Terminal Sibolga. Kalau sudah di Bus yang menuju Barus, saya sudah tau dimana harus turun untuk ke rumah Ompung. Di desa itu, selain bermain-main seharian seperti anak-anak kebanyakan, saya juga membantu ompung di sawah. Menjelang habis liburan, Bapak datang menjemput atau diantar Ompung doli (kakek) pulang ke Medan

 

Pada waktu itu yang namanya “babi”, bebas berkeliaran. Ada juga beberapa orang yang membuat kandang babi-nya, tapi kebanyakan masyarakat di kampung itu membiarkan babi-nya bebas berkeliaran mencari makanannya sendiri. Kalau di kampung, semua hewan babi adalah yang berwarna hitam dan langsing-langsing, satu sama lain susah membedakannya kecuali pemiliknya, tidak seperti babi putih yang gemuk dan berlemak karena diberi makan dedak (ampas penggilingan padi).

Babi-babi yang berkeliaran ini paling suka ngelahap “kotoran manusia”, sehingga kalau kita pergi buang air besar alias BAB ke sungai, ke dekat pancuran (pemandian umum) atau di persawahan (karena di rumah-rumah tidak ada yang namanya kamar mandi), harus selalu memegang bambu kecil, lidi atau ranting kayu untuk menghalau babi yang datang mendekat. He…he…khan risih juga BAB ditungguin sama itu babi. Apalagi klo BAB-nya malam (waktu itu listrik belum masuk, penerangan masih pake lampu teplok atau lampu gas pake kaos alias “strongking”)…tiba-tiba perasaan ada yang nempel di bokong, ketika dilihat ke belakang ternyata moncong babi itu udah nempel mengendus-endus.

 

Suatu ketika ada pengumuman dari Kantor Kecamatan yang isinya menghimbau penduduk Kecamatan Barus sekitarnya agar mengkandangkan ternak babi peliharaannya. Dan tidak boleh lagi berkeliaran. Pengumuman itu ditempelkan di tiap lapo (kedai tempat minum teh/kopi), atau di pakter (kedai tempat minum tuak) di desa itu. Apabila ada ternak babi yang masih kedapatan berkeliaran setelah batas waktu yang ditentukan, dianggap tidak ada pemiliknya sehingga akan dibunuh oleh tim dari kantor kecamatan dan masyarakat juga bebas memburu dan membunuhnya serta mengambilnya, tanpa ada yang merasa keberatan. Karena takut dengan pengumuman itu, mulailah masyarakat membuat kandang babi-nya masing-masing, tetapi masih ada juga beberapa penduduk yang membandel dan tidak perduli.

 

Suatu sore, sehabis pulang dari sawah bersama teman-teman, salah seorang dari mereka yang bernama “Saihot” tiba-tiba melihat seekor babi berkeliaran dekat lapangan bola yang berada di pinggir desa itu. Dari antara kami, Saihot termasuk anak yang berbadan tegap dan lincah. Dengan cepat ditebangnya sebatang bambu sedang secara meruncing yang tumbuh dipinggir lapangan bola itu dengan parang yang dibawanya dari sawah dan mulai mengejar babi itu sambil berteriak “adong babi…adong babi” (ada babi…ada babi). Kami pun ikut-ikutan mengejar tapi kalah cepat dengannya. Babi itupun  berlari dengan  liar menghindari kejaran Saihot sambil menjerit-jerit (ber-nguik-nguik) melewati sungai dangkal lewat lapangan bola itu menuju ke jalan raya yang membelah desa itu. Mendekati jalan raya babi itu tersudut  dan dengan cepat si Saihot menghujamkan bambu yang dipegangnya  tepat di lambung babi itu dan babi itupun terkapar berlumuran darah. Nga dapot…nga dapot  (sudah dapat…sudah dapat) teriak Saihot kesenangan. Orang-orang pun ramai mendekat. Saihot pun tersenyum bangga membayangkan babi itu bakal miliknya dan bakal makan daging babi nanti malam. Dengan sigap diikatnya babi itu di batang bambu tadi dan mengajak kami ramai-ramai mengangkatnya ke rumah-nya yang berjarak sekitar 50 meter dari situ. Masih dihalaman rumahnya, dia sudah  berteriak…Bapa…Bapa….Omak…dapot au babi! (Bapak…Bapak…Emak…aku dapat seekor babi). Mendengar itu dengan tergopoh-gopoh, Bapak dan mamak si Saihot ke luar dari rumahnya menjumpai kami. Babi sian dia…(babi dari mana) langsung bapaknya bertanya. Kami menurunkan babi itu ke tanah, lalu kata si Saihot kepada orangtuanya, “Bereng ma Bapa-Omak, tarbereng au nangkin babi on di parbalan-an, manigor hulele sahat tu pinggir  dalan na tigor an, dapot au, langsung hupamate. Jago do au, khan? Lompa omak ma asa mangan juhut babi hita.  *(Lihatlah Pak-Mak, kulihat tadi babi ini di lapangan bola sana, langsung kukejar sampe ke pinggir jalan yang lurus itu, dapatku, langsung kubunuh. Hebat aku, khan? Mamak masaklah biar makan daging babi kita).

Bapak dan mamak si saihot pun memperhatikan babi itu dengan seksama…tiba-tiba saja mamak si Saihot berkata dengan sedih, “Memang jago do ho Amang…dapot ho do babi on, alai bereng ma nei…babi-ta do on na dihujur mon…na lupa do au nangkin pamasukhon on tu tombara ni jabunta…*(Memang jago-nya kau, nak…bisa kau dapat babi ini, tapi lihatlah…babi kita-nya ini yang kau tombak ini…yang lupa nya aku tadi memasukkannya ke kolong rumah kita…)

  

 

23 April 2009

TURUN HO...JUDAS!

TURUN HO…JUDAS!

 

Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."   (Yakobus 4 : 6)

 

 

Kalau di bona pasogit, seseorang yang menjadi Parhalado (pelayan) di Gereja, yaitu Sintua (Penatua Gereja) memiliki kewibawaan tersendiri dibanding jemaat maupun masyarakat biasa. Tempat duduknya pun di Gereja biasanya di depan dan tersendiri. Bicaranya selalu di dengar dan dalam acara-acara adat maupun kebaktian doa (partangiangan) yang dilaksanakan di rumah-rumah, selalu diperhatikan, tempatnya duduk harus ditengah (dijuluan) dan tikarnya khusus, “…di son ma hamu hundul sintua nami…” kata yang punya rumah maupun jemaat, biarpun  sedang tidak bertugas membawakan acara. Apalagi kalau sintua yang bersangkutan termasuk pula “si suan bulu” alias barisan orang-orang dulu yang (menganggap dirinya) sebagai pendiri gereja. Omongannya adalah yang selalu benar, tidak pernah salah. Meminta maaf adalah suatu hal yang sangat “bergengsi”.

 

Begitulah yang terjadi dengan Bapak-nya si Tiur. Beliau adalah seorang sintua Gereja HKBP di suatu luat di Tapanuli. Beliau juga termasuk sisuan bulu di gereja tersebut. Walaupun sudah termasuk uzur dan suka lupa alias pikun,…bawaannya selalu pingin tampil, berwibawa dan omongannya pun dibuat seolah-olah tegas. Pendeta maupun guru jemaat pun”harus bisa” diaturnya. Suatu ketika yang menjadi tuan rumah (na manjabui) partangiangan lingkungan adalah keluarga Pendeta. Kebetulan Guru Jemaat (guru huria) yang harus bertugas membawakan khotbah di partangiangan itu ada urusan ke Kantor Pusat di Pearaja-Tarutung sehingga harus digantikan. Kalau pak Pendeta tidak mungkin berkhotbah di partangiangan yang dilaksanakan di rumahnya sendiri. Hal ini menjadi pembicaraan di Bilut Parhobasan (konsistori) Gereja di antara sesama sintua. Tapi dengan suara yang lantang, bapak si Tiur berbicara, “au ma annon tu si, sarupa do dijabu ni pandita nang jabu ni ruas, aman ma i…..”  (akulah nanti kesitu, samanya di rumah pendeta maupun di rumah jemaat, aman lah itu). Tanpa ada yang membantah, jadilah bapak si Tiur yang berkhotbah di partangiangan di rumah Pendeta.

 

Tibalah hari dan waktu partangiangan dilaksanakan. Biasanya kalau di rumah Pendeta maupun Guru, yang mengikuti selalu ramai. Parhalado pun hadir semua. Si Tiur duduk di sebelah bapaknya, karena bapak-nya duduk paling ujung di barisan Parhalado. Selesai menyanyikan beberapa ende dan berdoa, tibalah giliran bapak si Tiur untuk berkhotbah.

 

Topik khotbah pada saat itu adalah mengenai Zakheus, ketika Yesus memasuki kota Yerikho. Dengan suara yang keras dan penuh semangat amang sintua kita ini berkhotbah, “Jadi…di hamu angka dongan, di tingki dibege si Judas naeng mamolus ma Yesus…manaek ma ibana tu sada hau galagala na timbo, anggiat boi diida Ibana…” mendengar hal ini sadarlah si Tiur, bapaknya sudah salah. Lalu di tarik-tariknya celana bapaknya, seraya berkata setengah suara (tapi masih terdengar jemaat lainnya): “ndang si Judas, Bapa…sala do i, si Sakheus do. Tersadarlah bapak si Tiur, tapi bukannya meminta maaf dan mengulangi, …malah kemudian berkata dengan cueknya, “oh…olo…alai ro ma si Sakheus sian toru ni hau i mandok tu si Judas,…turun ho Judas! Ai ndang ho aturanna na manaek tu hau i, au do…na pamalo-maloon do ho…”

(jemaat lainnya sambil senyum simpul) : #%?*^_+@?

21 April 2009

Ndang au i Bapak...ndang au i Omak...


NDANG AU I BAPAK….NDANG AU I OMAK….


Parompuan na marhuaso do tumpal ni harajaanna, alai songon bisa na manggagat tu holiholina do anggo parompuan sibahen haurahon. (Poda 12 : 4)

 

Asi do roha molo adong dakdanak, atik pe naung lam magodang, alai maol mampartahanhon pingkiranna mangalusi sungkunsungkun ni guru di sikola na. Molo masa sisongoni aha do mambahen i ?


Lao patorangkon i, hea do sada barita na manarik begeon, jala geok. Ala ninna godangan do pangalaho sisongoni ditontuhon pangalaman ni dakdanak i tingki di jabu, tarlobi ala ditindos Amana manang Inana di jabu. Hea do pengalaman ni sahalak dakdanak baoa songoni.

Di jabu ganup ari do ibana hona badaan. Molo adong na mago, pintor sai ibana do disangka Inana mangulahon i. Okui nuaeng, ningku. Ho do mambuat tintinhu nangkin hupeakkon di ginjang di meja on. Molo dialusi anakna i mandok, ndang au I Omak, habis ma ibana digotili dohot dibalbali. Sombahu, ndang au mambuat i, dungi habis ma ibana hona lili. Manang aha pe na masa dijabu, sai ibana do ditudu mangulahon i. Molo habis indahan manang jagal arian, pintor pinggol ni ibana do ditarik-tarik inana. Jala hona hata na koras situtu. Habis sude dirojanhon ho, ate. Molo dialusi ibana, ndang au i Omak, habis ma muse ibana dimuruhi, digotili, jala diusir sian jabu. Jadi pangalaho sisongoni, ndang longkang be i sian parningotanna. Nungga tung tarpasi, nungga tung tarutok i bagas hian taruhir tu rohana dohot marungkor tu bagasan pingkiran primitip na.


Hansit hian do molo sanga halak sahat tu pengalaman sisongoni dingolu ni dakdanak. Sipata ndang apala mullop i ganup tingki, alai molo adong pengalaman na sarupa na hira mamaksahon ibana ingkon mangalusi, disi ma tompu mullop i sian pingkiran parbagasanna. Nang pe boi sipatasipata tartahan ni halak i asa unang mullop pengalaman sian sihaetehon i. Alai sipata tudos do songon borsang ni kopi na dipaindo di galas. Dung leleng kopi i di galas i, mido ma deba, alai laos na umpangket nai turun ma tu toru. Tarlobi molo ngali kopi i, borsang nai pangket ma i.

Alai molo ro siinum kopi i, lao mangkoncok i disi ma pintor nangkok muse borsang ni kopi i tu ginjang. Songoni ma nang pengalaman ni sahalak dakdanak nang pe naung dewasa ibana, gariada nang pe naung sahat tu na matua ibana, boi do manombo angka pangalaho na sarupa sisongoni.


I ma na masa tu dakdanak baoa i tingki SMA ibana. Na mullop do pengalaman sihaetehon nai. Na marbonsir do I, uju hea sahalak guru na manungkun angka murid na. songonon : ise sian hamu na umboto, ise ma manurathon dekrit Presiden. Ala so adong na martudu, gabe tubu ma roha ni guru i mangungkun tu sada halak sian murid nai. Ditudu guru ma si bayo i, ima dakdanak na sai jotjot disangka Inana i sian sihaetehon na i. Dung diulahi Guru i sahali nari mandok tu ibana, tung denggan do dialusi ibana, jala mansai hatop situtu. Alushu Guru nami, “ndang au i Bapak Guru”. Ro ma  muse Guru i manungkun sian longang ni rohana. Ndang ho na husungkun, alai ise manurathon dekrit Presiden i. Alus na hot songon siparjolo i, “tung singtong ni na mangolu guru nami, ndang au Bapak Guru manurat i.” Lam muruk ma guru i mandok hata na, lam angka dotdot dakdanak i, jala tanpa sadar sai didok ibana lam hatop: “ ndang au i Bapak,…ndang au Bapak…,ndang au Bapak.” Gabe bingung sandiri ma Guru, au do na loakon ulaning, manang naung rintik do dakdanak on, ninna rohana dibagasan. Ai naung loakhon do ho huroha, ninna guru i.


Bingung guru i, sian muruk ni rohana didok ma:  “antong mulak ma ho, ndang boi be ho marsikkola dison, saleleng so diboan ho natoras mu tuson.” Mulak ma ibana tu jabu, hape antar jam 9 manogot dope tingki i. Dung sahat dijabu didok Inana ma, ai beasa mulak ho amang, ai ndang sikkola ho, naung libur do hamu? Sikkola do Omak, alai disuru guru do au mulak. Ninna, ndang boi be au sikkola disi saleleng so ro Omak mandapothon guru i. Ba, aha huroha na masa, aha salam Amang. Ndang dipaboa guru i. Annon ma dipaboa guru i ninna tu Omak. Antong molo songoni lao ma hita, nungga ganjing tutu i. Dung songoni borhat ma nasida. Nungga di kantorna hundul guru i margundokpong. Disi sahat tu sikkola i pintor langsung ma Ina dohot dakdanak i manjumpangi guru i. Nungga mombun be nang rimas ni guru i. Dijangkon do nasida mansai uli.


Didok Inanta i ma manungkun guru i, ai tung apala aha do Bapak huroha sala ni dakdanak on. Dialusi Guru i ma, nian ndang apala na sala Ibana, alai tung na so huantusi do alaus na mangalusi sungkunsungkunhu. Aha huroha sungkunsungkun ni Bapak tu dakdanakhon, ninna Omak ni dakdanak i. Diulahi Guru i ma sungkunsungkun na i. On do husungkunhon tu ibana. Ai ise do diboto ho na manurathon Dekrit Presiden ni Indonesia. Holan dibege Omak nai songoni. Ninna ma, molo i do hape tutu sungkunsungkun ni gurui, aha ma maol ni i. Alai humusor ma Omakna i disungkun ma anakna i. Atehe anaha, aha huroha didok ho mangalusi. Ai ise do huroha tutu manurat Dekrit ni Presiden i, na ho do Amang manang ndang ho. Molo ho do antong, ba okui ma.


Dialusi dakdanak i ma muse tu Inana i. On do hudok Omak tu Guru i, ndang au manurat i Bapak. Dungi didok Bapak Guru muse, ndang ho na hudok, ise manurathon dekrit ni Presiden. Alushu hot do Omak, ndang au ningku do.


Dung songoni gabe didok Inana i ma tu Guru I mardongan muruk. Ai dia do tutu, didok si adui on ai so ibana. Molo so ibana do antong, beasa muruk Bapak i. Ai so ibana ninna, antong Bapak i do manurathon i hape. Holan didok Inanta i songoni, hohom ma guru i, na dos do hape hamaloon ni nadua on, ninna dibagasan rohana. Diorom ibana nama muruk na, gabe didok Guru i ma, ima tutu Inang, ndang ibana Inang na sala tutu, au do na sala ninna guru i. Ai husungkun sungkunsungkun na so tangkas diboto dakdanak on. Hape Inang pe dos do alusmu. Ala Inang pe ndang huantusi, jadi… mulak ma hamu, ninna Guru i. Guru i pe mulak ma, jala sai mangupirupir. Mulai sian i, gabe sai marpingkir ma Guru i, ai beasa songon i ulaning, loak nasida.


Dung pe leleng ditangkasi Guru i, asa diboto aha sialana. Dungi dapot ibana ma alusna. Na boi do hape hakorason na nialaman ni halak sian sihaetehon na manggompang dingolu ni halak sahat tu na magodang.
Ala ni manat ma hita natua-tua mangajari ianakhonta. Unang sai tapaksa ianakhonta mangokui na so ibana mangulahonsa. (dari : "Gait na pabidang panatapan" Pdt. Nelson F Siregar)

 

18 April 2009

TARUTUNG-SIBOLGA

Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
(Yakobus 5 : 8)

Pada saat liburan naik kelas, ompung si Joni bertelepon ke orangtuanya di Medan, agar si Joni ke kampung mereka. Maklumlah...pahompu panggoaran (cucu laki-laki tertua dari anak tertua), ompungnya sudah rindu. Karena masih sibuk dengan usahanya (maklumlah orangtua si Joni jual "bumbu jadi" di Pasar Petisah, Medan) maka diputuskan si Joni dikirim aja melalui Bus, nanti ompungnya yang jemput di stasiun Bus. Jadilah mama-nya mengantar si Joni yang  yang masih berusia 7 tahun itu ke Stasiun Makmur di kawasan Marindal, Medan naik Bus jurusan Medan-Sibolga. Mamanya berpesan pada pak supir," Amang..., titip anak saya ya? Nanti kalo sampe di Tarutung, tolong kasih tau anak saya."

Sepanjang perjalanan, si Joni cerewet sekali. Sebentar-sebentar ia bertanya pada penumpang, "Udah sampe Tarutung belom?" Hari mulai malam dan anak itu masih terus bertanya-tanya. Penumpang yang satu menjawab," Belom, nanti kalo sampek pun dibangunin  nya kau sama keneknya (kondektur bus)! Tidur aja!" Tapi si Joni tidak mau diam, dia maju ke depan dan bertanya pada supir untuk kesekian kalinya." Pak, sudah sampe Tarutung belom?"

Pak Supir yang sudah lelah dengan pertanyaan itu menjawab," Belum! Tidur aja lah kau ya! Nanti kalo sampek Tarutung, pasti dibangunin!"

Kali ini, si Joni tidak bertanya lagi, ia tertidur pulas sekali. Karena suara si Joni tidak terdengar lagi, semua orang di dalam Bus lupa padanya, sehingga ketika melewati Tarutung, tidak ada yang membangunkannya. Apalagi jalan Tarutung-Sibolga  penuh dengan kelokan  sehingga dapat membuat penumpang mabuk. Bahkan sampai melewati Batu Lubang yang terkenal rawan dan Bus harus lambat, serta Bus sudah menjelang Terminal  Tarutung si Joni tertidur dan tidak bangun-bangun. Tersadarlah si supir bahwa ia lupa membangunkannya.

Lalu ia meminggirkan  Bus-nya di pinggir jalan Sibolga sebelum terminal, dan bertanya pada para penumpang," Amang - Inang
(Bapak-ibu), gimana nih, kita antar balik gak anak ini?" Para penumpang pun merasa bersalah karena ikut melupakan si Joni dan setuju mengantarkannya kembali ke Tarutung.

Maka kembalilah rombongan bis itu mengantar si Joni ke Tarutung. Sesampai di Tarutung, si Joni dibangunkan. "Nak! Udah sampe Tarutung! Ayo bangun!" Kata si supir. Si Joni bangun dan berkata, "O, udah sampe yah!" Lalu membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makanannya.

Seluruh penumpang bingung. "Bukannya kamu mau turun di Tarutung?" tanya si supir kebingungan. "Nggak, saya ini mau ke Sibolga, ke tempat ompung. Kata mamak, ...kalo udah sampe Tarutung, saya boleh makan nasi kotaknya!"
(Supir dan penumpang : ?%#*@)

15 April 2009

Naeng mar-hand phone

NAENG MAR-HAND PHONE
Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin  (Amsal 17 : 27)

Hea ma adong sada ama-ama sian huta pardomuan jonokhon Tiga lingga Kabupaten Dairi, sukses besar dalam bisnis durianna. Panen durianna lumayan do hampir mencapai pendapatan 10 juta dalam 1 bulan. Alani lumayan do untung na, gabe kepingin ma amanta i laho mar handphone songon naung ni nipi-nipihon salelengon.

Laho ma amatta i tu sada toko handphone di bilangan segitiga emas Sidikalang, alias jalan Sisingamangaraja. Songonon ma terekam pembicaraan antara amanta i dohot par toko handphone on:

A : "Ai laho manuhor handphone au lae, na songon dia do na pas di natua-tua songon au. Argana hira-hira 1 tu 2 juta. Ai nasai do pe adong hepengku."

TH : "Ohh... adong amang, type na NOKIA 3260, balga-balga do tombol na, dang susa amang molo lau mamiccit nomorna. On ma contoh na amang. Argana holan 1,5 juta do."

A : "Boi .. boi ma i. Baen ma dohot nomor na sekalian. Pasang ma sekaligus, dang hupaboto-boto mamasang i, sekalian ma dohot pulsana."

TH: "Boi amang, on ma nomor na, pillit hamu ma. Molo pulsana, na sadia ma ta baen amang, adong 25 ribu, 50 ribu dohot 100 ribu."

A : "Ai hamu ma mamillit nomor nai, baen ma nomor na bagak. Molo pulsanai si 100 ribu ma baen."

TH : "Boi amang, alai sebelum hupillit no nai, ambal-ambal ni hata...ai didia do halak amang tinggal?"

A : "Di pardomuan, jonok do tu tigalingga"

TH : "Ohh... alai hurasa amang, dang adong dope sahat jaringan tu Pardomuan."

A : "Ima... ima .. nga boi i . Baen ma 100 ribu dohot jaringan na i, bila porlu 200 ribu pe boi, asa unang mulak-ulak iba tu Sidikkalang on."

TH : "???!!??"

Pamate tape-muu asa hupamate dakdanakhon

PAMATE TAPE-MU ASA HUPAMATE DAKDANAKHON

Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat. (Amsal 13 : 10)

Terdengar sebuah pertengkaran antar keluarga di suatu kompleks DPR (Daerah Pinggiran Rel) di Medan. Karena kesal tidur siangnya terganggu sehabis pulang marengge-rengge akibat suara musik lagu Batak yang sangat keras yang di putar tetangga-nya (maklum...baru beli sekalian pamer) seorang Ibu separuh baya pun menyuruh ke 7 anaknya untuk memukul-mukul dan membunyikan benda-benda dapur (piring, kuali, dll) sambil berterak-teriak agar suasana imbang.
Memang ... benarlah imbang karena tetangga sebelah yang membunyikan musik itupun mulai merasa terganggu, karena suara yang dikeluarkan anak-anak sebelahnya itu tidak beraturan, cempreng dan menyakitkan telinga. Maklum jarak rumah mereka hanya 1 meter. Lantas keluarlah seorang Ibu separuh baya pula (Ibu A) dari rumah yang membunyikan musik keras-keras tadi.
Ibu A : Hoiiiiiii....Omak ni si Borjong..(dengan suara lantang dan keras)
  Na ribut ma baba ni dakdanak mi..... Ai ndang boi jo di pasip ho..?
  (yang ributlah mulut anak-anakmu itu..apa gak bisa lagi kau diamkan?...)
Ibu B : Ho do na ribut... (juga lebih lantang) Ai soara ni tape mu pe sahat tu langit. 
  Gabe ndang boi iba modom
  (kau nya yang ribut...suara tape mu pun sampe ke langit. jadi gak bisa aku tidur)
Ibu A : Alai kan tabo ? (masih dengan lantangnya)...Anggo ribut ni anak-anakmu..
  nga naeng kaluar tukkik ni pinggol  hon....Ndang boi be di pa so ho ?
  (khan enak...kalo ribut anak-anakmu...sudah mau keluar kotoran telingaku ini..
  nggak bisa lagi kau diamkan?)
Ibu B : (tanpa sadar) Toema anggo songoni...pamate ma tape-mu...asa hupamate 
  dakdanakhon.....
  (kalo begitu...matikan lah tape-mu itu...biar kumatikan anak-anak ku ini....)
Tetangga
lain : ??????????????

Tiga Dolok Ke Saribu Dolok

TIGA DOLOK KE SARIBU DOLOK

 

Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan (Amsal 3 : 7)

 

Si Martogi, adalah pengusaha sukses di Jakarta. Biarpun otak dan tampang pas-pas an (cuman sampe SD) namun hidupnya ulet. Dia mengambil jurusan bisnis mengumpulkan barang-barang yang gak terpakai lagi, ato kalo di Medan dibilang “botot”. Lumayanlah…keluarganya dapat dikatakan sudah sejahtera.

Sudah lama beliau merencanakan pulang ke  Sumatera, ke kampung ompung-nya di Saribu Dolok rame-rame dengan seluruh keluarga. Lahir dan besar di Jakarta, baru sekali dia ke kampung ompungnya itu, itupun ketika masih kecil. Karena rombongan, mereka memutuskan lewat jalan darat alias pakai mobil, lumayan…skalian bisa pamer sama kerabat bapak dan ompungnya nanti di kampung …sudah jadi orang di Jakarta.

Singkat kata…dua hari di perjalanan, mereka sudah melewati Danau Toba – Parapat menjelang kota Siantar. Dekat sebuah Puskesmas di pinggir jalan raya, si Martogi pun meminggirkan mobilnya, dengan niat hendak bertanya kepada serombongan pegawai Puskesmas yang baru pulang kerja.

Martogi                       : (dengan gaya pede sambil pakai kaca mata hitam dan bahasa

                                      Batak yang pas-pas an). Horas..Ito…

Rombongan pegawai  : Bah…Horas…Ito…

Martogi                       : Nga di dia on nuaeng?...aha do goar ni huta on?

                                      (sudah dimana ini sekarang…apanya nama kawasan ini?)

Salah seorang dari       : Oh…Tiga Dolok…Ito..

Pegawai

Martogi                       : (dengan mimik bingung campur lelah dan kesal)..

                                      ..o o o..dao nai hape…

                                       (o o o ..masih jauh rupanya)

Pegawai yang lain       : Ito mau kemana rupanya? Nampaknya rombongan mudik dari

                                      Jakarta, yah… (karena dilihat mobil si Martogi plat B)

Martogi                       : Iya nih..Ito…Kami dari Jakarta. Sudah dua hari di perjalanan,

                                      Mau ke kampung ompung di Saribu Dolok. Makanya aku sedikit

                                      kesal, soalnya Ito itu bilang tadi ini masih di Tiga Dolok.

                                      Berarti kan…ada sembilan ratus sembilan puluh tujuh kampung

                                      Dolok lagi yang harus dilewati. Berapa hari lagi pulak..lah itu?

Rombongan pegawai  : ?????????????????